Bahaya Jilbab Terlalu Tebal, Kepala Bisa Panas dan Kurang Oksigen

0
290
Penjelasan ilmu fisika mengenai pemakaian jilbab oleh Prof. Dr. Mikrajuddin Abdullah.

Seiring waktu fashion penggunaan jilbab di Indonesia telah mengalami perubahan. Kalau kita bisa melihat bagaimana para pengguna jilbab di era 2-3 dekade sebelum ini. Jilbab digunakan dengan kerudung yang tipis dan sering hanya 1 lapisan saja. Kalaupun ada lapisan dalamnya, bahannya juga cukup tipis hingga bisa menopang rambut agar tidak berantakan dan nyaman dipakai di kepala.

Kini kita kerap melihat berbagai model fashion penggunaan jilbab yang macam-macam bentuknya. Hingga ada yang terlihat sangat tebal menutup kepala. Berlapis-lapis bahan kain ditumpuk di kepala entah untuk terlihat seperti apa.

Prof. Mikrajuddin Abdullah, dosen fisika ITB mengungkapkan bahwa, “Untuk meningkatkan kenyamanan pemakai jilbab, mungkin para disainer perlu mempertimbangkan aliran udara dan kalor antara kepala dan udara luar.”

Ahli fisika itu mengatakan, “Pemakaian jilbab makin nyaman jika kalor dan udara (khususnya oksigen dan uap air) dapat menembus jilbab dengan mudah. Dengan demikian tidak terjadi peningkatan suhu berlebihan di kepala dan tidak terjadi penumpukan keringat/uap air di kulit kepala.”

“Untuk itu, material untuk jilbab lebih bagus jika memiliki koefisien difusi tinggi dan konduktivitas termal yang tinggi. Atau bisa juga tetap menggunakan material yang sama dengan yang digunakan saat ini, tetapi desain jilbab harus memudahkan pola aliran udara dan kalor. Ke depan, mungkin para disainer perlu memahami software simulasi fenonema transport atau melibatkan ahli simulasi fenomena transport saat merancang jilbab. Dan lebih bagus lagi jika saat menggunakan jilbab, kepala terasa lebih sejuk,” jelasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here