Her Story: Di Balik Wajahnya yang Menawan ada Jiwa yang Butuh Bantuan

0
95
Ilustrasi: pixabay

Dalam tulisan ini, saya akan menyebut perempuan itu Nur, karena saya melihat wajahnya berseri ketika kami pertama berjumpa. Namun di balik wajah berseri itu tersimpan kisah yang membuat saya prihatin. Setelah perempuan itu pergi, barulah saya tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kecurigaan saya pun terbukti.

Nur datang kurang lebih sebulan yang lalu dari rumahnya di Tasikmalaya. Di sana ia tinggal bersama ibu dan sanak saudara, sedangkan ayahnya telah meninggal sejak beberapa tahun lalu. Ibunya menyuruh Nur ikut ke Bandung bersama paman saya yang waktu itu berkunjung ke rumah mereka. Katanya, karena di sana Nur tak pernah ke mana-mana, jadi perjalanan ini diniatkan sebagai penyegaran baginya.

Awalnya saya tidak menemukan hal yang aneh dari sosok Nur. Ya, dia memang pendiam. Tapi saya pun dulu begitu ketika seusianya. Maka saya berasumsi dia hanya pemalu. Lingkungan keluarga saya di Bandung adalah tempat yang asing baginya. Tentu saja ia butuh waktu untuk beradaptasi.

Setelah beberapa waktu Nur tinggal bersama kami, saya mulai mendengar keluhan-keluhan heran dari ibu dan saudara saya mengenai perempuan pemalu itu. Mereka bilang ada yang ganjil dengan tingkah lakunya. Nur sering tiba-tiba berbicara dan tertawa-tawa sendiri. Ketika ditanya ada apa, ia hanya menggeleng tanpa memberikan penjelasan.

Selain itu, dugaan saya bahwa Nur adalah sosok yang pemalu juga bertentangan dengan sikap yang ditunjukkan Nur beberapa kali pada paman saya. Misalnya, ketika Nur diajak pergi ke swalayan. Biasanya, seorang pemalu akan menolak ketika hendak dibelikan sesuatu, bukan? Nur malah kebalikannya. Ia memborong banyak sekali barang. Yang lebih aneh lagi, barang-barang yang ia pilih adalah macam-macam peralatan rias. Bukan apa-apa, selama ini kami tak pernah melihat Nur berdandan. Kami ragu apakah ia benar-benar akan memakai semua barang yang sudah dibeli itu. Tetapi ketika paman saya memastikan, Nur dengan yakin berkata bahwa ia akan memakai semuanya.

Tingkah aneh lain terjadi ketika Nur akan diantar pulang. Memang ketika itu Nur sudah beberapa kali bilang ingin segera balik. Paman saya kemudian menawarkan agar Nur diantar pulang dengan sepeda motor. Di luar dugaan, Nur menolak. Tanpa ragu dia bilang ingin diantar pakai mobil saja. Hal itu tentu memberatkan paman saya, karena akan dibutuhkan lebih banyak biaya. Jika Nur memang pendiam dan pemalu, masa sih dia berani minta macam-macam. Di pandangan kami, dia malah terlihat tak tahu malu.

Setelah kami tanyai, akhirnya Paman menceritakan sesuatu perihal alasan ibunda Nur mengirim anaknya ke Bandung. Rupanya, Nur sengaja dikirim ke Bandung untuk “diobati”, bukan ke dokter tetapi ke “orang pintar”. Menurut keterangan ibu Nur, anaknya sudah lama menjadi pendiam dan tak mau keluar kamar. Ia bahkan hanya akan makan ketika disuruh. Ia juga sering kedapatan berbicara dan tertawa sendirian. Keluarganya di Tasik curiga bahwa mungkin Nur terkena pengaruh makhluk ghaib.

Saya tidak mau percaya. Saya justru curiga bahwa Nur mungkin memiliki masalah psikologis. Jangan-jangan telah terjadi sesuatu padanya yang membuat ia tak memiliki kecakapan berkomunikasi dengan orang lain dan memilih berkutat imajinasinya sendiri.

