Kisah Nyata; Kasih yang Putih dan Tidak Memilih

0
88
Ilustrasi: pixabay

Della Anna

Saya ingin berbagi kisah nyata yang kami sekeluarga alami, sebagai oleh-oleh kisah kehidupan manusia di bumi yang penuh dengan pernik perbedaan. Kisah ini antara kami keluarga Katholik dan keluarga Muslim asal Maroko, Ahmed Aknouch dan Halil asal Turki. Mereka tetangga saya sebelah kanan, dan tetangga di belakang rumah.

Kami yang Katholik (saya sendiri Protestan awalnya) dan keluarga Aknouch dan Halil yang Muslim menjalin relasi sebagai tetangga dengan baik. Tolerasi kami sebagai umat berbeda kepercayaan sangat tinggi. Kami menghormati perbedaan itu dengan kebijaksanaan bahwa ”perbedaan kepercayaan” tidak akan mempengaruhi silahturami kami sebagai tetangga dan keberadaan kami sebagai manusia di bumi ini.

Ketika istri Aknouch sakit, datanglah kami membantu untuk meringankan kesedihan keluarga Aknouch dengan membawa makanan ringan yang sekiranya dapat membantu kebutuhan keluarga di tengah-tengah penderitaan, demikian juga ketika suami saya sakit keras maka datanglah keluarga Aknouch dan Halil mengunjungi baik rumah sakit dan tempat tidur pasien untuk bersama saling hening sejenak selama beberapa menit untuk mengucapkan doa kepada TUHAN yang kami sembah dengan cara kami masing-masing.

Ketika anak ketiga Halil mengalami kesulitan memahami pelajaran di sekolah, maka datanglah saya atau putri kami untuk membimbingnya. Bimbingan ini akhirnya sukses dengan hasil raport yang membanggakan kedua orang tuanya.

Hari Natal tiba, maka berkunjunglah Aknouch dan Halil sekeluarga + sanak famili dari Belgia dan Rotterdam ke rumah kami dengan membawa beberapa piring kue-kue kering khas Maroko dan Turki. Merangkul memberi ucapan salam, mencium pipi dan kepala sebagai tradisi Maroko dan Turki kepada kami, ucapkan ”Selamat hari Natal, Allah memberkati kalian sekeluarga.” Tak ada seorang yang melepas sepatunya, rumah kami berlandaskan keramahan, debu dan kotoran hanyalah bentuk luar yang mudah dibersihkan.

Hari raya Ramadhan (suiker feest) datanglah kami + dengan anak-anak dan cucu-cucu mengunjungi mereka di sebelah kanan dan belakang rumah dengan macam-macam kue-kue kering khas Indonesia dan Belanda. Peluk cium, cium tangan (tasbih) dan kepala. Juga 5 euro uang kertas untuk anak-anak sebagai oleh-oleh uang saku atau tabungan. Semua happy, semua tertawa renyah. kebahagiaan yang tidak pilih-pilih. Pemberian kami hanya kecil saja 5 euro, tetapi melekat dalam benak anak-anak begitu dalam, terbawa sampai mereka dewasa dan kembali lagi menjadi kisah masa lalu yang tak terlupakan.

Bila bulan puasa tiba, pulanglah mereka sejenak ke negerinya, dan mereka menitipkan kunci rumah kepada kami utk memantau surat-surat pos penting dan lain-lain rutinitas (siram tanaman, kosongkan bak sampah, sampai aktivitas pemeliharaan rumah seperti kontrol gas listrik dan pemakaian air).

Anggota keluarga ada yang meninggal, maka kami bergantian datang mengunjungi, menyentuh mayat dan berdoa dengan khusuk. Perbuatan kami, juga kami lakukan pada tetangga diseberang kiri dan kanan lainnya tanpa memakai perbedaan agama kami sebagai pemisah hubungan kemanusiaan ini.

Pemikiran kami yang berbeda prinsip dan kepercayaan ini adalah; bahwa Allah itu satu untuk semua. Mengapa DIA berbeda di mata kita masing-masing itu oleh karena kita sendiri sebagai manusia yang mempercayai DIA yang membuatnya. Kami sendiri belum melangkah menuju ”negeri sana” untuk bertemu dengan ILAHI yang kita sembah dengan hikmat sebagai Tuhan kami. Tetapi, kami percaya DIA lah Yang Kuasa yang menciptakan jagat raya dengan segala isinya dan kami manusia dengan pernik-perniknya. DIA-lah yang sangat Kuasa, yang akan mengatakan kami sesuai buku kehidupan kami.

Kami memang berbeda, tetapi kami satu sebagai manusia yang terdiri dari tulang, daging dan darah dengan komponen otak dan hati sebagai elemen penting kemanusiaan untuk bernalar. Dan nalar ini sangat penting untuk ”mengakui, menghormati dan menjunjung tinggi DIA yang kita sebut sebagai TUHAN kita.”

Bagi kami, perbedaan adalah keunikan yang harus dipelihara, dihormati bahkan dilengkapi dengan bumbu pemahaman yaitu toleransi. Tak perlu dihindari apalagi harus dimusnahkan. Berusaha memusnahkan itu berarti kita ”menghina ILAHI Yang Kuasa.”

Dan kalau kita berani untuk memusnahkan ciptaan Allah, maka kita bukan lagi ciptaan NYA. Kita adalah manifestasi bentukan lain yang bukan berasal dari Allah.

Inilah kisah nyata kehidupan saya sehari-hari dengan tetangga kami yang berlainan prinsip kepercayaan. Kami berbeda iman tetapi kami satu sebagai manusia yaitu ciptaan Tuhan YME.

Hilangkan kecurigaan bahwa kita tidak patut berteman apalagi melayani seseorang yang berbeda iman. Dalam diri kita, ketika kita lahir dari ibunda tercinta, kita dibekali oleh Allah harta ”KASIH” sebagai satu-satunya peti harta pegangan hidup di muka bumi ini untuk melakukan kontak sosial dengan sesama kita.

Hanya ”Kasih” yang mampu menciptakan kedamaian hidup di muka bumi ini.
Kita memang lemah, mahluk yang mudah terpengaruh dan cepat mengadili. Sebab itu kita memang harus bergumul setiap detik untuk tetap berbuat kebaikan tanpa harus memilih.

Beruntunglah kami memiliki para tetangga yang berbeda keimanan tetapi hidup rukun dengan toleransi tinggi. Semoga perbuatan kami ini menjadi ”terang” bagi orang lain.

Ucapan ”Selamat hari Idul Fitri dan Selamat Hari Natal” adalah perbuatan baik yang patut kita ucapkan dengan tulus kepada umat yang berhak merayakan hari kemenangan itu. Hidup ini hanya pendek saja, ketika saat kita meninggalkan hiruk-pikuk dunia ini menghadap ILAHI yang kita sembah, saat itulah buku kehidupan kita akan digelar, terbuka tanpa malu. Mengisahkan siapa kita selama DIA menitipkan kita di dunia ini. Doa-doa keluarga kita di bumi tak akan sanggup mewakili, membantu bahkan membela kita. Hanya diri kita sendiri yang berhadapan dengan DIA. Berani dan sanggupkah kita?

Semoga kisah nyata kehidupan kami ini dengan Aknouch dan Halil menjadi inspirasi bagi anda semua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here