Hati Yogya Tak Lagi Nyaman

0
54

Beberapa minggu lalu, cerita bakti sosial sebuah gereja Katolik di kawasan Bantul, batal dilaksanakan karena ricuh, dibubarkan oleh orang-orang yang mengaku sebagai ormas Islam. Hal ini sangat disayangkan oleh banyak kalangan, terutama masyarakat luas. Belum lagi pernyataan Sultan yang justru mengundang kontroversi, karena cenderung mendukung apa yang dilakukan oleh ormas radikal tersebut.

Padahal, yang namanya kegiatan bakti sosial, sudah ghalib dilakukan oleh umat gereja tersebut. Biasanya memang sudah menjadi agenda rutin kelompok Wanita Katolik di berbagai daerah, dari tingkat Keuskupan, sampai tingkat stasi untuk mengadakan bakti sosial sebagai tali asih juga bentuk rasa syukur bisa berbagi terhadap sesama, tanpa memandang perbedaan suku maupun agama.

Sayangnya, untuk tahun ini, stasi Bantul, tak mendaapatkan kesempatan tersebut dengan mudah. Niat yang tulus untuk berbagi, justru ditanggapi sekelompok orang dengan mata gelap, serta tuduhan yang tak mendasar, yaitu Kristenisasi ala Katolik. Hal yang amat sangat lucu, mengingat, jenjang untuk dibaptis secara Katolik pun bukan jalan yang mudah, ada banyak proses yang dilalui, juga dengan rentang waktu yang amat sangat panjang, bukan dalam hitungan jam, melainkan berbulan-bulan, terkadang lebih dari satu tahun, sebelum seseorang bisa dibaptis secara Katolik, dan resmi menjadi seorang Katolik.

Belum reda kisruh acara baksos di Bantul kemarin, pagi tadi, disusul cerita lain, tentang seorang mahasiswa asal Banyuwangi yang bernama Suliyono yang tiba-tiba datang, mengamuk dengan membawa pedang panjang di gereja St. Lidwina, Gamping, Sleman. Tak tanggung-tanggung, pemuda yang entah waras atau tidak itu, mengamuk umat yang sedang melaksanakan misa minggu pagi. Dan memakan korban tak satu dua orang saja, melainkan juga romo yang sedang memimpin misa saat itu, yaitu Romo Karl Edmund Prier SJ, seorang romo kelahiran Jerman, yang masih bertahan untuk melayani di negara ini, karena saking cintanya kepada negeri ini, hiingga beliau belum sanggup untuk kembali ke negaranya untuk pensiun.

Para korban, menderita luka akibat bacokan senjata tajam. Bapak Budijono, yang mengalami luka sobek di bagian belakang kepalanya, Romo Prier yang juga mengalami luka sobek di bagian kepalanya, keduanya sedang menjalani perawatan intensif setelah dilakukan operasi, mengingat batok kepala keduanya mengalami luka yang cukup serius. Sedangkan Aiptu Munir, mengalami luka sobek di tangan, dan Martinus Parmadi, juga masih menjalani perawatan yang intensif guna mengobati punggungnya yang terkena sabetan pedang pelaku.

Yogyakarta, kota seni, kota segala rupa, yang selalu terkenal dengan slogan istimewa-nya, slogan berhati nyamannya, sepertinya tak lagi ramah terhadap perbedaan. Cerita intoleransi, begitu kental terasa akhir-akhir ini.  Yang kemudian menjadi pertanyaan, apakah yang akan Sultan lakukan, untuk meredam aksi-aksi intoleransi yang semakin meradang?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here