Istri yang Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga Itu Bukan Pembantu

0
186
pixabay

Beberapa hari kemarin, ada teman yang men-share sebuah status dari seorang suami yang menyatakan bahwa dirinya tidak pernah menuntut sang istri untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Karena menurutnya, jika masih memposisikan seorang istri layaknya pembantu, maka dia adalah pria kuno.

Pria bernama Arif Rahutomo mengaku tidak peduli jika keadaan rumahnya amburadul. Ia dan sang istri lebih memilih untuk tidur-tiduran, jalan-jalan atau mengerjakan tugas di laptop masing-masing.

Statusnya yang viral ini tentu saja menuai pro dan kontra beberapa orang, baik dari para suami maupun dari kubu istri. Ada yang menyatakan setuju jika istri tidak boleh diperlakukan seperti pembantu. Seorang suami seharusnya membuat para istri berbahagia. Atau beberapa ada yang bersikap netral dengan mengatakan bahwa peran suami istri itu harus mampu berkolaborasi, bekerja sama dalam mengerjakan tugas rumah.

Menurut saya sendiri, setiap rumah tangga pasti memiliki aturan masing-masing. Selama suami istri tidak bersitegang dengan aturan yang ada, ya semuanya fine-fine saja. Tidak ada yang salah dengan prinsip Arif Rahutomo dan istrinya. Namun, entah mengapa, saya kurang enak membaca kata ‘pembantu’ untuk mengambarkan seorang perempuan berstatus istri yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Pemerintah sendiri sudah sejak lama menghapus kata pembantu menjadi PRT (Pekerja Rumah Tangga) atau sesuai jabatan masing-masing, seperti baby sitter atau housekeeper. Karena kata pembantu secara bahasa memiliki makna yang sama, seolah-olah mengandung arti pekerja rendahan, bisa diperlakukan sewenang-wenang dan diremehkan.

Kasihan kan, para istri yang sepenuh hati membersihkan dan merapikan rumah setiap hari demi kenyamanan anak dan suaminya, malah disebut pembantu? Suami dan istri, keduanya mempunyai hak dan kewajiban masing-masing yang harus diimbangi. Karena saya yakin, banyak perempuan lebih memilih lelah yang bisa langsung terbayarkan dengan suasana rumah yang rapi dan bersih. Banyak perempuan yang merasa tidak nyaman dengan keadaan rumah kacau balau karena bisa membawa suasana hati yang buruk pula. Kuncinya sih, harus pintar-pintar me-manage waktu biar gak cepat drop. Apalagi, kita semua percaya bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman.

Semua yang dihasilkan oleh tangan sendiri, baik itu membersihkan rumah atau memasak untuk orang-orang yang dicintai, akan memberi kepuasan tersendiri. Sudah menjadi naluri setiap ibu untuk mengatur keadaan rumah selalu nyaman. Dan semua itu merupakan pekerjaan mulia, bukan rendahan.

Dan suami yang memiliki istri seperti ini, mereka adalah pria beruntung, bukan pria kuno. Just sayin’

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here