Suara Hati Keturunan Tionghoa di Indonesia

0
3686

Sebuah tulisan menyentuh di linimasa FB tersebar di media sosial, termasuk WA. Isinya kegundahan keturunan Tionghoa yang tinggal di negeri Bhineka Tunggal Ika ini, yang sesungguhnya telah selesai membahas persoalan perbedaan antar agama, ras dan etnis untuk hidup berdampingan di negeri yang indah ini. Namun akhir-akhir ini kerukunan antar umat beragama dan etnis seperti disayat-sayat beberapa bagiannya. Seperti ada pihak-pihak yang terus mencoba mengoyak kedamaian di bumi pertiwi.

Adalah akun Mimi Hilza yang menuliskan kegundahannya. Berikut isinya:

Saya tidak melihat satu pun dari kawan-kawan yang pernah sibuk meneriakkan kemarahan mereka entahkah itu soal ada ayat yang dinistakan, ulama dinistakan atau masjid dibakar, mau angkat bicara sedikit soal kasus yang menimpa ibu Meiliana. Pun ustad-ustad yang pandai bicara dan mempengaruhi umat itu, kalian tidak mau ikut sedikit bersimpati? Kalian mungkin sedang tidur nyenyak setelah mabuk beragama bersama-sama, ya?

Kasus yang menimpa ibu Meiliana bisa terjadi pada siapa saja. Bahkan pada saya sendiri sebagai perempuan keturunan jika andai saja saya bukan penganut Islam.

Saya melebih-lebihkan? Oh, tidak.

Kemarin siang Ibu saya yang bermata sipit itu bercerita. Saat duduk berdua dengan Ayah saya di teras rumah mereka, anak-anak kecil mampir dan mengejek mereka.

“Cina! Dasar Cina!”

Ibu saya dengan kening berkerut lalu bertanya, “Apa kalian bilang?”

Anak-anak itu tak gentar malah semakin berteriak.

“Memang Cina! Cina harus dibasmi!”

Saya terdiam. Inginnya berkata, Ma…jangan didengarkan. Mereka cuma anak-anak. Tapi saya memilih diam dan mencoba meresapi rasa malu yang menjajah dari kepala hingga ujung kaki. Beliau bilang akan menutup separuh pagar dengan lapisan supaya orang tak lagi bebas memandang masuk ke dalam teras. Ya, itu lebih baik. Mengalah pada yang merasa benar.

Terbayang apa yang terjadi jika ibu saya pun berani mengeluhkan suara toa yang berisik. Tak ada masalah pun, anak-anak kecil yang entah diajar apa oleh orang tuanya sudah begitu berani menunjukkan betapa rasisnya mereka.

Kalian tidak sadar, betapa menyedihkannya persoalan ras dan agama di negara ini?

Jikalau rumah ibadah kita diganggu, kita mendadak gagah berani dan berani mati menyerukan jihad. Ketika rumah ibadah bahkan rumah tempat tinggal orang lain dirusak asalkan tidak seiman, mari kita bermasa bodoh.

Jika ada manusia pongah berkelakuan tercela asalkan seiman, kita maklumi sebagai bentuk persaudaraan sesama muslim. Sebaliknya, kekeliruan dari pihak di luar Islam, tanpa perlu selidik apakah itu murni salah paham atau benar bentuk penistaan, kita pukul rata sebagai penghinaan atas Islam. Kita wajib tersinggung.

Apakah benar ada ajaran bermasa bodoh semacam itu diajarkan dalam Islam?

Oh, ya. Dua dekade usia saya yang Cina ini mengenal Islam. Kalian yang Islam sejak lahir tentu jelas lebih tahu.

Sumber: https://www.facebook.com/mimihilzah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here