Soal Perempuan di Suatu Malam

0
792
pixabay

Malam itu, saya dan Agus Mulyadi berada di sebuah kafe di Yogyakarta. Itu kafe favorit kami karena pada malam-malam tertentu, band dr. Feelgood akan memainkan berbagai musik rock tahun 90-an yang hentakannya membangkitkan syaraf semangat. Hingga, tiba-tiba air muka saya berubah merengut, tak nyaman. Agus menangkap perubahan mood saya, lalu bertanya, ada apa?

Saat itu, empat orang bule perempuan turun melantai untuk berjoget dan menyanyi di depan para pemain band. Tiba-tiba, satu orang laki-laki bergabung bersama mereka. Awalnya asik-asik saja, hingga saya merekam adegan tangan laki-laki itu celamitan ke bahu, paha hingga bokong si bule perempuan sambil memasang ekspresi muka mesum. Laki-laki itu bahkan tidak bisa mengikuti lagu yang sedang dimainkan. Ia hanya bertingkah sok asik, hingga kemudian mencari celah untuk melancarkan sexual harassment.

“Kenapa sih perempuan yang berjoget dan menyanyi tidak bisa diartikan bahwa ia memang menikmati lagu sehingga ia juga semata ingin berjoget dan menyanyi, tanpa harus mendapat stigma bahwa mereka “nakal” atau “mengundang” sehingga bebas dicolek atau dipegang?” gerutu saya pada Agus.

Saya dan Agus sering berdiskusi perihal keadilan gender. Pada awalnya, itu motivasi pribadi, saya ingin lebih banyak lagi laki-laki yang paham tentang perspektif keadilan gender, tetapi pada perkembangannya, saya juga butuh banyak pandangan Agus sebagai laki-laki untuk mengurai berbagai topik obrolan.

Misalnya, ketika saya bertanya tentang pakaian SPG (Sales Promotion Girl). Ada beberapa pekerjaan perempuan yang beresiko mendapat pelecehan dan kekerasan seksual, SPG adalah salah satunya. Biasanya, jika ada empat SPG yang sedang menawarkan rokok kepada publik di sebuah konser, pasti ada seorang laki-laki yang mengawasinya.

“Aku pernah membaca sebuah buku psikologi dalam pemasaran. Psikologi laki-laki dan perempuan berbeda. SPG parfum dan kosmetik banyak perempuan karena perempuan bisa mengagumi perempuan lainnya. Sedangkan SPG rokok tidak bisa laki-laki, karena umumnya laki-laki kalau lihat sesamanya yang lebih keren itu jatuhnya justru terintimidasi dan merasa kalah secara kompetisi, itu tak baik buat ilmu jualan,” Agus menjelaskan.

“Tapi tentunya, laki-laki bisa mendidik diri untuk menilai profesi SPG lebih dari sekadar paras dan tubuhnya. Demikian pula untuk profesi lain seperti front office, aktris, dan lain-lain.”

Ia bersepakat. Lalu, menambahkan sesuatu.

“Tetapi manusia lahir dengan sifat-sifat biologis. Terpancing secara seksual adalah naluri purba laki-laki. Laki-laki lebih berpotensi jadi pemerkosa karena secara biologis, alat kelaminnya dapat menjadi eksekutor atas tubuh perempuan dengan lebih mudah, sedangkan perempuan, alat kelaminnya tidak dapat atau sulit melakukan peran sebaliknya.”

Saya lalu menyampaikan kalau saya sesungguhnya bosan dengan diskusi soal pakaian perempuan sebab seringkali ujungnya hanya dimanfaatkan oleh jaringan penjual pakaian syar’i dengan strategi jualan yang sangat menyebalkan, yakni menyajikan dalil yang diinterpretasi secara patriarkis bahwa seluruh tubuh perempuan adalah fitnah, lengkap dengan menyebutkan daftar siksa yang akan diterima perempuan karena berapa helai rambutnya yang nampak atau warna lipstik yang nemplok di bibirnya.

