Menjadi PNS, Aktivis NGO, atau Ibu Rumah Tangga?

0
71
Alimah Fauzan. Sumber foto: sekolahdesa.or.id / perempuanposo.com

Dulu saya sering ditanya apa pekerjaan saya. Karena saya sedang ditanya oleh ibu-ibu paruh baya yang sehari-harinya bertani, maka saya berusaha menjawab dengan istilah yang tidak rumit. Saat itu saya hanya menjawab bahwa kerjaan saya adalah menulis. Si ibu tersebut pun seakan paham, “Oh, jadi sekretaris? Hebat!”. Pekerjaan saya saat itu sebagai jurnalis. Namun, saat itu saya memang merasa kurang penting menjelaskan apa pekerjaan saya ke orang lain. Sebagai sopan santun dan menghargai kepada penanya, saya berusaha menjawab dengan sederhana.

Dulu, para orang tua di desa saya, pada umumnya hanya mengetahui nama-nama profesi tertentu. Misalnya guru, sekretaris, polisi atau polwan, insinyur dan dokter. Beberapa nama profesi itu yang cukup populer. Sekretaris berarti tukang nulis. Insinyur tukang ngukur (mengukur). Dokter tukang memeriksa (badan). Guru tukang ngajar (mengajar), dan lain sebagainya ada kata kunci tugasnya.

Saat saya mendapat pertanyaan tentang profesi saya, posisi saya memang masih sebagai jurnalis atau wartawan. Pekerjaan seperti melakukan reportase dan menuliskan hasil reportase saya, memang agak sulit dipahami oleh ibu-ibu di desa saat itu. Saat ini posisi saya berbeda lagi, saya bekerja melakukan sejumlah kegiatan. Bukan hanya menulis, namun juga sebagai fasilitator, kadang juga pengajar di kampus alias dosen, kadang juga meneliti dan sudah pasti menuliskan hasil penelitian maupun pembelajaran. Medianya pun tidak terbatas pada satu media, namun beberapa media. Pekerjaan lapangan dan kantor tak jarang saya lakukan. Di luar jam kerja di kantor, saya menulis untuk beberapa blog. Meskipun pada akhirnya tidak secara rutin. Biasanya saya bisa menulis di malam hari atau pagi buta, itu pun lebih sering di akhir pekan.

Nah kembali soal profesi, saya sering dinasehati lalu disarankan oleh orang-orang terdekat agar saya segera menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Atau kalau pun tidak menjadi PNS, setidaknya menjadi dosen tetap di salah satu perguruan tinggi, mengingat saya sudah bergelar master. Tapi apa yang terjadi sampai saat ini? Saya masih asyik dengan pekerjaan saya sebagai aktivis Non-Govermental Organization (NGO), atau kita bisa menyebutnya sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Istilah “aktivis” pun kadang disebut sebagai “pegiat”, meskipun memiliki makna yang berbeda.

Sebenarnya bukan hanya orang-orang terdekat seperti keluarga, namun juga oleh teman-teman. Tentunya, teman yang menyarankan saya adalah mereka yang sudah menjadi PNS atau dosen tetap. Bahkan oleh seorang teman lama yang nyaris tidak pernah ketemu. Hanya dua kali saya bertemu dengannya, yaitu saat kami sama-sama mengikuti sebuah kegiatan pelatihan di tahun 2009 silam. Lalu kami bertemu lagi di gedung kampus Pascasarjana salah satu Perguruan Tinggi Negeri. Saya bertemu kembali dengannya tahun ini (2018) pada pertengahan Maret lalu.

Dari luar kota, teman saya datang ke Yogyakarta untuk mengikuti pelatihan terkait sertifikasi dosen. Saya tidak sengaja bertemu dengannya. Saat itu saya baru saja keluar dari ruangan usai mengajar sebagai Dosen Tamu. Menjadi aktivis NGO, bukan berarti tidak bisa mengajar di kampus. Meskipun tidak rutin, saya sering diminta mengajar di kampus meskipun posisinya sebagai dosen tamu atau dosen kontrak di semester tertentu. Nah, teman saya itu pun kaget kenapa saya bisa menjadi dosen tamu di Program Pascasarjana.

