Saya Lolos dari Ajaran Radikalisme

0
655

Oleh: Nadia Rizkia

Jujur saja, peristiwa bom di Surabaya mengingatkan saya pada kejadian 18 tahun silam. Karena pelaku bom awalnya juga manusia biasa saja seperti saya, yang kemudian ditanami benih radikalisme dalam otaknya, tanpa dia  melawan.

Saat itu sekitar tahun 2000-an. Saya kos di daerah Depok. Teman satu kos saya, mengajak saya bertemu dengan temannya yang baru pulang dari Mesir. Menurutnya, dia punya info mengenai cara mendapatkan beasiswa di Mesir. Singkatnya, berangkatlah kami berdua ke daerah Tanjung Barat.

Sampai di sana, kami disambut kakak ganteng yang ramah dan full of smile. Keadaan rumah sepi, hanya ada 2 orang. Kami di persilahkan masuk ke kamar yang disulap layaknya ruang belajar. Ada meja, kursi dan whiteboard.

Hari pertama, si kakak bercerita mengenai kehidupan dia di Mesir sana. Tapi bagi saya, porsi cerita lebih kepada keimanan, tauhid, dan masih sejalan sama pikiran saya.
Setengah hari dia cerita, dan kami disuruh balik lagi untuk mendengar cerita selanjutnya. Kami pun pulang ke kos.

Hari kedua, kami datang lagi, dan mulailah dia brainwash saya dan teman saya dengan hal-hal yang tak bisa diterima akal sehat saya. Ajaran yang sama, yang dialami banyak orang yang lolos dari sana, (di antaranya diperbolehkan mencuri demi mendirikan negara baru, dan lain sebagainya) sama persis dengan pengalaman saya. Di sini saya merasa agak aneh. Karena guru ngaji dan ustad saya ngga pernah ngajarin hal semacam itu.

Dia juga bercerita, bahwa dia akan membuat negara berbasis islam, namanya “Negara Karunia Allah”. Kalo sekarang yang disebut negara khilafah itu. Saya mulai ngga nyaman, selama dia cerita, saya ngelirik teman saya. Dan sepertinya dia juga gelisah seperti saya.

Tibalah saatnya dia mau  berniat membaiat kami. Entah dari mana saya mempunyai kekuatan untuk berdiri dan bangkit. saya bilang ke kakak itu, bahwa saya ngga tertarik dan mau pulang. Saya bilang ke teman saya, “Mau ikut saya pulang atau stay di sini?“. Dan alhamdulillah teman saya ikut pulang bersama saya.

Setelah dibaiat, nantinya kita akan diberi nama baru, dan  menjadi orang yang paling ‘suci’, lalu mulai mengkafirkan orang lain, termasuk orang tua kita sendiri yang tidak sealiran dengan kita. Semua orang yang berada di luar ajaran tersebut adalah kafir.  Menikah pun hanya bisa dengan satu aliran itu. Beruntung saya menolak sebelum terjerat lebih dalam.

Pada saat saya keluar, ada beberapa anak-anak mahasiswa berkumpul, dan salah satu yang menarik perhatian saya adalah ada perempuan bercelana pendek dan pakai kaos sedang mengaji. Saya bingung dengan penampilannya dia. Setau saya, kalau mengaji ya pakai baju muslimah sepantasnya. Tapi sudahlah, saya hanya mau keluar dari rumah itu dan puang ke kosan.

Selama perjalanan pulang, saya bilang ke teman saya. bahwa kita harus hati-hati karena kita jauh dari orang tua. Apalagi teman saya ini orang tuanya di Medan.

Pulang dari sana, saya telpon kakak sepupu saya, mantan ketua rohis semasa SMA. Dia cuma bilang: “Loe sekarang nginep di rumah gue selama beberapa hari. Dan cepet kesini sekarang“. Singkatnya saya lalu ke rumahnya.

Pada saat saya sampai di rumah kakak sepupu, dia cerita bahwa bukan saya satu-satunya yang di-brainwash ajaran radikal. Dia sempet heran kenapa saya bisa lolos dari rumah itu. Karena menurutnya, biasanya kalo sudah masuk dan sudah tahu rahasia dan rencana mereka, saya akan ditahan.

Sudah banyak teman-teman dari kakak sepupu saya yang kena, dan dia cerita bahwa setengah mati susahnya untuk menyadarkan dan mengajak mereka balik ke pikiran normal. Dia bilang bahwa saya harus hati-hati, karena si kakak itu sudah tau di mana kos saya, di mana kampus saya. Dan saya mungkin akan dikejar terus karena saya sudah tau rencana mereka. Dan dia juga mengingatkan saya untuk melapor ke pihak kampus atau polisi jika saya terancam.

Dari pengalaman itu saya berpikir, jadi memang benar, gunakan akal pikiran yang sehat and follow your heart, it’s always right.

Jadi perempuan harus cerdas!

Jauhkan diri kita dan anak-anak kita dari ajaran tak jelas di luar sana.  Selalu awasi. Karena mereka mengincar anak-anak yang masih dalam masa pencarian jati diri dan sedang dalam masa ‘memberontak’.

Jangan takut untuk melawan jika tidak sesuai dengan hati nurani. Jika tidak, maka kita bisa terjebak pada kesalahan yang kita yakini benar, semakin dalam dan dalam, kemudian bisa menjadi pelaku bom seperti yang beberapa hari ini terjadi.

Dan saya bersyukur… Alhamdulilah, saya bisa melawan dan melewatinya..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here