Istri Mantan Pacar Jadi Sahabat

0
786

PinHast

Hm… Dulu, jelas-jelas saya jawab ‘mana mungkiiin???’ Karena kisah saya dengan yang namanya mantan ini nggak berakhir bahagia. Ya iyalah, wong endingnya bubaran, kok. Lagipula ‘buku’ sudah saya tutup rapat dan saya enggan membukanya lagi. Saya toh sudah membuka ‘buku’ baru, bersama suami dan anak saya.

Tapi kehidupan terkadang nggak bisa saya tebak. Pada suatu ketika, ‘aji-aji menghilang’ saya sudah nggak mempan lagi. Kami (mantan pacar dan saya) bertemu lagi dalam suatu forum blog menulis bersama. Itu juga karena ada teman saya sekaligus temannya yang ’ember’. Jadi terdeteksilah posisi saya.

Suami tahu? Tentu saja! Saya bukan tipe orang yang suka main api. Saya ceritalah sama dia. Apalagi suami saya juga punya akun di blog bersama itu. Maksud saya, supaya dia nggak kaget ada yang coba ‘menjahili’ istrinya yang cantik ini. #ngoook# Bagusnya, dia percaya penuh sama saya. Jadi saya merasa aman dan merasa bisa menghadapi apa pun termasuk si mantan yang coba-coba mendekat lagi ke kehidupan saya.

Singkat cerita, sepertinya istrinya mantan pacar saya gatal lihat tingkah suaminya yang kayak ABG dilanda cinta monyet lagi. Tapi record tetap menunjukkan bahwa saya nggak terpengaruh. Suami saya malah lebih kacau lagi. Dia bilang, “Sudahlah, berteman lagi. Sudah sama-sama tua ini.” Ngomong enak! Beban pasti jatuhnya tetap lebih banyak di saya. Yang namanya first love kan katanya never dies. Lagipula dilihat dari sisi mana pun, gantengan mantan saya daripada suami saya. Tapi harap dicatat, saya sudah memilih untuk hidup bersama sampai akhir hayat dengan laki-laki yang bisa mengerti, menyayangi, dan menerima saya apa adanya, yaitu suami saya. Pilihan itu yang harus saya pertahankan dan pegang teguh.

Karena saya adem-ayem saja, teman saya yang ’ember’ tadi berniat mempertemukan istri mantan dengan saya. Supaya saling kenal dan nggak terjadi salah paham. Teman saya si ’ember’ ini, meskipun ’ember’ juga mengenal saya (dan suami saya) dengan sangat baik. Cus! Jadilah kami ketemu. Istri mantan dengan saya.

Pertama kali, canggung pasti! Tapi saya nggak mau berpanjang kata. Saya tekankan padanya bahwa saya bahagia dengan pernikahan saya. Lebih tepatnya, saya bersama suami selalu berusaha untuk menciptakan kebahagiaan itu sendiri. Si Mbak istri mantan ini pada akhirnya memahami, bahwa saya memang sama sekali nggak berniat mengobrak-abrik rumah tangga orang lain (apalagi rumah tangganya). Suaminya saja yang rada goyah, barangkali karena faktor puber kedua. Kalau saya nggak menanggapi, dia juga akan berhenti sendiri (orangnya memang dari dulu begitu hehehe…).

Belakangan, suami saya ikut bergabung dalam pertemanan ini. Bahkan berdua dengan si Mbak itu, mereka mengusahakan agar saya menjalin pertemanan kembali dengan mantan. Saya pribadi tetap membatasi relasi saya dengan mantan. Pelan-pelan dia (mantan) pun memahami bahwa kami memang nggak bisa ‘lebih’ dari sekadar teman atau saudara. Seiring waktu saya malah jadi lebih dekat dengan si Mbak ini.

Ujungnya, kami malah berteman baik, bersahabat. Saya sendiri nggak pernah membayangkan akan mengalami kejadian seperti ini. Yang jelas, saya menghormati relasi kami. Suami saya juga berteman dengan mantan saya. Kami juga saling menghormati pernikahan masing-masing.

Tapi seandainya saya bisa memilih, jujur saja, saya sebetulnya lebih ingin memilih untuk tidak menjalani relasi seperti ini. Godaannya lumayan besar. Saya bisa bertahan justru karena suami saya tidak pernah membatasi apa pun. Kalau sudah begini, apakah saya berhak untuk meminta lebih?

Dekat dengan istri mantan tidak berarti saya juga sedekat itu dengan suaminya (mantan pacar saya). Batas tetap ada, ketat. Yang bisa saya lakukan sekarang adalah berelasi secukupnya saja, tetap memelihara persahabatan itu, sekaligus berusaha untuk tetap setia pada keluarga saya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here