Her Story: Aku Istri dan Ibu yang Tak Berguna

1
792
Ilustrasi: pixabay.com

Prabarini

Saya ibu dari seorang anak perempuan yang sudah mandiri sekarang. Saat ini ia sudah bekerja dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2 di luar negeri.

Saya sudah 2 kali menikah, yang pertama berakhir dengan perpisahan, yang kedua masih berlangsung sampai sekarang sudah masuk tahun ke-14.

Pernikahan saya yang pertama diakhiri karena ada KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga). Anak saya waktu itu baru berusia 4 tahun, ia ikut dengan saya.

Saya galak terhadap anak saya. Entah apa yang ada dalam otak saya saat itu yang jelas saya melihat anak saya itu fotokopi papanya. Saya sakit hati kepada papanya, melampiaskan sakit itu ke anak. Kalau dia salah sedikit, saya gebuk. Nilai jelek, saya cubit (nilai jelek menurut saya itu kalau kurang dari 8). Belum ditambah omelan-omelan saya. Anak saya sampai ‘kenyang’ saya kerasi, fisik dan mentalnya babak belur.

Saya akui memang sewaktu menikah, kami tidak direstui oleh keluarga 2 belah pihak, karena perbedaan agama.

Dua tahun setelah itu, mantan suami saya meninggal dunia.

Lalu saya bertemu dengan seseorang yang kemudian menjadi suami saya. Awalnya ia dalam kondisi sakit hati karena baru saja patah hati dengan pacarnya yang masih ia cintai. Kami saling curhat. Sampai ia tau bagaimana perlakuan saya ke anak saya. Dia tidak suka dengan apa yang saya lakukan ke anak saya. Lalu ia memutuskan untuk menikahi saya, tapi syaratnya saya tak lagi menangani anak saya.

Suami saya yang kedua, baiknya luar biasa. Ia menikahi saya karena faktor kasihan kepada anak saya, dan untuk mengobati luka hatinya dari patah hati.

Pernikahan kedua saya ini tidak disetujui oleh keluarga suami karena status saya janda dan usia saya yang 7 tahun lebih tua dari suami. Tapi kami tetap nekat.

Saat itu usia anak saya sudah 10 tahun. Anak saya benar-benar berkembang baik di tangan papa barunya.

Tahun ke-3 pernikahan, saya hamil tapi bayi kami tidak selamat. Saya melahirkan prematur, 7 bulan. Bayi laki-laki itu hanya bertahan 2 jam.

Semenjak itu saya tidak bisa hamil lagi. Saya dan suami sedih sekali tapi suami saya masih berusaha membangkitkan semangat saya. Toh kami sdh punya 1 putri walaupun itu bukan putri kandungnya.

Saya tau sekali suami saya ingin anak laki-laki. Tapi ia ikhlas tidak bisa punya anak dari saya. Ia tetap menerima saya apa adanya.

Sebaliknya, saya tidak bisa menerima kenyataan saat itu. Saya tidak ikhlas. Pelariannya jadi rusak.

Saya selingkuh…!

Saya pikir impas, karena menurut saya suami saya sendiri masih tidak bisa lepas dari bayang-bayang mantan pacarnya.

Perbuatan saya akhirnya ketahuan. Namun suami saya memaafkan saya waktu itu. Saya pikir mungkin karena ia juga sebenarnya tidak mencintai saya.

Ketika putri saya lulus SMA, ia memilih untuk kuliah di luar kota karena tidak kuat hidup dengan saya. Saya tetap ibu yang kaku dan sulit berubah.

Bersamaan dengan itu kesehatan suami saya pelan-pelan menurun.

Sepertinya stress sekali hidup dengan saya. Saya sendiri juga stress karena merasa tidak berguna menjadi istri dan seorang ibu.

Sampai akhirnya saya rusak lagi. Selingkuh lagi…!

Kali ini putri saya tau. Lalu ia mengultimatum saya, “Lepas dari PIL (pria idaman lain) atau sebaiknya pisah saja.” Kalau cerai, putri saya lebih memilih ikut dengan suami saya.

Dari situ, saya mulai merasa takut kehilangan putri saya. Biarpun ia lebih dekat dengan papa barunya tapi ia putri kandung saya.

Saya mulai merenung. Kurang apa sebetulnya hidup saya? Saya benar-benar orang yang tidak bisa bersyukur.

Suami saya masih tetap memaafkan saya. Lalu ia meminta saya menghubungi psikolog kenalannya. Sebelumnya psikolog tersebut juga pernah menangani putri saya.

Saya sendiri merasa bahwa tidak bisa seperti ini terus. Setelah sekian kali konseling akhirnya saya bisa berubah. Jadi lebih menghargai keluarga saya. Bisa melepaskan diri dari perasaan tidak berguna.

Apalagi suami saya tetap mau menerima saya dan mempertahankan pernikahan. Kalau hal yang terakhir ini lebih ke faktor karena kami tidak boleh bercerai menurut ajaran agama kami. Melihat teguhnya ia mempertahankan pernikahan, saya jadi ikut bersikap sama. Jadi bertekad ingin menjadi tua bersamanya.

Saat ini suami saya dalam masa remisi leukemia. Tapi ada faktor pemberat yaitu saluran pencernaannya sudah tidak beres. Sejak muda memang sudah bermasalah, kini semakin parah. Berkali-kali ia keluar masuk rumah sakit. Tapi semangat hidupnya tetap tinggi. Ia tetap bekerja seperti biasa. Hanya saja saat ini sedang dirawat kembali di RS karena kena ISPA, paru-parunya terkena. Baru saja beberapa hari lalu lepas dari ICU selama 10 hari.

Pesan saya untuk seluruh perempuan di mana pun berada, hargailah keluargamu, rawatlah yang sudah menjadi milikmu, kebahagiaan ada dalam diri, apalagi kalau sudah menemukan belahan jiwa yang bisa menerima apa adanya.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here