Kisah Cinta Prabowo dan Titiek Soeharto

0
699

Prabowo Subianto dan Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto dulunya merupakan sepasang suami-istri yang sangat populer semasa Presiden RI Soeharto berkuasa di republik ini.

Pernikahan keduanya tahun 1983 menjadi perhatian publik. Namun keduanya bercerai pada 1998 dengan alasan yang belum terpublikasi di media hingga sekarang.

Setiap jelang pemilihan presiden, baik pada tahun 2014 lalu maupun tahun 2019 yang akan datang, keduanya selalu di-isu-kan bakal rujuk. Terlebih keduanya seringkali saling berkunjung ke kediaman masing-masing seperti yang terjadi pada tanggal 16 Agustus lalu, dimana Titiek menyambangi kediaman Prabowo setelah sebelumnya juga berkunjung ke rumah Prabowo, tepatnya setelah mendampingi Prabowo dan Sandiaga Uno mendaftar untuk menjadi peserta Pilpres 2019 di KPU.

Pada 2014 lalu, Prabowo juga diketahui datang ke acara ulang tahun sang mantan istri.

Pada tanggal 1 Agustus lalu, keduanya juga diketahui mem-post foto kenangan lama yang menjadi momen nostalgia mereka di akun media sosialnya. Posting pertama datang dari Titiek. Putri presiden RI ke-2 Soeharto itu mengunggah foto lamanya bersama Prabowo dan sang anak, Didit Hediprasetyo, yang saat itu masih bayi.

Titiek mem-posting foto nostalgia itu dalam rangka Hari ASI Sedunia. Dia memberikan caption soal 10 manfaat ASI bagi bayi.

Lalu pada tanggal 4 Agustus, giliran Prabowo yang memposting foto nostalgianya bersama Titiek di Instagram. Dalam foto itu, Prabowo dan Titiek masih tampak muda. Keduanya berfoto bersama anggota keluarga Prabowo. Tak ada caption pada foto tersebut, namun tangan Prabowo tampak memeluk Titiek dari belakang.

Diketahui pada masa itu, awal kisah cinta Prabowo Subianto dan Titiek Soeharto berlangsung semanis madu. Lalu kenapa hubungan mantan Danjen Kopassus dan putri Presiden Soeharto itu berakhir dengan perceraian?

Kisah cinta keduanya itu tertuang dalam buku biografi terbitan tahun 2000 ‘Jejak Perlawanan Begawan Pejuang-Sumitro Djojohadikusumo’ dalam bab Besanan dan Hubungan dengan Soeharto.

1. Kisah Cinta Semanis Madu

Dikutip dari Detik, sebelum menikah, Prabowo dan Titiek bertunangan, dan mereka berpacaran selama 2 tahun. Pertunangan dengan Titiek bukanlah kisah cinta pertama buat Prabowo. Ia sebelumnya pernah menjalin hubungan serius dengan seorang gadis Yogya, namun putus di tengah jalan lantaran Prabowo sebagai tentara yang selalu sibuk tugas di lapangan.

Prabowo juga diketahui pernah memiliki beberapa teman wanita lain, tapi Sumitro hanya memperhatikannya sambil lalu. Sampai suatu hari Prabowo meminta izin kepada Sumitro bahwa ia hendak membawa seorang teman wanita. Prabowo hanya mengatakan bahwa pacarnya itu salah satu murid Sumitro.

Belakangan baru diketahui bahwa sang murid itu adalah Titiek Soeharto. Sumitro pun berpesan khusus kepada putranya. “Kalau kali ini kamu tidak serius, payah deh kamu,” tulis Sumitro dalam buku tersebut

Setelah itu, Prabowo bergerak cepat dan memperkenalkan putri Soeharto itu ke neneknya. Pada kunjungan awal, nenek Prabowo belum tahu siapa Titiek Soeharto, hanya mengira ia anak Yogya yang kuliah di Jakarta dan mondok di kawasan Menteng. Prabowo pada saat itu masih menyembunyikan identitas Titiek.

