Pelecehan Seksual Sebabkan Aktris Korea dan Adiknya Bunuh Diri

0
1077

Ramainya kasus pelecehan seksual online yang dialami Via Vallen dan malah mendapat banyak komentar jahat dari netizen maupun sesama artis wanita atas keberaniannya melawan dengan mempostingnya, merupakan tindakan yang boleh dibilang tak berperasaan.

Hal itu jugalah yang membuat para korban lebih memilih bungkam, karena penghakiman yang datang justru dari sesama wanita, dan kepada korbannya.

Jika tidak mampu untuk memberinya dukungan, bukankah sebaiknya lebih baik diam?

Tak berpikir akibat dari komentar-komentar jahat kepada korban pelecehan seksual online maupun langsung, juga tak berpikir bahwa komentar-komentar tersebut justru akan memberikan dukungan kepada pelaku, netizen Indonesia yang maha benar seharusnya memposisikan diri sebagai korban sehingga ia paham bagaimana rasanya mendapatkan pelecehan baik online maupun secara langsung.

Beban mental belumlah cukup untuk ditanggung, ada akibat-akibat lain yang akan dialaminya, selain akan mengalami hubungan yang buruk dalam pekerjaan, juga dapat berisiko pada kesehatan.

Ini adalah dampak yang umumnya dialami oleh korban pelecehan seksual.

Korban dapat mengalami depresi

Dalam sebuah studi baru-baru ini terhadap 1.000 pemuda, Blackstone menemukan bahwa orang yang dilecehkan secara seksual pada usia remaja dan awal 20-an dapat mengalami gejala depresi sampai usia 30-an.

Tak jarang pula korban pelecehan mengalami keraguan pada diri sendiri karena merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi.
Sikap menyalahkan diri seperti itu berdampak negatif pada kesehatan mental, termasuk depresi.

Korban juga dapat terkena post-traumatic stress disorder

Banyak penelitian menunjukkan adanya keterkaitan antara pengalaman pelecehan seksual terhadap gangguan stress pasca trauma (PTSD), yang meliputi kembali merasa trauma dan menghindari orang yang mungkin mengingatkan korban pelecehan tersebut.

Berdampak pada tekanan darah

Pelecehan seksual meningkatkan tekanan darah, menurut sebuah penelitian tahun 2008.
Studi tersebut melibatkan sekitar 1.200 pekerja dari Boston yang disurvei tentang penyalahgunaan di tempat kerja.

Sekitar 23 persen pekerja melaporkan setidaknya ada satu insiden pelecehan seksual. Para peneliti menemukan hubungan yang signifikan antara pelecehan seksual dan peningkatan tekanan darah pada wanita.

Pelecehan seksual dapat memicu jenis reaksi fisiologis yang sama persis seperti stres dan diperkirakan dapat meningkatkan penyakit kardiovaskular.

Korban mengalami gangguan tidur

Pelecehan seksual telah dikaitkan dengan gangguan tidur, kata seorang psikolog di California, Debra Borys.
Hal ini disebabkan karena stres dan kecemasan sehingga memengaruhi kebiasaan tidur.

Korban mungkin akan terbangun pada tengah malam lalu merenungkan kejadian tersebut yang menjadi sumber mimpi buruk.

Akibat paling fatal adalah bunuh diri

Sebuah penelitian di tahun 1997 terhadap lebih dari 1.000 siswa sekolah menengah di Kanada menyatakan bahwa pelecehan seksual dapat menyebabkan perilaku bunuh diri.

Studi tersebut menemukan bahwa 23 persen siswa telah mengalami setidaknya satu insiden sentuhan seksual, ancaman, atau ucapan tidak senonoh dalam enam bulan terakhir.

Dari wanita yang pernah mengalami sentuhan seksual yang tidak diinginkan, 15 persen mengatakan bahwa mereka berkeinginan untuk melakukan bunuh diri.

Bunuh diri adalah tindakan terakhir yang akan dipilih oleh para korban pelecehan seksual, di Korea Selatan, hal tersebut sudah lumrah terjadi, bahkan bagi para artisnya.

