Apa Sebenarnya Yang Kalian Inginkan Wahai Para Buruh?

0
444

Seminggu lagi adalah Hari Buruh Internasional. Dan setiap hari buruh itu datang, ada saja demo yang berlangsung dengan tuntutan yang beraneka ragam. Hingga sering kali saya dibuat bingung sendiri. Selain demo yang bikin macet, kadang diselingi oleh aksi anarkis pula. Padahal nyaris semua permintaan buruh dipenuhi oleh pemerintah.

Beberapa hari ini, saya membaca berita bahwa buruh akan melakukan demo lagi pada tanggal 30 April. Untuk apa lagi? Disaat kedaan sedang genting karena pandemi virus Covid-19, disaat pemerintah menerapkan social distancing dan mengharuskan masyarakat untuk di rumah saja, para buruh malah nekat mau turun ke jalan.

Menurut Said Iqbal, presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) berencana menggelar aksi unjuk rasa untuk menolak omnibus law Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta kerja pada 30 April 2020. Padahal menurut pemerintah RUU itu dibuat demi untuk kesejahteraan para buruh. Namun buruh masih saja beranggapan bahwa RUU Cipta kerja itu jika di sahkan menjadi UU justru akan merugikan para buruh. Jadi mana yang benar?

Kemudian saya mencoba mencari tahu, apa sih isi dari RUU itu yang dianggap merugikan para buruh itu? Ternyata ada 5 poin yang menurut mereka sangat merugikan, yaitu : upah minimum kota atau kabupaten terancam hilang, besarnya pesangon PHK berkurang, menghapus cuti haid bagi perempuan, nasib outsorcing semakin tidak jelas dan karyawan dapat dikontrak seumur hidup. Tapi saya tak ingin membahas soal kelimanya tadi, saya justru ingin menyoroti hal lain.

Setiap tahun buruh berdemo, berbondong-bondong datang ke pusat kota Jakarta, menuntut ini dan itu. Tapi apa yang saya lihat, beberapa yang datang menggunakan sepeda motor sport pabrikan dari Jepang. Dengan CC diatas 120, tentu saja harganya tak murah. Belum lagi dengan gadget keluaran tebaru yang dibandrol dengan harga jutaan. Apa itu yang dibilang jika kehidupan buruh itu pas-pasan?

Buruh yang berdemo menggunakan motor sport

Saya tidak menyamarakatan semua buruh seperti itu. Mungkin mereka yang berdemo dengan menggunakan motor mewah hanyalah ‘oknum’ yang menyelinap diantara kerumunan buruh. Tetapi tetap saja membuat geram banyak orang yang melihatnya.

Demo dianggap sebagai sarana untuk menyalurkan aspirasi. Memang tak dilarang, tapi disaat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, apa urgensinya melakukan demo? Yang seperti ini yang membuat penyebaran virus Covid-19 semakin massif. Apa Said Iqbal dapat menjamin para buruh tidak akan berdesak-desakan? menjaga jarak? melakukan sosial distancing? Belum tentu.

Said Iqbal ketika melakukan wawancara

Belum lagi kertika mereka demo, semua berteriak dan air liur mereka pun menyembur kemana-mana. Sedangkan mereka tak ada yang tahu, siapa diantara mereka yang menjadi carries atau pembawa penyakit. Hand sanitizer saja tidak cukup untuk menangkal virus Covid-19. Jika kemudian sakit, apa yang bisa mereka lakukan? Yang ada, mereka juga akan menambah beban para petugas medis.

Sejauh ini, saya mendengar kabar jika pihak kepolisian sudah memutuskan untuk tidak mengizinkan para buruh melakukan demo. Bagi saya, itu sudah keputusan yang paling tepat yang diambil pihak kepolisian. Namun jika saja masih ada yang nekad melakukan demo, hanya orang pandir sajalah yang melakukannya. Dan jika kemudian ada buruh yang terpapar virus Covid-19, maka Said Iqbal lah yang harus dimintai pertanggung jawabannya.

• RINA •

Seseorang yang doyan makan tapi bisa masak. Suka baca dan sedang belajar jadi penulis.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here