Perempuan Single Parent Stroke dan Lumpuh Antarkan Anak-anaknya Raih Pendidikan Tinggi

0
503
Christie Damayanti, arsitek senior, planolog, insan pasca stroke, penyandang disabilitas, filatelis, dan penulis buku. Foto: dok. Christie Damayanti

Tidak pernah menyerah pada keadaan seterpuruk apapun. Itulah Christie Damayanti, seorang arsitek dan planolog perempuan, saat di puncak kariernya tiba-tiba Tuhan memberikannya pukulan telak pada kehidupannya dengan bertubi-tubi.

Sebagai seorang single parent yang harus membesarkan dua anaknya, ia mengalami stroke. Lumpuh total awalnya. Tak lagi bisa bergerak, hanya di ranjang rumah sakit, tak bisa bicara, makan pun tak bisa karena mulut dan lidahnya sulit digerakan. Dari mulai kembali lagi belajar berbicara satu kata per kata, hingga ia tak menyerah kini justru mampu menuliskan lebih dari 30-an buku, yang bertema arsitektur dan planologi perkotaan, disabilitas, travelling, dan hobby filateli.

Sembilan belas tahun berlalu, kini ia telah mengantarkan anak-anaknya meraih pendidikan tinggi. Anak tertuanya, telah lulus S1 di bidang Desain Komunikasi Visual, dan sudah bekerja di sebuah perusahaan besar. Anak keduanya kini tengah menjalani pendidikan tingginya di Jepang.

“Aku ‘minus’ sebenarnya, tapi aku harus terus bekerja untuk anak-anakku,” ujarnya suatu kali.

Berikut ungkapan kebahagiaannya Desember 2019 ini saat anak pertamanya diwisuda, yang dituliskan pada akun FB-nya.

Ga sangka lho,

Ketika aku terserang stroke di San Francisco, Januari 2010,
Dan vonis dokter adalah, aku hanya bisa berbaring saja di sisa hidupku,
Dan aku sudah menjadi seorang “single parent”,
Tuhan memberikan Berkat yang luar biasa untukku…

Dennis lulus S1 tepat waktu 4 tahun, tahun 2019,
Michelle kuliah dan bekerja di Jepang,
Mereka sudah bekerja, mereka sudah mandiri,
Dan, mataku memerah sekarang…

Perjuanganku begitu berat,
Dengan tubuh lumpuh separuh, aku tetap bekerja,
Waktu itu tahun 2010, kedua anakku masih duduk di bangku SD,
Tubuh kiriku benar-benar kumanfaatkan untuk yang terbaik bagi anak-anakku…

Perjuanganku memang sangat berat,
Apalagi, setelah papaku dipanggil Tuhan tahun 2013,
Tidak ada yang mendampingiku secara fisik,
Hanya Tuhan Yesus-lah, aku terus bergantung…

Sekarang, hari ini,
Dennis lulus sarjana,
Peluh dan air mata terbayar lunas,
Hatiku berbunga-bunga, terus dan terus…

Tinggal menunggu Michelle menyusul Dennis 1,5 tahun lagi di Jepang,
Walau dia sudah mandiri, dia tetap belum lulus kuliah,
Dan aku tetap berjuang untuknya,
Paling tidak, untuk dia bergantung lewat hati dan pelukan…

Terima kasih, Tuhan Yesusku.
Terima kasih, atas semua Berkat-berkatMU untukku dan untuk keluargaku…

Praise to The LORD JESUS.

Note :
Aku diatas kursi roda, seorang ibu disabilitas,
Dengan bangga melihat anakku diwisuda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here