Kami pun mulai mengobrol, tidak lama namun kalimat dia membuatku teringat pada saran keluargaku. Apalagi kalau bukan soal PNS dan menjadi dosen tetap? Dia berkali-kali meyakinkan saya bahwa jadi Aktivis NGO itu hanya sementara. Termasuk kalimat dia yang ini, “Sekarang sih enak sedang banyak funding, sedang jaya-jayanya, tapi lama-lama itu melelahkan Alimah. Kalau sudah jadi dosen tetap atau PNS kan enak hidup terjamin.” Yah, sebenarnya saya tidak kaget dengan kalimatnya. Saya juga dengan polosnya menjawab bahwa pekerjaan saya saat ini adalah passion saya. Saya juga sering sekali bahagia bukan karena saya mendapat gaji, tapi karena saya merasakan kebahagiaan orang lain dan perubahan mereka atau sistem yang menjadi lebih baik lagi.

Sebenarnya jika waktu pertemuannya tidak singkat, aku mungkin juga bakal kebablasan cerita lebih banyak lagi tentang kondisi saya. Misalnya, bagaimana kondisi keluarga yang membuat saya merasa nyaman memilih pekerjaan saya saat ini. Juga sekian hal positif bagaimana bekerja namun tetap belajar dan berkarya dan banyak hal lainnya. Tapi saya sangat menghargai masukan teman saya itu. Apalagi ketika dia memuji bahwa saya bisa mendapatkan pekerjaan dan penghargaan yang lebih dari apa yang saya dapatkan saat ini. Iya, saya paham maksudnya.

Tapi di luar alasan saya yang menurut orang lain terkesan klise, bisa jadi saya memang tergolong orang yang malas memenuhi prosedur untuk syarat-syarat menjadi dosen tetap, apalagi PNS. Tapi kalau soal kapasitas, saya bisa mengklaim diri saya mampu menjadi dosen. Karena faktanya saya sering diminta menjadi dosen beberapa mata kuliah tertentu. Hanya saja, ketika ada kesempatan pendaftaran dosen tetap dan maupun PNS, kondisi saya tidak memungkinkan untuk mengurus adminsitrasinya. Dosen-dosen senior yang mengenalku juga tak kurang memberikan informasi peluang-peluang itu.

Bukan Sekadar Nilai Materi

Lalu, sebenarnya apa inti dari cerita saya? Saya hanya ingin mengatakan bahwa menjadi dosen tetap ataupun PNS itu memang impian rakyat Indonesia pada umumnya. Termasuk saya pernah memimpikannya juga. Namun, pengalaman hidup dan spiritualitas seseorang itu tidak sama. Itu baru pengalamannya, belum lagi bagaimana dia mencoba bekerjakeras dan bertahan demi pengalamannya itu. Termasuk pengalaman merasakan bagaimana kita bebas berpikir kreatif dan melakukan inovasi tanpa dibatasi aturan yang ribet. Selain itu, menghargai apa yang sudah kita dan orang lain bangun. Meskipun saya sebagai aktivis NGO, namun saya juga punya mimpi untuk lembaga tempat saya bekerja. Bukan hanya memperjuangkan mimpi saya, namun juga bersama-sama tim yang lain ikut memperjuangkan mimpi lembaga.

Yang juga lebih penting lagi adalah “nilai”. Sebuah “nilai” baik atau tidaknya sebuah profesi tidak sekadar diukur berdasarkan jumlah materi yang dihasilkan. Atau bahkan dapat menjamin nasibnya kelak sampai seumur hidupnya atau tidak.

Saya memiliki seribu satu macam alasan mengapa saya tetap memilih sebagai aktivis NGO. Hal yang sama dengan kondisi yang berbeda juga dirasakan oleh banyak orang selain saya. Termasuk pilihan ibu rumah tangga (IRT) untuk tetap menjadi IRT atau merangkap sebagai pengusaha kecil-kecilan dari rumahnya. Bayangkan jika semua orang tetap memperjuangkan mimpinya sebagai PNS, lalu siapa yang akan menjalankan peran sebagai agen perubahan di ranah lain? Siapa yang akan mengawasi atau mengawal kebijakan yang tidak mampu dikawal PNS? Dan semua peran lain yang bisa jadi tak mampu dilakukan PNS?

Begitupun untuk IRT, jika semua ibu-ibu hanya mau bekerja menjalankan bisnisnya di dalam rumah, lalu siapa yang akan mengurus hal-hal yang akan menjalankan pekerjaan-pekerjaan di luar rumah. Misalnya seperti saya, saya bukan hanya bekerja di dalam kantor dengan menulis dan rapat. Lebih dari itu saya juga melakukan pekerjaan lobi dengan pemerintah daerah, sebagai fasilitator, menuliskan pembelajaran, dan melakukan monitoring dan evaluasi. Benar, semua hal itu bukan hanya membutuhkan kapasitas untuk bisa berpikir inovatif, namun juga butuh kehadiran langsung, mengetahui dan memahami apa yang mereka rasakan, pikirkan, dan butuhkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here