Nur rupanya pernah meminjam gawai adik saya untuk masuk ke jejaring sosial Facebook. Karena Nur tidak melakukan log out, adik saya sempat memeriksa kegiatan Nur di laman Facebook-nya. Dan apa yang adik saya temukan sungguh mengejutkan. Dari apa yang dia unggah, Nur sama sekali tidak terlihat seperti gadis pendiam apalagi lugu. Beberapa foto memperlihatkan Nur tanpa kerudung dengan rambut dicat warna-warni. Nur juga ketahuan punya seorang pacar. Menakjubkan, jika Nur memang sependiam itu, bagaimana bisa dia menjalin hubungan dengan seorang pemuda?

Kecurigaan saya akan ketidakstabilan psikologis Nur memuncak ketika ditemukan sebuah surat di kamar yang Nur tempati di Bandung. Surat itu berisi curahan hati Nur yang intinya mengatakan bahwa ia benar-benar ingin segera pulang. Yang membuat kami semua kaget, tulisan Nur di surat itu penuh dengan kata-kata kasar dan umpatan. Di situlah saya yakin ada masalah dengan cara Nur mengelola emosinya. Maka saya sarankan pada Ibu dan Paman agar Nur dibawa ke tenaga medis ahli kejiwaan. Toh sekarang di puskesmas pun sudah tersedia layanan kesehatan jiwa. Tetapi mereka memilih membawa Nur ke dukun.

Entah apa yang dilakukan ‘orang pintar’ itu, tapi di hadapannya Nur akhirnya buka suara. Nur bercerita bahwa telah lama ia merasa tertekan. Tepatnya sejak ayah Nur meninggal beberapa tahun yang lalu. Di usia yang masih belia, ia harus kehilangan sosok yang selama ini memanjakannya. Kematian ayah Nur juga menjadikan ibunya tulang punggung keluarga. Melihat ibunya banting tulang melakukan kerja kasar rupanya membuat hati Nur terluka.

Di sisi lain, sebagai seorang anak, Nur merasa tidak memiliki hak untuk bersuara. Ketika lulus sekolah dasar ia dipaksa masuk ke sekolah Madrasah Tsanawiyah, padahal ia ingin bersekolah di SMP biasa. Begitu lulus SMP, lagi-lagi ia dipaksa melanjutkan ke Madrasah Aliyah padahal ia ingin bersekolah di SMA biasa. Dia merasa frustrasi. Ditambah lagi dengan perundungan yang ia terima di sekolah. Semua hal itu menumpuk tanpa bisa ia kelola. Ia pun akhirnya mulai sering melamun dan berbicara sendiri tanpa menghiraukan orang-orang yang ada di sekelilingnya.

‘Orang pintar’ itu tentu saja menambahkan unsur mistis pada masalah Nur. Menurut terawangannya, ada penunggu sumur kering dekat rumah Nur yang menumpangi tubuhnya. Itulah alasan Nur selalu melahap semua makanan yang disodorkan padanya sebelum ia disuruh berhenti. Yang makan sebetulnya bukan Nur, tapi ‘penunggu sumur.’

Beberapa hari yang lalu Nur akhirnya pulang ke Tasikmalaya. Seharusnya ia menjalani terapi sekali lagi, yaitu dimandikan oleh si ‘orang pintar.’ Namun, ‘orang pintar’ itu keburu jatuh sakit sehingga Nur tak sempat kembali diantar ke sana. Saya berpesan pada Ibu dan Paman agar menyampaikan pada keluarga Nur, Nur harus dibawa ke psikolog. Dia perlu dibantu mengeluarkan beban emosional yang selama ini ia pendam, sebelum semuanya menjadi semakin berat untuk ia tanggung sendirian.

Sayangnya, sebagian masyarakat, termasuk keluarga saya sendiri masih begitu percaya pada hal-hal mistis dan skeptis pada pengobatan medis. Selain itu, stigma buruk terhadap kesehatan mental juga masih sangat kental. Padahal psikolog dan psikiater tak ubahnya dokter dan masalah kejiwaan sama saja dengan masalah kesehatan lain seperti diare atau sakit gigi. Ia perlu diobati, bukan ditutup-tutupi.

Semoga Nur bisa segera mendapatkan bantuan dari tenaga medis yang ahli dan masalah kejiwaannya bisa tertangani. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here