Skip to main content
Categories
EditorialGaya HidupInspirasiKeluarga

Alternatif Pertanyaan untuk Lebaran Lebih Menyenangkan

Lebaran akan menjadi momen paling menyenangkan jika tidak diganggu pertanyaan basa-basi model: “Kapan wisuda?”, “Udah sarjana kok nganggur?”, “Gajimu berapa?” “Kapan nikah?”, “Nggak nambah adek buat si kecil?”, “Kapan nggak ngontrak lagi?”, “Kerja serabutan begitu memang ada gajinya?”,“Kok kuliah/kerja di sana, kan lebih enak di sono, lebih bla bla bla ….”

Khusus untuk perempuan, kasta tertinggi basa-basi horror tersebut biasanya adalah yang berbau body shaming. Contohnya, “Kamu kok kurusan/gendutan/jerawatan/dll sekarang?”

Meski kadang tidak bermaksud untuk menyakiti orang lain, faktanya sebagian besar pertanyaan tersebut lebih sering membuat tidak nyaman. Selain memang tidak berguna dilontarkan karena terlalu mencampuri urusan orang lain, juga efektif membuat mood nge-drop di suasana lebaran yang seharusnya penuh ceria dan kehangatan.

Namun yang sering ditemui, meski sebenarnya tidak senang kalau ditanya hal-hal semacam itu, kebanyakan orang malah melontarkan pertanyaan yang sama jika bertemu orang lain -terutama yang jarang bertemu-. Bukan lantaran sungguh-sungguh kepo, tapi karena bingung memulai pembicaraan. Yah, Indonesia memang tidak bisa lepas dari budaya basa-basi kan? Tidak seru juga kalau sesekali bertemu terus diam-diaman.

Nah, berikut ini peranperempuan.id sudah menyiapkan alternatif pertanyaan yang bisa Ladies sekalian terapkan, tak hanya untuk momen lebaran, namun berguna juga untuk momen yang lain.

Hindari pertanyaan “kapan” saat bersilaturahmi, kecuali untuk “Kapan sampai?” bagi mereka yang sebelumnya berada di kota lain. Hindari juga mengomentari fisik orang lain, secakep atau sejelek apapun mereka di matamu. Tidak penting! Kalau memang merasa perlu sekali mengomentari fisik, coba katakan “Wah, kamu kelihatan segeran banget sekarang!”. Dijamin kamu dapat tambahan pahala lewat senyum yang tersungging di wajahnya.

Untuk mereka yang belum lulus sekolah/kuliah, lebih baik bertanya tentang kegiatan studinya atau dunia pendidikannya. “Jurusanmu itu, apa saja yang dipelajari?”, “Fasilitas sekolah/kampusmu apa saja?”, “Ikut club apa?”, “Semangat dan sukses terus pendidikannya, ya?!”

Untuk mereka yang baru lulus namun belum dapat kerja, berikan selamat atas kelulusannya. Tanyakan rencana masa depan dan beri masukan atau dukungan jika dirasa perlu. “Habis ini mau lanjut kuliah apa kerja?”, “Pengennya kerja di mana?”, “Untuk fresh graduated, perusahaan model A kaya’nya lebih bla bla bla …”, “Kenapa nggak coba apply beasiswa ke Polandia? Lagi banyak penerimaan tuh.”

Untuk mereka yang sudah bekerja namun belum menikah, fokuskan pertanyaan pada karirnya. Jangan pernah merendahkan apapun bentuk pekerjaannya saat ini. Mau freelancer, mau serabutan, mau bisnis atau pegawai, semuanya bukan urusanmu. Lebih baik tanya seperti ini, “Kerja begitu tanggung jawabnya apa aja ya?”, “Sibuk proyek apa nih?”, “Kemarin waktu ngelamar prosesnya ribet nggak? Harus banyak portofolio-kah?”, “Ada rencana menekuni bidang lain?”

Kalau memang merasa perlu sekali untuk menanyakan soal jodoh, cari tahu karena faktor belum/tidak mau menikah atau sekadar belum bertemu. Stop bertanya jika memang belum/tidak mau, setiap orang punya alasan sendiri. Namun jika belum bertemu… mungkin bisa jadi kesempatan untuk mengasah skill ‘Mak Comblang’-mu. Jika ternyata ybs. sudah punya calon, doakan saja untuk kelanggengan hubungan mereka. Menanyakan proses awal kedekatan mereka rasanya juga akan lebih bikin senyum-senyum ketimbang “kapan nikah?”.

Untuk mereka yang sudah berumah tangga, cukup tanyakan kabar dan kesibukan masing-masing anggota keluarga. Bisa juga bertanya atau berbagi tips dan kiat-kiat seputar keluarga atau parenting. Hindari benar topik jumlah-anak-ideal-dalam-keluarga menurut versimu. Mau jumlah anak mereka di angka 0 maupun 13, sungguh bukan urusanmu. Lebih baik tanyakan hal lain seperti, “Keluargamu ikut asuransi? Kalau dana terbatas, mending pilih asuransi apa ya?”, “Anakmu dileskan/dikursuskan nggak? Plus minusnya kalau anak kursus apa ya?”, “Kalau disuruh milih, antara emas, saham, atau properti, investasi mana yang diambil? Kenapa?”

Alternatif pertanyaan tersebut tentunya bisa dimodifikasi dan diimprovisasi sesuai keadaan masing-masing lawan bicaramu. Namun ingatlah selalu untuk bertanya hal-hal yang lebih bermanfaat ketimbang pertanyaan nirfaedah yang sering kali hanya Tuhan yang tahu jawabannya.

Nah, punya contoh pertanyaan alternatif lain yang lebih menyenangkan? Tambahkan di kolom komentar ya…

Web kolaboratif, konten adalah tanggung jawab penulis (Redaksi)

Subscribe our newsletter?

Join Newsletter atau Hubungi Kami: [email protected]

Inspirasi
BelanjaKarirKecantikanKehidupanKeluargaIndeks
Let's be friends