Maka, agar tidak melulu berangkat dari teks, para ulama perempuan yang lahir dari Konggres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) selalu mengajak untuk berangkat dari konteks (realita yang ada di lapangan). Realitanya, tragedi perkosaan massal perempuan selalu ada dalam persimpangan sejarah negeri ini. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) tragedi itu menemukan motif tragedi terjadi karena perempuan mudah diidentifikasi, perempuan minim daya dukung politik, perempuan lemah secara biologis dan rentan trauma psikologis sehingga mudah dijadikan alat untuk pembangkit kerusuhan yang politis.

Kenyataannya, Yuyun berangkat sekolah lalu diperkosa belasan laki-laki remaja. Yuyun tidak berpakaian seksi dan tidak menggoda. Ia hanya berjalan sendirian untuk berangkat sekolah di jalanan kampungnya yang kebetulan bermedan sulit dan sepi. Lalu, laki-laki remaja yang memperkosa secara massal lalu membunuhnya itu berada dalam posisi anggapan bahwa mereka memiliki power yang lebih untuk merisak Yuyun, sebuah kegiatan aktualisasi diri yang sungguh bajingan sebab barangkali mereka tidak punya ruang alternatif aktualisasi diri yang lain.

Akhir-akhir ini, ada banyak gerakan yang lahir dari keprihatinan terhadap nasib perempuan. Sebut saja kampanye #StopVictimBlaming yang meminta agar publik berhenti menyalahkan bagaimana perempuan korban berpenampilan, kampanye #MeToo yang mendesak semua perempuan agar tidak takut bersuara jika pernah mengalami kejadian pelecehan seksual, dan yang paling baru, kampanye #MosqueMeeToo yang digagas Mona Elthahawy yang menemukan ironi bahwa di Mekah ketika tengah berhaji sekalipun, perempuan kerap menjadi korban.

Kampanye #StopVictimBlaming, #MeToo dan #MosqueMeeToo lahir dari tragedi-tragedi yang selama ini dianggap sebagai sekadar statistik. Perempuan korban yang telah sakit secara biologis dan psikis, rentan menganggap dirinya sampah, tidak lagi mendapat dukungan dari keluarga, mendapat cibiran dari masyarakat dengan berbagai stigma “tidak suci”, dan ditambah, ketika dengan segenap keberanian melapor ke polisi, ternyata polisi malah bertanya: pakaian apa yang anda kenakan ketika dilecehkan atau diperkosa? Kan jancuk banget saudara-saudara. Jadi, kampanye-kampanye yang sedang diperjuangkan oleh para penggerak perempuan ini tidak lahir dari ruang yang hampa budaya dan kosong sejarah.

Kami lalu setuju untuk membawa diskusi soal penampilan perempuan ini ke dalam konteks kebudayaan. Meskipun saya mencintai pergerakan perempuan, tetapi kampanye tertentu seperti #TubuhkuOtoritasku kadang agak menggelitik pula. Ini bukan persoalan mendukung atau tidak mendukung, tetapi sadar diri saja bahwa kampanye tersebut nampak utopis dan mustahil wujud di Indonesia yang sudah kita terima keberagaman dan kekomunalannya. Misalnya, manusia-manusia pada masa berabad-abad lalu, hingga suku-suku yang hingga hari ini bertelanjang dada, faktanya aman-aman saja, sebab mereka nyaman melihat jenis pakaian tertentu dalam ruang kebudayaan mereka. Di Bali, perempuan dengan bikini aman-aman saja. Tetapi, menjadi tidak aman jika beredar di tempat lain yang tidak biasa melihat orang dengan pakaian terbuka beredar di jalanan. Jika anda datang pengajian ke Ngruki dengan memakai tanktop, lalu dipaksa memakai kerudung, itu bukan Muslim Ngruki yang fasis, tapi anda yang nekat.

Jika kita sepakat untuk beragam dan komunal, strategi kampanye yang berpusat pada individu, freedom, kebebasan pribadi tanpa batas, kadang-kadang terdengar banal dan terasa hipokrit.

Jadi, siapkah mulai mengobrol topik gender sederhana seperti ini di rumah-rumah anda?


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here