Ibu, Jangan Korbankan Kesehatan Anak Hanya Karena Hoax

1
98
Ilustrasi: pixabay

Berulang kali, saya melihat, betapa bannyaknya anggota kelompok-kelompok, atau grup antivaksin, yang tersebar di media sosial. Mereka, gencar dan massive menyuarakan gerakan antivaksin, lewat jaringan pertemanan, juga perkenalan, dengan dalih, haram, serta tak ada dalilnya di dalam agama.

Konyolnya, gerakan ngawur itu, justru dimotori oleh para ibu militan, dan anggota mereka pun, lebih banyak ibu-ibu, yang seharusnya memegang tanggung jawab besar, akan keadaan kesehatan anak.

Dengan dalih bahwa vaksin itu ngga penting, haram, karena terbuat dari darah babi, tulang babi, tulang bayi bekas aborsi, darah para pelacur dan penjahat, para ibu tersebut gencar sekali menyuarakan gerakan antivaksin. Seolah mereka tahu persis, bagaimana proses pembuatan vaksin, dan lebih pintar, dari para dokter serta tenaga kesehatan yang bertugas memberikan vaksin kepada anak-anak balita.

Repotnya, para ibu ini, yang datang dari latar belakang yang beragam, serta tak sedikit mempunyai latar belakang pendidikan tinggi, kok begitu mudahnya, mengkonsumsi hoax kesehatan, mengamini, serta ikut menyebarkan teror ke masyarakat. Mereka, justru mengorbankan kesehatan anak-anaknya, dengan menolak vaksin, yang harusnya wajib diterima oleh anak-anak mereka.

Seharusnya mereka belajar, dari kasus KLB difteri, yang terjadi akhir tahun kemarin, yang menyerang beberapa provinsi di negeri ini. Difteri, penyakit yang seharusnya sudah tak ada lagi di bumi Indonesia, akhir tahun kemarin, menjadi momok di beberapa tempat.

Ada 20 provinsi, yang melaporkan KLB difteri tahun kemarin. Kejadian Luar Biasa akibat penyakit mematikan yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diptheriae ini, telah merenggut kurang lebih 32 nyawa, dari 622 kasus yang ditangani oleh pihak kesehatan. Dan itu, kita belum menghitung lagi, untuk kasus yang sama, seperti yang terjadi di Semarang, baru-baru ini.

Padahal, menurut Jane Soepardi, Direktur Survelians dan Karantina Kementrian Kesehatan, sejak tahun 1990an, kasus difteri di negara ini, sudah hampir tak ada, namun kasus difteri, kemudian muncul lagi di beberapa tempat, akibat banyaknya orangtua, yang menolak vaksin untuk anak-anaknya.

Hal ini seharusnya tak perlu terjadi, jika para ibu paham serta mau membuka pikirannya, bahwa vaksin ini, imunisasi ini penting, bagi kelangsungan kesehatan anak-anaknya. Apalagi, di jaman sekarang ini, dengan gaya hidup yang serba instan, serba junk food, daya tubuh manusia, sudah tak sekuat dahulu.

Dengan tubuh yang rentan penyakit, kemudian tidak disupport vaksin yang diperlukan, apa ngga namanya sengaja menyediakan anak-anaknya untuk mati pelan-pelan?

1 KOMENTAR

  1. Meski tak tahu vaksin itu dibuat dari apa, ibu yang peduli pada kesehatan anak akan tetep memvaksin anak-anaknya. Dengan pertimbangan tidak ingin mempertaruhkan kesehatan anak. Semisal campak, kelihatannya sepele, kalau telat memvaksin pada umur tertentu, bingung juga ketika serangan campak itu tiba. Dibawa ke dokter, apakah akan menganggap juga obat dari dokter itu haram?
    Perempuan notabene emak harus cerdas.
    Kegagalan satu atau dua pada kasus imunisasi memang pernah terjadi. Karenanya sebelum imunisasi, perhatikan betul apakah anak dalam kondisi sehat, tidak demam atau alergi obat.
    Jangan memaksakan untuk imunisasi kalau kondisi tubuhnya tidak sehat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here