Mau Jadi Bencana Nasional atau Tidak, Bencana Lombok Tanggung Jawab Kita

0
92
https://www.liputan6.com/news/read/3623633/headline-hantu-gempa-di-hari-minggu-kapan-lombok-berhenti-berguncang

Di lini masa media sosial, masih saja ramai dibahas, penting tidaknya bencana gempa yang menimpa Lombok, dijadikan bencana nasional. Banyak yang menganggap, sudah saatnya pemerintah pusat mengangkat ini sebagai darurat nasional, meski sebenarnya, pemerintah sendiri, dalam hal ini, presiden, sudah bergerak, tak hanya mengunjungi para korban gempa, tapi juga memantau secara intensive, penanganan di daerah bencana.

Beliau, secara khusus, meminta para menteri di kabinetnya, bahu membahu, secara serius menangani bencana ini.

http://bogor.tribunnews.com/2018/08/21/gempa-lombok-jadi-polemik-di-kalangan-politisi-sikap-tuan-guru-bajang-dan-penjelasan-jusuf-kalla

Diketahui, Menkeu sudah menyediakan dana sebanyak Rp 4 trilliun sebagai dana alokasi bencana Lombok. Sementara Kemendagri juga sudah menerbitkan surat edaran untuk semua kepala daerah di negeri ini, agar ikut memberikan bantuan dari APBD mereka. Serta kita tahu, Kementrian PUPR beserta jajaran TNI, masih bekerja disana, membantu para korban gempa.

Namun, nyinyiran demi nyinyiran (maaf, saya tak bisa menyebutnya sebagai kritik, karena kritik seharusnya memberikan solusi, tak sekedar mencela), terus saja dilayangkan kepada jajaran pemerintah pusat. Presiden Joko Widodo dianggap tak serius menangani bencana yang ada, hanya karena tak menganggap ini sebagai bencana nasional, meski kenyataannya tak begitu.

Lucunya lagi, kejadian ini, juga dikait-kaitkan dengan seremony pembukaan perhelatan akbar Asian Games 2018, yang konon katanya hanya menghambur-hamburkan uang, tapi tak memikirkan bencana di Lombok. Di sini saya merasa embuh, ngga mudeng sama sekali, dengan pola pikir mereka yang nyinyir.

Padahal, jika mereka mau sedikit saja belajar membaca, pastinya sudah taulah, semua pos itu sudah ada dalam APBN.  Pemerintah tak mungkin sembarangan mengelola keuangan negara, hingga sama sekali tak mempunyai anggaran untuk pos bencana alam tak terduga.

Dan yang lebih konyol dari semua itu, sebagian besar dari para petinggi negara, para politikus, justru lebih banyak nyinyir terhadap aksi Presiden Joko Widodo, yang terlibat langsung dalam opening ceremony Asian Games tersebut. Aksi Presiden Joko Widodo yang mengendarai motor tersebut, sibuk diperdebatkan, apa memakai stuntman, atau tidak. Tapi, mereka justru abai, hampir tak ada komentar sama sekali, mengenai bencana alam di Lombok.

Alangkah lucunya bukan, masih banyak yang tak mengerti arti skala prioritas. Bukannya membahas bencana Lombok, yang jelas-jelas butuh kerjasama yang solid dari berbagai pihak, tapi justru membahas hal receh semacam stuntman. Celakanya lagi, ini adalah para petinggi negeri, para politikus, yang seharusnya patut menjadi panutan oleh rakyat, segala polah tingkahnya.

Warga korban gempa Lombok di pengungsian mengikuti HUT ke-73 RI (Liputan6.com/Sunariyah)

Seharusnya, bencana alam yang menimpa Lombok ini, menjadi prioritas utama kita, terlepas dari statusnya, apakah ini sebuah bencana lokal, nasional, maupun internasional. Karena ini adalah murni tentang kemanusiaan, tentang saudara-saudara kita, yang tengah mengalami kesusahan, yang hidup di ‘rumah’ yang sama, rumah kita, Indonesia.

Toh kita saja mampu, membantu serta mengulurkan bantuan kepada rakyat Palestina secara massive, yang jauh disana, masa iya untuk saudara sekandung di Lombok, kita tak mampu menyingkirkan segala keributan, untuk menyatukan hati, mengulurkan segenap cinta dan bantuan.

Duhai para petinggi negeri, tak letihkah engkau, meributkan hal yang tak perlu, semacam stuntman yang kalian anggap memalukan, meski sebenarnya, perdebatan kalian tentang hal ini lebih menyedihkan.

Tengoklah Lombok, masihkah kalian punya empati, sebagai sesama anak negeri?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here