Ibu: Ini Cangkir Bapak

0
100
pixabay

Ada satu cangkir milik Ibu. Warnanya coklat kalem, bermotif bunga-bunga warna merah dan oranye.

Selalu disimpan dalam lemari perabot. Hampir tidak pernah dipakai, katanya itu cangkir Bapak.

Dulu, Bapak suka minum kopi pakai itu. Dulu, Ibu sering buatkan kopi untuk Bapak pakai cangkir itu. Dulu, ketika Bapak masih ada.

Sepuluh tahun sudah lewat semenjak bapak pergi membawa tumor di paru-parunya yang belum sempat diangkat. Ibu masih menyimpan cangkir itu. Setiap harus mengeluarkan cangkir itu dari lemari–misalnya karena harus mengganti alas lemari–Ibu selalu dengan ceria berkata, “Ini cangkir Bapak.”

Ada satu rahasia yang akan saya ceritakan di sini.

Cangkir itu, bukan cangkir bapak.

Cangkir itu dibeli waktu kami pindah rumah dari rumah bapak ke rumah kontrakan. Kami harus pindah karena bapak sudah tidak ada. Jadi, cangkir itu baru ada setelah bapak tidak ada.

Sepertinya, ibu salah. Atau lupa.

Tapi, apa pun, bagaimana pun itu, saya tidak pernah tega meralat kenangan yang ibu ukir pada cangkir itu. Saya iyakan saja: benar, itu cangkir bapak.

Di antara banyaknya kemarahan dan pertengkaran yang terjadi selama ini antara saya dan ibu, saya mencoba untuk tidak melukai yang satu itu–cangkir bapak.

Setidaknya saya telah berusaha mempertahankan senyum di wajah ibu ketika membicarakan cangkir itu.

Lupakan mobil mewah dan rumah istana. Kebahagian buat ibu sederhana. Bahagia yang kecil dulu. Seperti mengajaknya bernostalgia hal-hal yang membahagiakan atau men-download-kan untuknya lagu-lagu lawas yang mungkin sangat ingin ibu dengar kembali.

Sayang, ibu semakin tua. Tidakkah ingin membahagiakannya lebih awal?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here