9 Perempuan Berbicara tentang Kelembutan dan Ketangguhan

0
279
Foto: pixabay

“Di balik kelembutan seorang perempuan, tersimpan ketangguhan yang tak terbantahkan.”

Perempuan akan selalu punya kisah yang tak akan habis dituang dalam tinta dan kertas. Bukan sekadar kisah, sembilan cerita inspiratif dari yang terangkum dalam buku berjudul 9 Perempuan Berbicara ini menjamin setiap pembacanya menemukan banyak hal dalam hidup yang patut disyukuri.

Foto: Arako

Ditulis berdasarkan kisah nyata 9 orang penulisnya yang punya latar belakang berbeda. Setiap kisahnya menjadi demikian unik satu sama lain. Dengan cerdas, pembaca digiring untuk turut merasakan apa yang dialami para tokoh dan turut larut di dalamnya. Mayoritas konfliknya terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, khususnya bagi mereka yang baru memulai hidup berumah tangga. Sebut saja tentang menghadapi asisten rumah tangga, syndrom Baby Blues pasca melahirkan, pola asuh yang kontra dengan orang tua/mertua, hingga dilema antara menjadi full time mother dan working mom.

Di samping itu, pembaca juga diajak menyelami duka seorang anak yang ditinggal wafat ibunya setelah berjuang melawan kanker, diajak lebih dekat melihat perjuangan seorang ibu membesarkan anak kembarnya yang autis, juga memamahi sebuah proses berdamainya seorang perempuan dengan “kutukan” kelainan tulang skoliosis yang diidapnya sejak SD.

9 Perempuan Berbicara tentang ketangguhan yang tersimpan di balik kelembutan hatinya. Ketangguhan yang terlihat ketika ujian berat muncul tepat di depan mata. Jika harus memilih satu cerita favorit, tanpa mengerdilkan ke-delapan cerita lainnya, maka kisah “Teh Manis Rasa Sabun Cuci” yang akan saya pilih. Kisah seorang ibu yang dalam keterbatasannya terpaksa memberi teh manis beraroma rinso kepada dua anaknya ini sukses membuat air mata saya menderas. A Bittersweet story yang secara apik sukses menutup rangkaian kisah di buku ini.

Terlepas begitu sayangnya cerita-cerita tersebut untuk dilewatkan, tetap saja tidak ada yang sempurna di dunia ini. Begitu pula dengan buku ini yang nyatanya masih punya kekurangan. Meski desain sampul, tata letak, jenis kertas, dan ukuran hurufnya membuat betah membaca, namun saya merasa proses editing naskahnya kurang maksimal. Hal ini terlihat dari penempatan sejumlah tanda koma dalam percakapan yang menyalahi aturan Ejaan Bahasa Indonesia, juga terdapat sederet inkonsistensi penggunaan kata ganti aku dan saya di beberapa cerita. Walau sepele, bagi saya hal ini terasa cukup menganggu.

Namun jika mengingat fakta bahwa buku ini diterbitkan secara indie melalui Stiletto Book, kesalahan kecil tersebut sepertinya masih layak untuk dimaafkan.

Overall, saya beri rate 4 / 5.
RECOMENDED!!



Web Analytics Made Easy - StatCounter


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here