Ternyata 4 Politikus Ini Juga Pernah Termakan Hoaks Memalukan

0
87

Kasus yang menimpa Ratna Sarumpaet merupakan sejarah politik yang memalukan. Bagaimana tidak, menjadikan muka bengep paska operasi plastik sebagai berita pengeroyokan. Saking besarnya efek dari hoaks tersebut, banyak yang mengusulkan bahwa tanggal 3 Oktober dijadikan Hari Hoaks Nasional, dimana pada hari itu Ratna Sarumpaet mengakui kebohongannya.

Berita hoaks sebenarnya sudah merajalela dari dulu dan beberapa politikus juga pernah termakan isu-isu tersebut. Meski dampaknya tidak separah yang terjadi baru-baru ini. Berikut tokoh yang pernah menjadi korban hoaks:

  1. Soekarno

Presiden Soekarno pernah tertipu pasangan suami-istri bernama Idrus dan Markonah pada tahun 1950-an. Mereka mengaku sebagai raja dan ratu dari Suku Anak Dalam di Sumatera yang hendak menyumbangkan hartanya untuk kepentingan pembebasan Irian Barat dari tangan Belanda.

Kedatangan Idrus dan Markonah disambut para pejabat di Indonesia waktu itu, yang kemudian memperkenalkan mereka ke Presiden Soekarno. Soekarno pun mengundang ‘raja dan ratu’ tersebut ke Istana Merdeka, dengan perlakuan layaknya tamu terhormat.

Namun kedok mereka terbongkar ketika berjalan-jalan di sebuah pasar di Jakarta. Seorang tukang becak mengenali Idrus, yang ternyata adalah rekan seprofesinya. Wartawan pun kemudian melakukan investigasi dan menemukan bahwa Markonah adalah seorang PSK di Tegal, Jawa Tengah.

2. Adam Malik

Pada tahun 1970-an, Wakil Presiden Adam Malik mengundang seorang perempuan bernama Cut Zahara Fona ke Istana Merdeka. Perempuan asal Aceh itu membawa kabar geger bahwa janin di dalam perutnya bisa mengaji. Beberapa ulama saat itu membenarkan berita aneh tersebut. Buya Hamka, pendiri Majelis Ulama Indonesia, seakan mendukung dengan mengatakan bahwa jika Tuhan menghendaki segalanya, maka terjadilah.

Di Istana, Adam Malik menempelkan kupingnya ke perut Cut Zahara demi mendengarkan sendiri suara si janin. Menteri Agama KH Mochamad Dachlan pun ikut membenarkan cerita itu.

Tapi kemudian pendapat skeptis pun bermunculan. Dilaporkan surat kabar Kompas, tim dokter mengatakan bahwa tidak ada janin di dalam rahim Cut Zahara. Seorang dokter menekankan bahwa bayi dalam kandungan belum bisa bernapas normal sehingga tidak dapat mengeluarkan suara.

Kepala kepolisian daerah Kalimantan Selatan, Brigjen Abdul Hamid Swasono, yang juga tidak percaya bahwa manusia bisa bicara di dalam air ketuban, memerintahkan anak buahnya untuk mengungkap kasusnya.

Akhirnya polisi menemukan alat pemutar kaset di dalam pakaian Cut Zahara. Tape recorder itu memutar suara tangisan bayi dan bacaan ayat-ayat suci Alquran. Pada tahun 1970-an teknologi tape recorder masih menjadi barang baru di Indonesia.

3. Megawati

Pada awal tahun 2000-an, Presiden Megawati Sukarnoputri mendapat informasi dari Menteri Agama, Said Agil Husin Al Munawar, bahwa di situs prasasti Batu Tulis, Bogor tersimpan harta peninggalan Prabu Siliwangi. Harta itu disebut cukup untuk membayar utang negara.

