Perempuan Itu Menjadi Pemarah dan Penebar Kebencian Atas Nama Agama

0
2996

Oleh: Adinda Bintari

Sekitar 3 tahun lalu, ada seorang wanita yang sedang dalam proses cerai dari suaminya. Aku mengenalnya hanya melalui facebook. Setiap hari hanya umpatan dan kemarahan yang dia tulis di dinding facebook. Aku memahami, sangat sulit baginya menerima perceraian ini dikala dua anaknya masih kecil-kecil. Suaminya telah pergi tanpa tanggung jawab. Aku khawatir dia bunuh diri, dan membunuh anak-anaknya.

Suatu hari, aku berkehendak ingin membantunya. Aku menyampaikan padanya bahwa aku ingin menemuinya. Mungkin dia butuh teman untuk sekadar bercerita, atau bantuan menjaga anak-anaknya sampai proses perceraiannya selesai. Bahkan aku hampir membeli rumahnya karena saat itu keuangannya kacau balau dan dia hanya punya harta tersebut untuk melanjutkan hidupnya. Namun, pada hari yang ditentukan, dia tidak datang sama sekali. Tidak ada dia di alamat yang telah diberikannya kepadaku.

Sebenarnya aku kecewa. Aku datang menempuh jarak yang tidak dekat. Bagaikan Jakarta-Bandung bolak balik. Sampai-sampai aku batal datang ke undangan pernikahan sahabat lamaku hanya karena mau menemuinya. Tapi dengan mudahnya dia bilang, dia tidak bisa datang begitu aku sudah sampai. Oh God…
Ya sudah lah, mungkin perasaannya sedang sangat berkecamuk hingga tidak bisa berpikir teratur. Toh, selama ini dia juga tidak terlalu menghiraukan tawaran bantuanku.

Aku tidak lagi menghubunginya sejak saat itu.

Lama tidak muncul di facebook, dia keluar dengan tampilan baru. Berpakaian serba gelap dengan jilbab menjuntai panjang (bahkan terakhir kali kudengar, sepertinya dia sudah bercadar). Jauh sekali dari yang dulunya hanya suka pakai kaos dan celana pendek.

Alhamdulillah..
Aku turut bersyukur, peristiwa perceraiannya menjadi titik baliknya. Dia tampil lebih ramah dengan status-status facebook lebih Islami dan adem. Tidak lagi sering marah-marah seperti dulu. Aku melihat semangat hidupnya tumbuh kembali. Dia sudah mulai jualan online lagi dan menyapa teman-teman dunia maya.

Tahun demi tahun berlalu. Dia belum bersuami lagi, sementara mantan suaminya sudah beristri (aku baca dari statusnya ketika anak-anaknya hendak menjenguk neneknya).

Lalu, kuperhatikan ada yang berubah. Status-statusnya mulai provokatif dan mengerikan. Bukan lagi status-status dakwah adem ayem dan Islami yang biasa aku baca. Dia mulai terlihat seperti ‘polisi syariah’. Sudah mulai menghakimi ini haram, sesat, kafir, dan sebagainya. Teman-teman facebook yang tidak sejalan dengannya, mulai diunfriend, termasuk aku.

Sayang sekali… Di satu sisi, aku (dan mungkin banyak teman facebooknya), yang bukan siapa-siapanya, diam-diam turut mendoakan kebahagiaannya dan selalu memperhatikan perkembangannya. Bahkan tangan pun akan turun bila diminta bantuan, meski sekadar menggenggam tangannya agar dia yakin masih banyak orang yang berharap akan kehadirannya.

Aku senang dia menemui jalanNya, berserah diri pada Sang Maha. Aku turut bahagia dia menemukan teman-teman pengajian yang mampu mengalihkan dunianya dari keterpurukan. Tapi mengapa tidak berlangsung lama? Entah dari pengajian mana yang membuatnya mulai menjadi pemarah dan penebar kebencian atas nama agama?

Semoga dia tidak dimanfaatkan pihak-pihak yang ingin melakukan teror bom bunuh diri, apalagi mengebom dengan menggendong anak, seperti yang dilakukan oleh pelaku bom gereja Surabaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here