Bahas Seks dengan Anak, Perlukah?

0
172
pixabay

Jika berbincang seputar edukasi seks dianggap tabu, anak akan mencari tahu pendidikan seks dari sumber lain yang belum tentu tepat. Tugas orang tua membantu pemahaman anak dan mencegah pengaruh lingkungan dan media informasi yang semakin mudah diakses, sehingga bisa dihindari kejadian seperti video viral yang marak dibicarakan oleh para orangtua tentang anak balita menonton video porno dengan tatapan ekpresi polos.

Suatu malam kami bertiga (saya, suami dan anak) main game online bersama sebagai hadiah sukses mengerjakan soal latihan matematika. Selain memang hobi, alasan saya dan suami ikut bermain untuk mendampinginya karena banyak pemain lain kerap melontarkan kata-kata kotor dan makian sepanjang pertandingan. Fungsi rekreasi sekaligus sebagai pengawas dan saringan awal kami dapat dalam satu momen.

Sepanjang pertandingan ponsel anak saya berdenting beberapa kali pertanda ada notifikasi chat masuk. Membaca pesan yang masuk, mimik wajahnya mendadak merah merona dan pindah ke kamar sebelah untuk membalas chat. Kami saling melempar tatapan penasaran.

Tak berselang lama ia kembali muncul dengan ekspresi muka lega. “Saya barusan di chat ketua kelas saya, dia cerita abis diledekin gara-gara ketahuan suka sama saya. Ya sudah saya bilang aja nggak usah didengerin, cuekin aja. Saya juga nggak mau pacaran…, ingat pelajaran agama. Nanti kalau sudah besar terus saya suka sama cewek, langsung saya ajak nikah gitu.”

Kami menghela nafas, rasanya baru kemarin dia masih cadel kalau ngomong, pipis masih suka ngompol, sekarang baru menuju dewasa saja sudah ada cewek yang naksir. Sedari kecil kami sudah membekali dia dengan pengetahuan tentang seks dan agama dengan harapan kelak dia bisa membedakan hal baik dan buruk sehingga tidak terjerumus ke jalan yang salah.

Bagi kami berbincang soal seks bukan hal tabu. Tentu saja kami memberi informasi disesuaikan dengan umur dan daya tangkapnya. Kami ingin menjadi yang pertama baginya mengenalkan pengetahuan tentang seks. Jangan sampai ia mendapatkan informasi seks yang tidak sesuai dengan konsumsi umurnya dari media sosial.

Berikut informasi yang dapat diberikan kepada anak berdasarkan umur, dikutip dari berbagai sumber. Sehingga daya tangkap anak bisa memahami informasi yang kita berikan.

Usia 0 – 3 Tahun

NICE: Name It, Claim, Explain

Mulailah mengenalkan bagian tubuh kepada anak sesuai dengan nama anatominya, termasuk organ kelamin seperti alis, tangan, kaki, penis, vagina dan lain sebagainya. Jangan mengenalkan dengan nama kiasan seperti ‘burung’ untuk menunjukkan penis.

Pahamkan anak tentang perbedaan anatomi tubuh pria dan wanita. Jelaskan padanya proses kehamilan dan kelahiran bayi. Beri keberanian kepada anak untuk menolak bila ada orang asing menyentuh bagian sensitif tubuh seperti pantat dan kemaluan.

Usia 3 – 5 Tahun

Tanya Jawab

Pada usia ini anak memasuki fase ‘kepo’ terhadap apa pun yang bisa ia indera. Pun dengan informasi seksual. Bangun proses komunikasi dengan menjawab semua pertanyaan skeptisnya, jadikan diri kita sahabat yang bisa mengobati dahaga ke’kepo’annya. Tanamkan padanya konsep rasa malu. Misalkan malu telanjang di teras rumah.

Usia 5 – 8 Tahun

Ajarkan Kesantunan Gender

Bersiaplah, si kecil akan memasuki masa puber. Zaman now, anak usia 9 tahun sudah mulai memasuki masa puber. Di era informasi tanpa batas penting bagi kita untuk mengenalkan apa itu homoseksual, lesbian, biseksual, heteroseksual dan transgender. Ajarkan di acara bersikap yang benar jika suatu saat berinteraksi dengan orang-orang tersebut. Jelaskan pula bahaya penyakit yang mengancam bila melakukan kegiatan seks menyimpang.

Usia 8 – 10 Tahun

Kekerasan Seksual

Biasanya anak di usia ini tidak secerewet saat masih kecil. Namun jangan salah, dalam diam ia memendam rasa penasaran yang jauh lebih dalam. Mereka cenderung ingin mencari sendiri jawaban atas rasa penasarannya. Di masa ini kita harus peka dengan perubahan sekecil apa pun pada anak. Tapi jangan sampai membuat anak merasa diintimidasi dan menjadi tidak nyaman berbincang dengan kita.

Anak sudah bisa mengerti bila kita ajak diskusi tentang kekerasan seksual dan pernikahan. Anak juga mulai bisa merasakan sensasi geli dan kenikmatan ketika bagian sensitif tubuhnya terkena gesekan. Beri penjelasan secara ilmiah bahwa hal tersebut lumrah terjadi.

9 – 12 Tahun

Hubungan Yang Sehat

Anak mulai merasakan getaran tak wajar saat melihat atau berinteraksi dengan lawan jenis. Bahkan tidak sedikit yang sudah mengenal pacaran. Dalam situasi ini Anda bisa duduk menjadi teman berbincang setara dan menjelaskan hubungan yang baik dan sehat antara pria dan wanita.

13 – 18 Tahun

Nikmatnya Curhat

Anak Anda sudah dewasa sekarang. Anda sudah cukup memberikan mereka bekal di usia sebelumnya. Jadi jangan terlalu banyak memberikan larangan, namun jadilah teman curhat yang baik baginya. Berilah nasihat dan solusi bagi setiap permasalahan yang dia hadapi. Bangun keberaniannya untuk memulai hubungan dengan lawan jenis dan keberaniannya untuk tampil di depan public. Serta keberanian untuk melawan jika mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan.

18+

Jadilah Teladan

Hargailah bila anak Anda sudah mulai memiliki privasi. Berbagilah cerita Anda di masa muda. Misalkan kisah perjuangan Anda untuk memikat hati ibu anak Anda. Anak akan melihat Anda sebagai sosok yang patut diteladani. Sehingga resiko anak terjerumus ke lembah hitam semakin kecil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here