“My mother worshipped at the alter of accessories and I got the bug. She always said, if you have a good, little, simple black dress and you have a different accessories, you can have 27 different outfits” – Iris Apfel

Effortless chic elegance adalah persepsi  pertama begitu pandangan mata melihat perempuan mengenakan Little Black Dress (LBD). Bayangkan kalau anda memiliki satu saja LBD dengan sekejap jentikkan jari,  -voila!-, bisa membuat anda tampil dengan 27 gaya yang berbeda. Seperti berada di dunia magic, tetapi itulah kekuatan LBD yang termasuk salah satu “the must have item” bagi fashionista sejati,  dimana sudah menjadi  aturan tidak tertulis bahwa setiap perempuan harus memiliki gaun dengan siluet yang simpel, elegant, dan dapat dikenakan di acara apapun.

Little Black Dress adalah masterpiece dari karya Gabriel “Coco” Chanel, dan Jean Patou di era tahun ’20-’30-an. Majalah Vogue Amerika  menyebutnya “Chanel’s Ford” (seiring popularitas mobil T-Ford saat itu) yang tampil pertama kali di bulan Oktober 1926 pada sampul depan majalah tersebut.

Revolusi fashion yang dilakukan oleh Chanel merupakan satu kekuatan besar bagi semangat kaum perempuan saat Great Depression Era sedang terjadi, dengan konsep briliannya Chanel mampu menggebrak pasar ekonomi, titik awal era pembelian busana siap pakai secara massal, minimalis tetapi tetap tampil chic dan dapat dikenakan berbagai kalangan.

Warna hitam pun memiliki cerita sendiri, terutama bangsawan Eropa, karena sejak era Victorian, warna hitam dianggap warna tabu untuk digunakan sebagai busana kebanyakan yang hanya digunakan untuk simbol kesedihan, kematian dan bencana.

Di tahun 1950-an, era New Look, pasca perang dunia II, Dior kembali memunculkan LBD di salah satu koleksinya, dan puncak popularitas gaun ini ketika Audrey Hepburn mengenakan busana rancangan Hubert de Givenchy untuk film Breakfast at Tiffany yang menyihir semua pecinta fashion. Sarung tangan hitam, kalung mutiara, dan terusan panjang minimalis (terjual di rumah lelang Christie seharga US$ 923.187/ idr. 8.7 milliar) membuat setiap wanita di dunia berkejaran ingin tampil mengenakan LBD ala Audrey Hepburn.

Sejarah pun menuliskan di Agustus 2010, perbendaharaan kata “Little Black Dress” resmi dimasukkan ke dalam Oxford Dictionary of English sebagai bahasa baru dalam bahasa Inggris.

Little Black Dress kini merupakan bagian dari gaya hidup, style yang menunjukkan karakter kuat para perempuan  berkepribadian cerdas, mandiri, anggun, dan memiliki kualitas.

“The zenith of elegance in any woman’s wardrobe is the little black dress, the power of which suggests dash and refinement” – Andre Leon Talley

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here