Korea Selatan, selain terkenal dengan para tokoh aktris dan aktornya yang memiliki wajah cantik serta tampan, negara tersebut ternyata juga menyimpan banyak sisi gelap yang kerap membuat para aktrisny melakukan tindakan bunuh diri.

Beberapa faktor pun kerap menjadi pemicu para artis Korea untuk melakukan tindakan nekat tersebut. Salah satu tindakan yang menjadi pemicu adalah kasus pelecehan seksual.

Dalam program MBC Morning Power Station, seorang ibu yang kehilangan dua putrinya dalam waktu satu minggu bercerita kalau anak pertamanya merupakan seorang mahasiswi dengan nilai yang bagus. Ia pun ditawari oleh adiknya untuk menjadi aktris pembantu dalam sebuah proyek.

Di situ lah semua tragedi berawal, anak pertama Nyonya Jang ini menjadi korban pelecehan seksual sebanyak 16 kali dari empat sutradara yang menggarap proyeknya. Setelah kejadian itu, aktris yang menjadi peran pembantu itu pun sifatnya berubah dan bahkan ia cuti dari sekolah.

Setelah ibunya melaporkan kasus ini pada polisi, hal tersebut membuat korban semakin tertekan karena ancaman dari para sutradara terkait. Bahkan orangtuanya, sampai harus mencabut gugatan yang dilayangkan.

Korban kemudian memilih untuk bunuh diri, hanya selang seminggu, adiknya juga ikut bunuh diri. Pasalnya, sang adik merasa bersalah karena mengenalkan pekerjaan itu pada kakaknya.

Meski kejadian ini terjadi pada 2009 dulu, ternyata para sutradara ini masih bekerja di dunia entertainment menurut statement Nyonya Jang. Ibu yang harus kehilangan putrinya ini berharap kalau para tersangka meminta maaf.

“Meski anak-anakku tidak bisa hidup lagi, aku ingin para tersangka meminta maaf,” ungkap Nyonya Jang.

Selain kakak beradik yang memilih mengakhiri hidupnya, salah satu yang cukup menggegerkan publik adalah kasus pelecehan seksual yang dialami oleh aktris Jang Ja Yeon.

Karena pelecehan seksual yang ia terima, Jang Ja Yeon pun melakukan aksi bunuh diri pada tahun 2009.

Ia ditemukan gantung diri dengan meninggalkan surat hingga 7 halaman.

Dalam surat tersebut, Jang Ja Yeon menuliskan 31 nama pengusaha dan petinggi dunia hiburan.

Nama-nama tersebut diduga yang memaksanya untuk melakukan hubungan seksual.

setelah 9 tahun, kasus tersebut dibuka kembali pasca sebuah petisi masuk ke Blue House.

Ia menulis surat yang menyebut jika dirinya dipaksa untuk minum bersama dan melayani para petinggi hiburan.

Lebih dari 40 petugas kepolisian bertugas selama 4 bulan untuk kasus ini. Namun tidak ada satu nama yang ditulis dalam surat yang diselidiki. Hanya CEO agensi dan manajernya yang diadili.

Petisi tersebut dimulai pada Februari 2018 dan telah ditandatangani lebih dari 230 ribu orang.Petisi itu berisi tentang pembukaan kembali kasus Jang Ja Yeon untuk diinvestigasi ulang.

Kemudian pada Selasa (5/6/2018), Kementerian Peradilan Korea Selatan resmi membuka kasus tersebut.

Kasus pelecehan seksual tentunya harus menjadi perhatian seluruh lapisan masyarakat.

Jangan biarkan pelaku pelecehan seksual bebas melakukan aksinya dan jangan takut untuk melaporkan kejadian ini pada pihak berwenang. Dan sebaiknya jangan mendorong korban semakin depresi dengan memberikan komentar jahat maupun penghakiman kepadanya.

Jika tak mampu memberikan dukungan, maka lebih baik diam, ketimbang memberikan komentar yang menyudutkan para korban.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here