Masih dikutip dari Detik, diceritakan pada kunjungan kedua, kemenakan Sumitro justru mengenali Titiek dan memberitahu kepada ibunda Sumitro bahwa teman Prabowo itu putri Presiden Soeharto. Sang nenek pun terperanjat. Semenjak itu si nenek berubah sikap, bukan tak setuju tapi sang nenek sangat anti feodal. Dia tahu Ibu Tien berasal dari Mangkunegara. Ini tentu sangat berbeda dengan budaya nenek Prabowo yang berasal dari Jawa Timur.

Namun baik Sumitro maupun ibu Sumitro, sesungguhnya cukup tertarik dengan kepribadian Titiek yang dinilai sangat rendah hati dan sopan.

Sampai kemudian pada suatu upacara di Istana Negara, Ibu Tien mendekati Sumitro dan berbisik soal kedekatan Prabowo dan Titiek. Tak berapa lama setelah itu datang Tjoa Hok Sui, kepercayaan Probosutedjo, dan berkata hal yang sama bahkan mendorong Sumitro agar segera meresmikan hubungan Prabowo dan Titiek.

Sumitro saat itu masih bingung. Dia langsung bertanya kepada Prabowo mengenai keseriusannya. Prabowo pun menjawab ‘Ya, nanti saya lamar’. Prabowo pun terkejut saat diberitahu bahwa ia tidak boleh melamar sendiri, melainkan harus pihak keluarga yang datang.

2. Lamaran Sumitro ke Cendana

Sumitro akhirnya datang melamar istri untuk anaknya itu. Sumitro melamar dalam bahasa Indonesia. Jawaban dari Pak Harto kala itu, ‘Pak Mitro, tentu kita betul-betul merasa bahagia, tapi saya harus bicara juga sama kedua anak ini terlebih dahulu untuk kasih nasihat. Bagaimanapun juga pasti masyarakat luas akan menyoroti ini, mengingat saya sebagai kepala negara dan Pak Mitro sebagai cendekiawan terkemuka’.

Singkat cerita keluarga Soeharto menerima lamaran keluarga Sumitro dengan baik dan penuh rasa hormat. Terlebih Ibu Tien, kala itu terlihat amat bahagia. Meskipun Sumitro kala itu terus mengkritik kebijakan pembangunan Soeharto.

3. Prabowo dan Titiek Menikah

Dikisahkan dalam buku biografi Sumitro yang terbit tahun 2000 itu bahwa pada bulan Mei 1983, putra ketiga Prof Sumitro Djojohadikusumo yakni Prabowo Subianto menikah dengan Siti Hediyati, putri Presiden Soeharto. Bertindak sebagai saksi dalam pernikahan tersebut Jenderal M Jusuf.

Dari pernikahan itu. Prabowo dan Titiek dikaruniai seorang putra bernama Didit Hediprasetyo yang kini menjadi perancang busana.

https://swa.co.id/swa/headline/didit-hediprasetyo-mengangkat-kain-songket-ke-pentas-fashion-dunia

Pernikahan itu berlangsung setelah keduanya berpacaran selama 2 tahun.
Setelah menjadi besan, hubungan keluarga Sumitro dan Soeharto memang masih berjalan normal. Dalam artian tidak dapat dikatakan jauh, tapi juga tidak bisa dibilang mesra. Beberapa kali juga diwarnai perbedaan pendapat.

4. Hubungan Sumitro dan Cendana Mulai Renggang

Sumitro berpandangan, sulitnya hubungan terjalin dengan akrab dengan keluarga Soeharto karena perbedaan kultur di antara kedua keluarga. Soeharto dari Yogya dan istrinya berasal dari lingkungan keraton Mangkunegara. Kombinasi ini dinilai amat feodal. Sebaliknya, keluarga Sumitro sangat berbeda dengan tradisi yang terbuka, egaliter, sangat modern hasil pendidikan Barat dan justru tak paham tradisi Jawa.

