Refleksi Perayaan Hari Hijab Sedunia untuk Muslimah ‘Jaman Now’ Indonesia

0
129

Di kawasan Eropa, sampai dengan hari ini muslimah berhijab masih kerap terpinggirkan dan dibatasi ruang geraknya. Sehingga tidak berlebihan kiranya jika peringatan Hari Hijab Sedunia dianggap sebagai momentum sekaligus penanda terbukanya perspektif baru yang diharapkan bisa berdampak positif bagi kehidupan muslimah berhijab di seluruh dunia.

Menilik sejarah Hijab Word Day sama halnya dengan menengok biografi muslimah cerdas pencetusnya; Nazma Khan. Seorang perempuan asal New York yang pertama kali mengorganisir gerakan berhijab dan menyebarkannya melalui situs jejaring sosial dan berhasil menarik perhatian muslim dan non-muslim di lebih dari 50 negara di seluruh dunia.

Dengan alasan sebagian besar orang di negara-negara barat makin kerap mempropagandakan dan menganggap hijab sebagai simbol penindasan dan perbedaan yang menyebabkan para perempuan muslimah berhijab terjepit dalam stereotip negatif dan menjadi bahan perdebatan sehubungan kasus Islam dan teroris. Maka Nazma sengaja berinisiatif merancang Hari Hijab Sedunia untuk meredakan kontroversi tersebut sekaligus mendorong para perempuan non-Muslim dan perempuan Muslim yang belum mengenakan hijab untuk mengenakan dan mencoba mengalami sendiri seperti apa rasanya menggunakan hijab. Hal tersebut diharapkan agar bisa menjadi jalan kesetaraan dan upaya untuk menciptakan keadaan saling memahami di antara para perempuan di dunia.

Nazma Khan adalah seorang perempuan keturunan Bangladesh yang mengikuti keluarganya bermigrasi ke Amerika saat usianya masih 11 tahun. Tumbuh di kota asing dengan penampilan berbeda karena mengenakan hijab membuat Nazma kecil rentan diperlakukan secara diskriminatif baik di sekolah pun di kehidupan sehari-hari. Bertahun-tahun Nazma hanya bisa diam dan menyimpan luka akibat perlakuan yang berbeda dari orang-orang di sekitarnya. Hingga ia dengan pemikiran progresifnya mulai memasuki jenjang universitas dan perlahan menemukan keberaniannya. Nazma, muslimah muda yang cerdas itu mulai aktif membela ajaran-ajaran agamanya dengan mengerahkan segenap kemampuannya.

Hari Hijab Sedunia yang jatuh setiap tanggal 1 Februari ini adalah hari dimana semua orang di segala penjuru dunia, tidak peduli latar belakang dan apapun agamanya, mendapatkan kesempatan untuk mengenakan hijab. Tujuan utamanya untuk memberikan pemahaman kepada semua orang bahwa perempuan muslim yang mengenakan hijab bukanlah kelompok yang menakutkan dan radikal.

Sementara itu di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, Hari Hijab Sedunia mungkin bukanlah hal istimewa. Sebab hijab bukanlah barang baru yang mesti diperkenalkan dan dikampanyekan penggunaannya. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir hijab sudah ‘tenar’ sebagai pilihan berpakaian bagi sebagian besar muslimah. Sudah banyak selebritis dan para influencer media sosial yang berhijab dan menjadi role model bagaimana cara berbusana hijab yang fashionable.

Tetapi ada baiknya Hari Hijab Sedunia menjadi hari refleksi bagi para muslimah ‘jaman now’ Indonesia. Hari dimana kita bisa sedikit menilik ulang dan memikirkan ironi seputar hijab yang akhir-akhir ini marak. Terutama tentang keadilan penilaian dan perlakuan masyarakat terhadap muslimah berhijab dan tidak berhijab.

Berikut ini saya kutip kalimat favorit saya tentang hijab yang pernah diucapkan Inayah Wahid, yang saya anggap mewakili pemikiran serta keresahan saya pribadi.

“Ironis itu ketika perempuan yang tidak berhijab dianggap tidak islami dan kerap dibandingkan dengan mereka yang sudah menggunakan hijab. Sedangkan sebaliknya, mereka yang menggunakan hijab dan memakai makeup serta riasan bunga-bunga juga kerap dinilai kurang islami. Kadang-kadang semua orang seperti terlihat berebut untuk saling menilai buruk orang lain.”

Kutipan Inayah Wahid di atas bagi saya benar-benar menggambarkan bahwa persoalan hijab di negara yang mayoritas penduduknya muslim pun dalam tataran praktik berhijab para muslimah dan masyarakatnya juga memiliki tafsiran yang berbeda-beda. Meski kebebasan mengenakan hijab (dengan model seperti apa) atau bahkan tidak mengenakannya sama sekali sebenarnya merupakan tanggungjawab individu para muslimah itu sendiri.

Di Hari Hijab Sedunia yang keenam ini, sebagai muslimah jaman now Indonesia, tidak ada salahnya jika kita sedikit berkaca pada sosok Nazma dan para muslimah di negara lain yang bahkan untuk berhijab saja masih butuh perjuangan panjang. Mari kita sejenak mencari dan menggali dalam benak kita sendiri niat dan alasan kita memilih berhijab. Dan apapun jawaban yang kita temukan nantinya mari kita belajar untuk lebih bersyukur atas keadaan kita sebagai muslimah mayoritas yang memiliki ruang tanpa batas untuk berekpresi dan berbusana sesuai agama kita. Tidak lupa, pada akhirnya mari kita juga sedikit belajar menghargai pilihan dan kehidupan orang lain sebagai sesama muslimah terlepas mereka memilih berhijab atau tidak.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here