Ironi Buruh Perempuan di Industri Rokok dan Kampanye Anti Rokok

0
166
Buruh pabrik rokok. Foto: http://kangardani.com/2015/10/belajar-dari-lensa-kamera/

“Hitungannya seribu batang dapat komisi Rp 22 ribu. Sehari bisa dapat tiga ribu batang rokok. Jadi komisi sehari dapat Rp 66 ribu,” kata Ramini, perempuan berusia 45 tahun di sebuah pabrik rokok di Jawa Timur.

Ramini mengatakan itu saat pabrik rokok PT Gudang Baru Berkah dikunjungi oleh Puti Guntur Soekarno. Ramini yang memiliki 4 anak itu melanjutkan, “Anak saya kerja di pabrik yang sama. Ada yang masih sekolah. Uang hasil kerja juga buat biaya sekolah, bantu suami yang bekerja serabutan.”

Siti Rochma, yang bekerja di perusahaan sama, juga mengungkapkan bahwa selama lima tahun lebih di pabrik tersebut tak mengubah nasibnya. Gaji yang didapatkan itu untuk menambah perekonomian keluarga. “Buat biaya sekolah, bantu suami bekerja,” kata Siti.

Ibu-ibu yang bekerja di pabrik rokok itu rata-rata hanya lulusan SMP. Mereka tidak bisa melanjutkan sekolah ke tingkat lebih tinggi karena tidak punya biaya.

Berbicara tentang tembakau, bahan dasar rokok, memang takkan pernah ada habisnya. Tanaman hasil kebun yang termasuk dalam genus Nicotiana ini, memang bukan tanaman asli nusantara. Tapi, industri rokok dunia mengakui, bahwa tembakau terbaik di dunia, berasal dari negeri ini.

Tercatat, tak hanya tembakau Srintil dari Temanggung, yang menduduki peringkat dunia dengan kualitas terbaik. Tembakau Deli yang banyak digunakan sebagai wrapper cerutu di Eropa, sama dengan tembakau jenis Vorstenlanden dari Klaten dan Sleman.

Di Hari tanpa Tembakau Sedunia, 31 Mei, isu kesehatan merupakan yang selalu diangkat oleh para pegiat gerakan anti merokok. Bahwa merokok bisa mengakibatkan gangguan kesehatan hingga kematian bagi si perokok aktif maupun pasif.

Padahal, jika kita bicara industri rokok, maka kita bicara pula tentang cukai yang mencapai angka 200 trilliun yang disetorkan ke pemerintah. Dan pastinya, kita bicara juga, tentang masyarakat kita, yang bergantung hidup pada industri ini. Untuk saat ini saja, kurang lebih, ada 30-35 juta orang, yang terlibat secara langsung maupun tak langsung dalam industri ini, mulai dari hulu, hingga hilir.

Jika kita bicara industri rokok, memang tak putus di petani tembakau saja, yang menurut BPS, ada kurang lebih 2,5 juta masyarakat kita yang bekerja sebagai petani tembakau. Tapi kita juga harus menghitung petani cengkeh, para pekerja pabrik rokok, dan seluruh elemen yang terlibat di dalamnya, entah yang langsung, maupun yang bersinggungan secara tak langsung.

Untuk saat ini saja, dari cukai yang disetorkan, Direktorat Bea dan Cukai mencatat, sedikitnya ada 3.800 pabrik rokok yang beroperasi di negeri ini, yang jumlahnya terus mengalami penyusutan.

Perempuan buruh pabrik rokok. Foto: http://kangardani.com/2015/10/belajar-dari-lensa-kamera/

Mata rantai produksi industri rokok, tak lepas dari yang namanya perempuan. Mereka ada di industri ini, dari hulu hingga hilir. Mereka, tak hanya bekerja sebagai para karyawan pabrik rokok saja. Para petani tembakau pun, sebagian besar adalah perempuan, tak jauh berbeda dengan para perempuan Natuna, yang setia menjaga kebun-kebun cengkehnya.

Bahkan di Temanggung, para perempuanlah yang lebih telaten merawat serta mengelola lembaran-lembaran daun tembakau, hingga menjadi tembakau dengan kualitas prima, yang siap dikirim ke pabrik-pabrik rokok dengan harga yang tak murah.

Tidak bisa dinafikkan kenyataan bahwa industri ini menyerap tenaga kerja perempuan yang besar.

Bahkan dalam beberapa tahun ke belakang mulai muncul balai pengobatan balur, yang ternyata bisa menyembuhkan para penderita kanker, justru dengan tembakau dan rokok!

“Sebenarnya bukan tembakau atau rokoknya yang membuat seseorang bisa sakit, tapi radikal bebasnya,” ujar seorang perempuan yang pernah diterapi dengan pengobatan asap tembakau.

Berawal dari ide Dr. Greta Zahar untuk mengeluarkan merkuri yang merupakan racun dalam tubuh, Dr. Greta awalnya mengolah bahan-bahan seperti cokelat dan bawang putih untuk  menjadi sediaan berukuran nano  meter kubik. Bahan-bahan ini lalu dibalurkan di atas lempengan tembaga untuk tidur dengan relaks.

Metode yang dilakukan oleh perempuan ilmuwan nuclear science yang mengelola klinik di beberapa kota dan Lembaga Peluruhan Radikal Bebas ini mampu menyembuhkan di antaranya adalah istri dari Profesor Sutiman yang mengidap kanker. Kesembuhan istrinya ini menginspirasi Sutiman untuk melakukan hal serupa namun dengan asap tembakau.

Sama dengan metode yang digunakan Dr. Greta,  Sutiman juga mengolah tembakau menjadi ukuran nano meter kubik agar dapat meresap ke dalam tubuh manusia. Metode detoks inilah yang membuat mertua dari Irawan Saptono, jurnalis senior sembuh dari stroke.

Adanya flek di otak membuat seseorang terserang stroke. Beberapa tahun yang lalu, mertua dari Irawan mengidap stroke yang menyebabkannya kesulitan berjalan dan perlu mendapatkan pendampingan.

Dengan sepuluh kali pembaluran yang dilakukan di Jakarta, flek di otak ini perlahan hilang dan mertua dari Irawan dapat berjalan lagi dan kembali ke rumahnya sendiri tanpa didampingi. Irawan sendiri mencoba metode ini untuk menangani diabetesnya.

Isu kesehatan yang kerap diangkat oleh para pegiat anti rokok bahwa rokok bisa menyebabkan kanker sepertinya masih jadi kajian banyak pihak. Karena di dalam tembakau, ada protein Cytokine, yang jelas merangsang aktifnya sel kekebalan tubuh.

Biar bagaimanapun, industri rokok, bukanlah industri kecil, yang bisa dipandang sebelah mata saja. Bisa dibayangkan, betapa besar mata rantai kehidupan yang rusak, jika industri ini ditutup di kemudian hari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here