Cinta Untuk Perempuan dengan Bulir-bulir Cahaya Wudhu di Wajahnya

0
851

Eva Sri Rahayu

Ulasan Novel “Cinta Untuk Perempuan dengan Bulir-bulir Cahaya Wudhu di Wajahnya” Karya Sayfullan

Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah –Ir. Soekarno

Terus terang, hal pertama yang membuat saya tertarik membaca “Cinta Untuk Perempuan dengan Bulir-bulir Cahaya Wudhu di Wajahnya” karena novel ini mengangkat sejarah masa penjajahan Jepang di Semarang. Saya memang menyukai kisah-kisah sejarah. Kemudian latar tempat Semarang menjadi magnet tersendiri karena kota itu masih terasa asing untuk saya. Saya mengapresiasi keberanian penulis memadukan sejarah dan religi. Menulis dengan latar sejarah saja sudah pekerjaan berat, apalagi ditambah mengusung nuansa Islami. Tugas penulis jadi berlipat-lipat. Keduanya butuh riset mumpuni bila tidak ingin menjadikannya sekadar tempelan.

Novel ini bercerita tentang Ali, Avifah, dan Baruji. Tiga teman seumuran yang berbeda kasta. Ali berjuang mendapatkan cinta Avifah yang berbeda strata dengannya, sekaligus berusaha mencari restu bapaknya. Sahabatnya Baruji yang selalu membantunya.

Cover novel ini di mata saya sangat menarik. Warna, layout, dan gambarnya berpadu dengan serasi. Memanggil-manggil untuk dibaca.

Bab-bab awal dibuka dengan sederhana, pengenalan karakter tokoh-tokohnya dengan latar keadaan Semarang tahun 1944. Konflik sedari awal sudah dimunculkan, belum begitu kuat tapi tidak juga samar. Ketiga tokoh utama digambarkan memiliki karakter yang jelas dan kuat. Ali bisa dibilang remaja bandel cerdas ala-ala badboy versi syar’i dan memiliki rasa nasionalis tinggi. Namun yang paling berkesan justru tokoh bapaknya Ali, Den Baguse. Tokoh ini mencuri perhatian dengan pertumbuhan dan perubahan karakternya. Sedang Baruji, dengan rentang waktu yang terlampau singkat terasa kurang natural perkembangannya. Memang, dalam keadaan perang seseorang bisa berubah dengan cepat, tapi saya merasa perkembangan Baruji ini terlalu pesat. Kenapa saya menganggapnya begitu karena membandingkannya dengan tokoh Ali. Menjadi tidak seimbang. Padahal mereka mengalami kepahitan yang sama.

Grafik konflik novel ini terus naik pelan-pelan hingga sampai ke puncaknya. Dramatisasinya terasa pas, tidak berlebihan. Baik itu konflik keluarga, persahabatan, maupun cinta. Bahan baku peperangan digarap cukup baik sebagai latar permasalahan. Konfliknya berhasil memainkan emosi saya. Di beberapa bagian saya sampai menangis sedih dan haru. Sayangnya, blurb novel ini terlalu spoiler, sehingga konflik demi konflik sudah digambarkan dengan jelas pada pembaca. Untungnya penulis memberi kejutan-kejutan di akhir untuk pembaca. Bahkan twist ending-nya tidak terpikirkan sama sekali oleh saya. Meskipun begitu, sebenarnya kejutan akhir ini kalaupun tidak ada, tidak menjadi urgensi bagi cerita.

Novel ini memberikan pengetahuan mengenai sejarah, tidak dalam, di ranah cukup saja. Kadarnya pas untuk memberi gambaran ‘dasar-dasar’ seperti apa Semarang pada masa pendudukan Jepang, seperti anak-anak sekolah yang dipaksa menghormat matahari. Bagi saya yang mengharapkan cerita dengan penggalian sejarah yang lebih dalam, memang novel ini kurang memenuhi dahaga. Namun saya yakin, penulis telah melakukan riset secukupnya, karena memang ceritanya dibangun dengan fondasi yang lebih berfokus pada kisah cinta, persahabatan, dan kekeluargaan, bukan sudut pandang pejuang kemerdekaan. Novel ini memang tidak memiliki ambisi ke arah sana. Namun seperti yang saya kemukakan tadi, bukan berarti novel ini kekeringan, berbagai permasalahan diangkat ke permukaan termasuk mengenai jugun ianfu. Kabar baik lainnya, Sayfullan berhasil mendongengkan sejarah hingga saya tidak mendapat kesan sedang membaca buku pelajaran sama sekali.

Cara penulis memainkan alur maju mundur juga menarik. Penceritaan masa lalunya bergulir dengan rapi meski tanpa memakai pemisah adegan. Lompatan waktunya tak jauh sebenarnya, tapi di beberapa adegan terasa agak cepat. Latar waktu dan tempat Semarang tempo dulu disampaikan cukup baik, meski tidak mendetail. Sebagai pembaca saya cukup terbayang bagaimana keadaan tempatnya kala itu.

Tata bahasanya yang puitis tapi mudah dicerna membuat betah membaca. Bahkan saya selesai dalam sekali duduk. Walaupun kadang saat membaca dialog para tokohnya sempat terbesit pertanyaan, apakah pada tahun itu para pemuda-pemudi mengobrol dengan gaya bicara seperti itu?

Nuansa Islami novel ini cukup kental, tidak terasa seperti tempelan. Bahkan porsinya lebih dominan dari nuansa sejarahnya. Ajaran Islam menjadi corong bagi penulis menyampaikan amanat-amanat. Pesan moralnya transparan tapi tidak menggurui pembaca.

Pada akhirnya, membaca novel ini membuat saya selangkah lebih dekat pada sejarah dan Semarang. Saya rekomendasikan novel ini bagi pencinta roman sejarah dan penyuka novel Islami.

Semua jalan keluar di dunia tak jauh, hanya sejarak kening dan sajadah saat bersujud. —Halaman 67

Data Buku

Judul: Cinta Untuk Perempuan dengan Bulir-bulir Cahaya Wudhu di Wajahnya

Penulis: Sayfullan

Penerbit: Diva Press

Penyunting: Addin Negara

Tebal: 256 Halaman

Cetakan: I, April 2017

ISBN: 9786026116086

Blurb:

Demi wanita yang dicintainya, Ali mengejar kereta kuda bapaknya hingga ke markas Jepang. Tersebab sang bapak tak juga memberinya restu, bahkan mengancam akan menyerahkan Avifah kepada Jepang untuk dijadikan jugun ianfu! Di luar dugaan, Den Baguse justru menyelamatkan Avifah. Ali merasa bahagia, namun menelan pil pahit akibat pengusiran bapaknya.

Setahun kemudian, di saat sang bapak sekarat, Ali pulang. Di saat itulah pula, Ali dan Avifah meminta restu untuk menikah. Diiringi deru terakhir sisa napas sang bapak.
Namun, keadaan Semarang yang panas, pemberontakan pemuda, serta Jepang yang melancarkan serangan, mengubah takdir kebersamaan yang mestinya mereka jalani.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here