Menjemput Rejeki

0
76
Foto: pontianak.tribunnews.com

Perempuan itu mendekati mejaku sambil tersenyum malu-malu.

“Ada yang bisa dibantu, Mbak?” sapaku sambil membalas senyumnya.

“Saya mau minta dibuatkan surat pengantar untuk mengurus SKCK di Polsek, Bu,””jawabnya sambil menyodorkan berkasnya. “Untuk melamar pekerjaan,” tambahnya.

“Mau melamar ke mana?”

Senyum malu-malu itu tersungging lagi di bibirnya. “Mau melamar jadi driver online,” jawabnya.

Driver online. Istilah yang digunakan di kelurahan tempatku bekerja untuk orang-orang yang bekerja sebagai pengemudi angkutan umum berbasis aplikasi, baik pengemudi kendaraan roda dua maupun roda empat.

Tentu sudah berkali-kali aku memproses surat pengantar sebagai persyaratan melamar pekerjaan sebagai driver online. Namun ini pertama kalinya ada pemohon berjenis kelamin perempuan.

Kutatap perempuan di hadapanku. Dari KTP-nya, kutahu ia masih sangat muda. Tak jauh lebih tua dari putraku. Tubuhnya ramping, cenderung kurus. Kerudung membingkai wajahnya yang tirus dan nampak rapuh.

Ingatanku melayang pada para pengemudi berbasis online yang pernah mengantarkanku bepergian. Para pria itu bercerita tentang peliknya bekerja di jalanan. Terutama cerita tentang penolakan sopir angkutan konvensional terhadap kehadiran mereka, yang terpusat di wilayah-wilayah tertentu di kotaku. Penolakan yang tak hanya diluapkan secara verbal, kadangkala bahkan diwujudkan secara fisik.

Kalau para lelaki itu saja jeri, bagaimana perempuan semuda, serapuh ini menghadapi tantangan itu nanti? Bila tantangan verbal bisa diabaikan, bisakah tantangan fisik diatasi?

Aku tahu dia tak sendiri. Sebagai pengguna angkutan umum berbasis aplikasi, dua kali sudah aku mengalami disopiri perempuan. Yang pertama, seorang ibu berkerudung dengan putra-putri yang sudah dewasa. Semula ia hanya mengurus rumah tangga. Yang kedua, seorang alumnus perguruan tinggi di Yogyakarta yang memutuskan jadi driver selepas kuliah. Dari penampilannya yang sporty, aku menduga ia memang seorang berjiwa petualang.

Saat bercakap dengan dua perempuan itu pun sesungguhnya dalam hati sudah kuacungkan jempol pada mereka. Pekerjaan mereka tidaklah main-main. Keselamatan mereka (dan penumpang) adalah taruhannya.

Sambil membuatkan surat pengantar, sesekali aku melirik perempuan di hadapanku ini. Ah, aku salah menilainya. Wajahnya memang lembut, namun matanya yang bulat memancarkan tekad. Tekad yang sama, yang kulihat dalam pancaran mata dua perempuan yang pernah mengantarkanku dengan kendaraan mereka.

Tekad yang menyiratkan “aku mau” dan “aku bisa”.

Aku jadi ingat jawaban si ibu, ketika kutanya kenapa masih mau jadi driver online walaupun putra-putrinya sudah mapan. “Rejeki kan harus dijemput, Mbak,” jawabnya ringan. “Selama masih bisa, kenapa tidak dijalani?”

Perempuan itu tersenyum sambil menerima surat pengantar dariku. Senyumnya manis.

Ya, rejeki memang harus dijemput. Dan perempuan muda di hadapanku ini sebentar lagi menjemput rejekinya.

“Semoga lancar dan sukses ya, Mbak,” kataku padanya. Ia mengucapkan terima kasih.

Tak sekedar basa-basi, dalam hati aku berdoa untuknya.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here