Meskipun silsilah Sumitro sebetulnya juga berasal dari Yogyakarta namun dari kelompok pemberontaknya sehingga harus terusir ke Banyumas. Leluhurnya adalah Pangeran Diponegoro dan Pangeran Moerdoningrat.

Sumitro mengemukakan bahwa ia tidak mungkin dapat menempatkan diri dalam suasana keluarga yang sangat Jawa, daripada dia harus munafik. Namun keluarga Soeharto sebenarnya sangat menghormati adanya perbedaan kultur tersebut. Saat lebaran atau di hari ulang tahun Soeharto dan Bu Tien, keluarga Sumitro tetap diundang ke Cendana.

Sebagai akibat akumulasi dari berbagai persoalan, hubungan Sumitro dan Soeharto mulai renggang semenjak tahun 1995. Sumitro tetap bersikap terbuka dan merdeka, dia merasa bebas mengkritik kebijakan pembangunan Soeharto, bahkan sampai menerima H.R. Darsono yang tak lain lawan politik Soeharto. Salah satu kritik Sumitro yang membuat merah telinga Soeharto adalah sinyalemen mengenai kebocoran 30 persen dana pembangunan.

Padahal masa tiga tahun terakhir menjelang jatuhnya Soeharto merupakan saat kritis, yang ditandai semakin sukarnya Soeharto menerima kritik. Bila Sumitro mengkritik maka Titiek Soeharto akan datang menyampaikan pesan Pak Harto. Namun pesan dari Titiek tak pernah digubris Sumitro.

5.Lengsernya Soeharto dan Marahnya Putri-putri Cendana

Tindak-tanduk Sumitro dan keluarga rupanya semakin tidak berkenan di hati keluarga Cendana. Puncaknya adalah peristiwa lengsernya Soeharto pada 21 Mei 1998. Cendana marah mengapa Prabowo membiarkan mahasiswa menduduki gedung MPR/DPR, mereka curiga bahwa itu disengaja sebagai bagian dari konspirasi untuk menjatuhkan Soeharto.

Siti Hardiyanti Hastuti (Tutut) dan Mamiek (Siti Hutami Endang Adiningsih), dituliskan dalam buku itu marah-marah kepada Prabowo. ‘Kamu ke mana saja dan mengapa membiarkan mahasiswa menduduki Gedung MPR/DPR?’ Prabowo kala itu menyahut, apakah dia harus menembaki para mahasiswa itu?

6. Prabowo Dicopot

“Tanggal 25 Mei 1998 Letjen Prabowo Subianto resmi dicopot dari Pangkostrad dan dikirim ke Bandung untuk menjadi Komandan Sesko ABRI. Tak berapa lama setelah pemeriksaan Dewan Kehormatan Perwira (DKP), bahkan karier militer Prabowo diakhiri oleh Wiranto. Akhirnya Prabowo memutuskan untuk memilih menjadi pengusaha di luar negeri guna menyusun hidup yang baru,” demikian yang tertulis di buku tersebut.

7. Prabowo dan Titiek Bercerai

Setelah itu kisah cinta Prabowo-Titiek Soeharto menguap bak embun pagi, sang ayah tak lagi membahas kisah cinta Prabowo.

Pada 1998 diketahui Prabowo dan Titiek memutuskan berpisah. Namun tak ada yang tahu persis kapan pastinya mereka berpisah.

8. Kembali Bersama Ketika Jelang Pemilihan Presiden

Seperti yang publik ketahui, sejak 2014 setiap kali jelang pemilihan presiden, keduanya hampir dipastikan bersama, seakan selalu ingin kembali bernostalgia. Akankah keduanya kembali rujuk? Atau menunggu rujuk jika Prabowo terpilih sebagai presiden?

Sumber: Detik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here