Menjadi Ibu, Bukan Sekedar Produktifitas Mempunyai Anak

0
85
pixabay

Ada yang beranggapan, menjadi seorang ibu adalah takdir dari Yang Empunya Hidup. Padahal, anggapan itu tidak seratus persen benar. Menjadi seorang ibu, seringkali adalah sebuah pilihan dalam hidup, bukan sekadar takdir saja.

Kenapa?

Karena pada kenyataannya, setiap perempuan, berhak untuk memilih menjalani kehidupannya, berperan sebagai ibu atau tidak. Dikatakan sebagai peran, sebab pada kenyataannya, tak semua perempuan bisa melakoninya. Ya, ibu adalah sebuah lakon dari kehidupan. Sebab tak semua ibu yang ada di dunia ini, mampu melahirkan anak-anak yang mereka miliki dari rahim mereka sendiri. Pun tak semua perempuan yang melahirkan mampu berperan sebagai ibu bagi anak-anaknya.

Ibu di masa kini, adalah ibu yang harus mau dan mampu belajar untuk menjadi ibu bagi generasi milenial. Generasi yang tak hanya bisa mengiyakan semua aturan dan larangan. Melainkan generasi yang sudah mengerti apa itu hak tanya, hak jawab, serta mengerti alasan akan sebuah aturan. Belum lagi kemajuan teknologi yang semakin pesat, pada akhirnya menjadi tantangan tersendiri bagi para ibu untuk terus belajar, mengimbangi kebutuhan akan pengetahuan anak-anaknya.

Itulah mengapa, para perempuan di masa kini harus banyak belajar, mempersiapkan dirinya sebaik mungkin, untuk bisa menjadi seorang ibu. Karena pada dasarnya, menjadi seorang ibu, memang bukan hanya tentang bagaimana bisa mempunyai anak saja, tapi lebih dari itu. Diperlukan mental yang tangguh untuk bisa berperan sebagai seorang ibu. bukan hanya tentang menghadapi tantangan generasi milenial yang dilahirkan, melainkan juga menghadapi ego dalam diri.

Sudah bukan rahasia lagi, di era media sosial saat ini, banyak sekali para perempuan yang melupakan patron sebagai seorang ibu yang menjadi panutan anak-anaknya. Mulai dari cerita seorang ibu yang tega menjual anaknya lewat bisnis online, perselingkuhan, eksistensi yang kebablasan, seolah sudah menjadi cerita sehari-hari dari para perempuan masa kini, yang celakanya, justru menyandang status sebagai ibu.

Tak hanya sekali, terdengar cerita, seorang istri yang diceraikan suaminya, karena terlibat banyak hutang. Hutang demi bisa membeli barang-barang mewah, atau jalan-jalan, memenuhi egonya untuk bisa pamer di akun-akun sosial media. Melupakan konsekwensi atas perbuatannya, bahwa anak-anak bisa terluka, hanya karena memenuhi ego atas perhatian semu semata.

Itulah mengapa, kita sebagai perempuan, jangan mudah terhanyut dengan keadaan. Sebaiknya memang mengikuti perkembangan jaman, tapi tak larut, hanyut didalamnya. Belajar bijak mempelajari serta mempergunakan kemajuan teknologi yang ada. Gunakanlah teknologi, sebagai alat untuk mengajarkan sesuatu yang baik pada anak-anak kita, bukan untuk eksistensi diri, dan melupakan kewajiban untuk menjadi seorang ibu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here