Pengalaman Saya Mengaji Aliran Radikal

0
32045
Ilustrasi: Pixabay

Penulis: Niken Satyawati

Saya dan saudara-saudara saya sejak kecil sudah mengaji. Namun saat SMA saya mulai mengenal ajaran radikal. Kajian di masjid sekolah diisi ceramah ustadz muda bernama A yang terus mempropagandakan bahwa Islam sedang dizalimi sambil menggelorakan semangat untuk berjihad menegakkan kalimat Allah. Rupanya dia tidak hanya berceramah di masjid sekolah tapi juga beberapa sekolah sebelah. Si ustadz muda mengajak pertemuan-pertemuan di luar sekolah, namun saya tidak pernah ikut.

Gelora dan semangat menegakkan kalimat Allah mendorong saya bergabung dengan tiga rekan melakukan aksi nekat, yaitu masuk kelas serta ikut upacara bendera dengan mengenakan jilbab. Padahal waktu itu jilbab belum diperbolehkan di sekolah negeri. Walhasil kami dilarang masuk kelas selama masih memakai jilbab. Saya tetap masuk sekolah, namun hanya bisa belajar berempat di ruangan BP tanpa guru. Menjelang kenaikan kelas, ternyata jilbab resmi diperbolehkan di sekolah negeri. Kami pun bisa masuk kelas kembali, dan lolos dari ancaman tidak naik kelas.

Bersamaan dengan itu, saya berkenalan dengan ustadz muda lain, sebut saya namanya M. Dia membimbing kelompok mengaji yang diikuti salah satu teman sekolah saya. Dia menyarankan kami membaca buku-buku jihad di Afghanistan. Pergaulan mulai mendalam. Tak sedikit kawan yang tertarik untuk benar-benar pergi ke Afghanistan dan berperang melawan entah siapa. Pokoknya iming-imingnya kalau mati di sana dijamin syahid dan mendapat surga lengkap dengan bidadari. Untung akal sehat masih mengendalikan saya. Saya ogah terlibat lebih jauh. Tapi dari berita-berita yang saya ikuti, ternyata tak sedikit anak-anak Indonesia benar-benar pergi ke Afghanistan dan juga Suriah untuk berjihad.

Selain propaganda jihad, Ustadz A maupun M juga selalu mengobarkan semangat bahwa menikah muda itu baik. Sunnah satu ini kalau segera dilakukan maka separuh dari seluruh amalan agama. Begitu selalu katanya.

Apa yang kemudian terjadi? Kawan saya sebut saja X benar-benar menikah dengan siswa SMA sebelah. Di depan mata saya dia dinikahkan oleh seorang ustadz di suatu tempat, tanpa kehadiran kedua orangtuanya. Sampai di sini nurani saya memanggil. Semua sudah di luar akal sehat saya. Bagaimana mungkin pernikahan bisa dilakukan semudah itu? Bagaimana mungkin seorang anak tidak melibatkan orangtua dan keluarga besarnya untuk sebuah keputusan besar seperti ini? Orangtua X tidak tahu anaknya sudah melakukan hal sejauh itu karena keduanya pulang ke rumah masing-masing sehabis bertemu diam-diam.

Saya pelan-pelan menjauh dari X, menarik diri darinya. Dan karenanya saya hilang komunikasi dengan kawan saya ini saat lulus. Terakhir saya ketahui dia meninggalkan suaminya yang dari sekolah sebelah. Si suami mengalami depresi, sempat benar-benar gila dan kemudian mati muda. Sedangkan seorang kawan lain menunjukkan foto X tak lagi berjilbab.

Sementara itu kawan sekolah lainnya, Y, yang dulu juga ikut mengaji, suatu ketika saat kami masih SMA mengundang saya ke rumahnya. Di sana dia memperkenalkan laki-laki yg diakui sebagai sepupunya. Tapi belakangan saya ketahui laki-laki itu menjadikan kawan saya sebagai isteri keempat. Bersama lima anaknya dia hidup dalam keterbatasan. Anak-anaknya tidak ada yang sekolah. Mereka bahkan tak punya akte kelahiran. Y menjadi buruh jahit. Suaminya jarang pulang. Dua kali dia melahirkan sendiri hanya dibantu anaknya yg agak besar.

Usia SMA memang usia si mana anak-anak masih labil. Mereka merasa sudah dewasa dan berhak mengambil keputusan besar. Usia itu sangat menentukan. Labil tapi berani. Perpaduan yang ideal untuk rekrutmen teroris.

Kini saya berusaha merangkul anak-anak saya sendiri, agar tidak gampang dipengaruhi radikalisme mengatasnamakan agama.

Saya sendiri kadang tak percaya itu semua terjadi.

#sayNOtoradicalism #tolakradikalisme #lawanterorisme

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here