Ada 12,4% Perempuan Bersedia Jihad, Menko PMK: Jangan Mau Diadu Domba

0
89
Yenny Wahid. Foto: Nalikoy Sarwom

Wahid Institute merilis hasil survey mengenai “Tren Toleransi Sosial-Keagamaan di Kalangan Perempuan Muslimin Indonesia,” kemarin (29/1/2018) di Hotel JS Luwansa, Jl. HR Rasuna Said, Jakarta.

Pie chart by Redaksi PeranPerempuan.id

Dari hasil survey yang dilakukan oleh LSI (Lembaga Survei Indonesia) terungkap bahwa 80,7 persen perempuan Indonesia mendukung hak kebebasan menjalankan ajaran agama atau keyakinan.

Sementara itu juga terungkap ada sebanyak 12,4% perempuan yang mau berjihad kekerasan. Jihad kekerasan yang dimaksud adalah mengorbankan nyawa, perang dan angkat senjata, dan balas dendam.

Ketika pertanyaan yang diajukan lebih spesifik, terungkap fakta-fakta bahwa:

  1. Ada 27,6% perempuan responden pernah menyumbang dalam bentuk materi untuk tindakan radikalisme
  2. Ada 17,6% perempuan pernah meyakinkan orang lain ikut memperjuangkan syariat Islam
  3. Ada 8,4% perempuan pernah melakukan demonstrasi terhadap kelompok penoda agama
  4. Sejumlah 7,4% perempuan pernah ikut razia
  5. Sebanyak 5,6% perempuan membantu kelompok Islam yang memprotes penista Islam
  6. Dan ada 1,1% perempuan responden yang mengaku pernah terlibat penyerangan terhadap rumah ibadah pemeluk agama lain

Dalam kegiatan yang dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani mengajak seluruh masyarakat agar selalu mengamalkan nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila. “Jangan mau kita diadu domba,  kita itu Indonesia, kita itu bangsa Indonesia, maka dari itu kita harus bersatu dalam mempertahankannya,” tegas Menko PMK.

Turut hadir dalam kesempatan ini, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembesie; Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid; Ibu Shinta Nuriyah Wahid; Pimpinan Pusat NU,  Sri Mulyati; Ketua UN Women Sabine Machl; serta undangan lainnya.

Potensi radikalisme tetap menjadi sesuatu yang perlu diwaspadai. Karena potensi radikalisme tersebut menghasilkan tindakan radikalisme yang berbahaya. “Ada sebuah fakta bahwa ada yang bersedia untuk mempersembahkan dirinya melakukan upaya bom bunuh diri ke Istana. Bahkan sudah menuliskan surat wasiat kepada keluarganya.” jelas Yenny.

Survei ini juga didukung didukung oleh UN Women dan Wahid Foundation. Ini adalah bagian dari program UN Women yang didukung Pemerintah Jepang bertajuk ‘Perempuan Berdaya, Komunitas Damai Indonesia 2017-2018’. Sebanyak 54,7% survei dilakukan di Jawa, selain itu dilakukan pula di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Nusa Tenggara, dan Bali.

UN Women Representative Sabine Machl sempat menjelaskan jika survei ini dilakukan sebagai upaya mendukung peran perempuan dalam membangun kohesi sosial dan kontribusinya dalam menanamkan toleransi serta perdamaian.

“Perempuan memiliki peran penting dalam menyebarkan nilai-nilai kepada keluarga dan komunitas. Namun, potensi dan kontribusi dari perempuan dalam perdamaian, sejak dulu, seringkali diabaikan. Oleh karena itu, sekarang inilah saatnya membuka potensi perempuan sebagai agen perdamaian,” kata Sabine.



Web Analytics Made Easy - StatCounter


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here