Skip to main content
Categories
Her Story

Kenangan 1998, Solo Membara

Penulis: Early Kusuma

Solo, Mei 1998.

Laila sedang naik bus dari arah Palur menuju ke kosannya di daerah sekitar minimarket Relasi di dekat daerah Makamhaji dan Gatak dan pada saat itu situasi politik sedang tidak kondusif dan belum stabil pasca kerusuhan Mei 1998.

Kebetulan Laila tidak dapat tempat duduk di bus, jadi dia hanya bisa berdiri berdempetan dengan para penumpang bus lainnya.

Lamunannya pada saat berdiri tiba-tiba ter-distract, dengan pemandangan beberapa langkah di depannya.

Dia melihat seorang wanita muda bermata sipit dan berkulit kuning langsat.

Laila melihat, di sekitar si Cici muda itu berdiri, dia dikelilingi laki-laki yang menatapnya dengan mata penuh ‘kemarahan dan ketidaksukaan’ pada si Cici tersebut.

Bahkan sempat ada yang sengaja menyenggolnya dan Cici tersebut wajahnya pucat pasi, terlihat dia sangat ketakutan dengan kondisi dia pada saat itu.

Ketika Laila hampir sampai ke daerah mini market dan segera turun, dia merangsek masuk ke lingkaran tempat cici itulah berdiri dan langsung berbisik, “Mba…, ikut saya turun abis ini ya, cepat-cepat saja.”

Si Cici langsung meng-iya-kan permintaan Laila tanpa sepatah katapun.

Laila menatap sekeliling bus, ternyata hanya ada 2 wanita saja di dalam bus itu, dirinya dan si Cici itu.

Setelah mendekati minimarket, dia langsung mengajak si Cici itu turun bersamanya.

Dan tentu saja, para lelaki di sekitar mereka yang matanya jalang seperti serigala yang mau memakan mangsanya seperti tidak percaya, ketika Laila mengajak Cici itu turun dari bus yang mereka tumpangi.

Begitu turun dari bus, Laila langsung bertanya pada Cici tersebut, “Mba, baik-baik sajakah? Mba mau pulang ke arah mana?”

“Saya mau pulang ke arah Kartosuro mba,” jawab dia.

“Oh, mau ke Kartosuro? Mba tidak apa-apa sampai ke Kartosuro naik bus sendirian lagi? Mau saya antar mba sampai Kartosuro?” tanya Laila lagi ke Cici tersebut.

Wajah Cici tersebut tampak bingung.
“Ya udah mba, saya anterin mba sampai Kartosuro ya. Saya antar sampai lokasi,” kata Laila lagi padanya.

“Tidak usah mba, merepotkan malah,” jawab si Cici lagi.

“Ga ngerepotin mba”, saya antar sampai tempat ya.

Akhirnya mereka berdua nungguin sampai bus ke arah Kartosuro datang dan mereka berdua naik bareng.

Setelah sampai di daerah Kartosuro, Laila benar-benar memastikan kalau si Cici ini dalam keadaan aman begitu turun dari bus dan berjalan menuju ke arah rumahnya yang kata si Cici itu tidak jauh dari jalan raya.

Setelah melihat si Cici pergi, akhirnya Laila cari bus lagi yang menuju ke arah kosannya.

Laila merenung di bus. Entah bagaimana jika dia dalam posisi seperti si Cici itu tadi di dalam bus, situasi masih sangat rawan, hanya beberapa hari setelah kerusuhan besar yang terjadi di Solo.

Bahkan sisa-sisa pembakaran mall-mall dan usaha milik orang-orang “Non Pribumi dan Pribumi” yang ada di dekat jalan raya di daerah Solo masih sangat jelas tampak.

Informasi yang didapatkan Laila setelah kejadian itu dari berbagai sumber, dampak kerusuhan Mei 1998 di Kota Solo adalah rusak dan dibakarnya 27 pusat perbelanjaan, 217 toko, 287 mobil dan truk, 570 sepeda motor, 24 showroom, 12 rumah makan, 6 perkantoran dan bank, dll.

Sampai menyisakan trauma juga, sejak saat itu Laila tidak berani nonton film di bioskop (yang ada di Mall) lagi, karena santer terdengar banyak sekali korban kebakaran di mall yang ada bioskopnya itu.

Dan dia baru bisa keluar dari kosannya sehari setelah kerusuhan. Semua kerusuhan dan pembakaran dengan jelas bisa Laila lihat bersama dengan teman-teman satu kosan dari atas atap kosan mereka.

Karena kebetulan kosan mereka tingkat 3, jadi mereka bisa dengan leluasa melihat dari lantai paling atas di area jemuran baju.

Sedih dan bergidik melihatnya.

Apalagi di hari kerusuhan itu, Laila di pagi harinya masih sempat ke kampusnya di daerah Kartosuro.

Tak dinyana menjelang siangnya, ternyata di hari itu terjadi demo mahasiswa besar-besaran.

Laila kebetulan dengan teman satu kosannya, Arti, pergi ke kampus untuk kuliah.

Ternyata setelah sampai kampus, kondisi kampus menjadi sangat tidak kondusif.

Mahasiswa merangsek ke depan, para aparat keamanan juga merangsek ke dalam.

Gas air mata mulai ditembakkan ke arah mahasiswa dan ke arah dalam kampus.

Mata Laila perih dan susah bernapas, suasana sangat chaos pada saat itu.
Untuk pulang ke kosannya sudah sangat tidak mungkin, karena ada demo besar-besaran dan juga pembakaran merata di seluruh kota.

Ketika suasana sudah benar-benar sangat chaos, tiba-tiba ada salah satu kakak kelas Laila yang mengajak Laila dan Arti untuk lari meninggalkan kampus memakai motornya.

Jadi mereka bertiga cenglu…, boncengan bertiga, ngebut, berhasil keluar dari lingkungan kampus yang masih rame di-demo dan ditembak banyak gas air mata.

Akhirnya Laila dan Arti sampai ke kosannya.

Namun begitu sampai kosannya, si kakak kelas ini langsung pergi dan sampai sekarang mereka tidak tahu siapa nama kakak kelas penyelamat mereka berdua itu, bahkan belum sempat berterima kasih juga padanya.

Suasana amat sangat mencekam pada saat itu.

Hampir semua mahasiswa yang sedang kuliah pada saat itu, tidak ada yang berani keluar dari kosannya masing-masing karena kondisi benar-benar chaos.

Laila dan teman-temannya hanya bisa melihat dari atas kosan mereka, semua bangunan mall, bioskop dan bangunan-bangunan besar lainnya habis dimakan si jago merah di banyak titik di kota Solo.
Kepulan asap sangat terlihat jelas pada saat itu.

Laila berdoa semoga semuanya baik-baik saja.

Sampai akhirnya di keesokan paginya, Laila dan teman-temannya berbondong-bondong pergi ke warnet untuk menelepon orang tua mereka dan mengabarkan bahwa kondisi mereka dalam keadaan aman.

Telah 25 tahun sudah dari kejadian itu, tapi Laila sampai sekarang masih belum bisa melupakannya kejadian yang terjadi pada hari itu dan beberapa hari mencekam setelah itu.

Semoga Indonesia selalu baik-baik dan aman-aman saja. Tidak ada yang memecah-belah dan tidak ada sekat-sekat kemanusiaan di dalam kehidupan sehari-hari.

Web kolaboratif, konten adalah tanggung jawab penulis (Redaksi)

Subscribe our newsletter?

Join Newsletter atau Hubungi Kami: [email protected]

Inspirasi
BelanjaKarirKecantikanKehidupanKeluargaIndeks
Let's be friends