Seks Pra Nikah ‘Friend Zone’

0
41

Perempuan dan Hujan

Saya mengenal dekat sahabat saya. Menjadi pendengar setia tidaklah sulit, hanya butuh kesabaran dan keahlian untuk mengambil kesimpulan. Mengenai solusi itu tergantung si pencerita mau diberi solusi atau hanya sekedar didengar saja. Karena tidak orang menerima solusi yang kita berikan.

Sebut saja Lily, saya sudah mengenalnya akrab sejak duduk bersama dibangku SMP. Tulisan singat ini pun juga atas persetujuannya. Sekadar berbagi cerita untuk pembelajaran dalam menjadi kehidupan.

Siapa sih yang tidak ingin memiliki teman dekat yang bisa diajak kesana kemari. Apalagi teman laki-laki, lebih bisa menjaga serta melindungi. Begitu juga dengan Lily yang sudah lama berteman dengan Kevin. Mereka berdua sudah lama dekat, tapi lebih lama persahabatan saya dengan Lily.

Sejak berbeda kampus Lily memang jarang menghubungi saya. Pertemuan sebulan sekali saja terkadang beberapa cerita masing belum kelar dibeberkan semua. Sebelumnya saya pikir, dia dan Kevin akan menjadi satu dengan hubungan yang lebih serius. Tapi kenyataannya berbalik.

Saat itu semester akhir, masa-masa skripsi, Lily menelpon saya malam hari. Dia mengatakan bahwa Kevin tidak menghubunginya lagi. Semua akunnya diblok. Saya sudah menebak sedang ada masalah di antara mereka. Di lain hari, hampir magrib dengan keadaan basah kuyup dia datang ke rumah saya. Memang sedang musim hujan. Saya pikir dia tidak membawa mantel, tapi saya lihat ketika dia membuka jok motor saat mengambil HP, ada mantel disitu.

Saya mengomel dari A sampa Z. Namanya juga sahabat dekat yang peduli. Namun, setelah kulihat mata Lily begitu merah saya langsung diam. Sedikit terbata saya mengajaknya masuk rumah. Saya suruh dia mandi dengan air hangat dan berganti pakaian.

“Banyak hal yang belum aku ceritakan, aku sudah terjebak friend zone dengan Kevin. Kami melampaui batas sekedar teman. Aku yang kena imbasnya. Dia sudah ada pacar.”

Saya tidak tahan melihatnya seperti orang frustasi. Rasanya si Kevin pengen saya maki habis-habisan. Tapi apa daya, bertemu saja belum. Lily memang tidak pernah memamerkan sedikitpun tetang Kevin. Kemungkinan, hanya beberapa orang yang tahu hubngan mereka.

“Rasanya kayak kehilangan suami, aku terlalu berharap lebih.”

Nah, seketika jantung saya kaget. Kehilangan suami? Saya tetap mendengarnya bercerita tanpa memotng dengan pertanyan-pertanyaan yang menyudutkan. Lagi-lagi seks pra nikah menjadi penghalang perempuan untuk bangkit dan berkarya.

Setelah Lily merasa tenang, saya suruh dia berbenah dan berdandan. Makan malam di luar serta jalan di mall pasti akan membuatnya tenang. Lily mengiyakan ajakan saya. Meskipun di luar masih sedikit gerimis. Saya suruh dia memakai mantelnya dan saya yang memboncengkan saja. Sebelumnya saya bertanya, kenapa dia nggak memakai mantelnya saat datang. Lagi-lagi jawaban orang yang rapuh memang menjengkelkan.

“Biar semuanya luruh jadi satu, hujan, air mata, dan jerit tangisku di jalan. Aku berharap semesta menyaksikannya. Kevin lagi apa ya, hujan-hujan gini sama pacarnya? ”

Saya jitak kepalanya supaya sadar dan perbincangan kualihkan dengan pemilihan menu makan serta tujuan.

Di awal memang saya tidak memberikan motivasi atau semangat apapun, karena saya tahu Lily hanya butuh didengar. Beberapa hari setelah itu, dia jadi sering menghubungi saya. Di saat itulah dia butuh motivasi dan semangat. Kegilaan dia, frustasinya dan kebiasaan menangis sambil hujan-hujan memang terjadi cukup lama. Tapi, lambat laun, dia sudah berhasil menyelesaikan skripsi. Saya ikut bahagia, apapun masa lalunya, Lily tetap sahabat yang bisa berbagi pelajaran hidup.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here