Said Agil mengaku mendapat informasi dari seorang ustaz yang tidak disebut namanya. Presiden Megawati lantas menunjuk Said Agil untuk memimpin pencarian harta karun itu. Maka penggalian pun dilakukan. Tapi bukannya menemukan harta karun, Said Agil malah diprotes warga karena dianggap merusak situs peninggalan sejarah.

Atas reaksi masyarakat, Said akhirnya menghentikan penggalian. Kepada media, Menag mengatakan penggalian juga dihentikan karena salah satu dari empat orang yang ditunjuk untuk menggali situs itu tidak berhati bersih sehingga harta karun itu raib.

Dikutip tempo, Said berkata ada pihak-pihak terkait yang menginginkan pembagian harta karun itu untuk pribadi. “Ada yang tidak ikhlas sehingga hartanya keburu raib.”

4. Susilo Bambang Yudhoyono

Mengolah air menjadi bahan bakar adalah ide yang menarik dan sekilas terdengar masuk akal. Air, dengan rumus senyawa H2O, mengandung hidrogen, dan hidrogen adalah bahan bakar.

Pada 2008 pria asal Nganjuk, Djoko Suprapto, mencetuskan proyek mengubah air menjadi bahan bakar dan proyek ini didukung oleh Presiden (SBY). Presiden SBY diperkenalkan dengan Djoko dan temuannya ini oleh staf khusus presiden Heru Lelono. SBY kemudian mengundang Djoko untuk presentasi di kediamannya di Cikeas. Ia menyebut temuan ini sebagai blue energy (energi biru).

Bahkan, sempat disediakan lahan untuk pabrik blue energy yang berjarak hanya dua kilometer dari Puri Cikeas. Lahan seluas 5 hektar itu dikelola oleh PT Sarana Harapan Indo Group, perusahaan yang terkait dengan Heru Lelono.

Masalahnya, untuk memisahkan hidrogen dari H2O – melalui proses yang disebut elektrolisis – dibutuhkan listrik dalam jumlah besar, biasanya dibangkitkan oleh tenaga nuklir. Sehingga energi yang dibutuhkan untuk melakukannya lebih besar dari energi yang dihasilkan.

Belakangan, Joko meminta maaf karena tidak bisa mengubah air menjadi bahan bakar. Ia pun terlibat kasus hukum karena “proyek abal-abal” lainnya, pembangkit listrik Jodhipati yang diklaim lebih murah dari PLN.

Ia akhirnya divonis 3.5 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Bantul setelah dinyatakan terbukti bersalah menipu rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sehingga universitas itu dilaporkan menderita kerugian Rp1,345 miliar.

Tak lama setelah itu, pemerintahan SBY kembali tertipu oleh varietas padi yang disebut Supertoy HL2. Lagi-lagi diangkat oleh staf khusus Heru Lelono, yang menurutnya padi itubisa meningkatkan hasil panen dari 3-4 ton per hektare menjadi 15 ton serta bisa dipanen tiga kali dalam sekali tanam.

Presiden bersama ibu negara dan jajaran kabinetnya menghadiri panen perdana padi Supertoy HL2 di Desa Grabag, Purworejo, Jawa Tengah. Waktu itu, Presiden menyatakan bahwa inovasi teknologi baru ini perlu didukung sepenuhnya oleh pemerintah sebagai upaya mewujudkan swasembada pangan nasional.

Tetapi ketika musim panen tiba, para petani di desa itu melakukan protes lantaran padi “varietas unggul” yang mereka tanam terkena puso alias kopong.

Menurut tim peneliti dari Fakultas Pertanian UGM, padi Supertoy termasuk dalam kelompok padi tipe lama yang hanya memiliki kemampuan produksi 3-4 ton per hektare — jauh dari 15 ton per hektare yang digembar-gemborkan. Padi tersebut merupakan hasil penyilangan dari varietas padi rojolele dengan pandanwangi, sehingga memang bukan jenis varietas dengan potensi produksi tinggi.

Sumber: Bbc.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here