Begini Kesaksian Suami Isteri yang Sedang Berwisata ke Tanjung Lesung Saat Tsunami

0
407
Foto: Yanti Wij

Pasangan suami isteri, Mursid Wijanarko dan Yanti Wij yang kebetulan sedang berwisata ke Tanjung Lesung tidak pernah menduga sebuah kejadian luar biasa terjadi. Syukurnya mereka berdua selamat. Begini kesaksian mereka yang dituliskan di laman akun Facebooknya.

Ya Allah ya Rabbi, sabtu 22 Des jam 19.00 saya dan suami berada di Pantai yang paling parah diterjang Tsunami, Pantai Tanjung Lesung Pandeglang. Setelah sebelumnya bersepeda dari Serang ke Tanjung Lesung.

Karna alergi gatal2 saya kumat dan saya gak tahan dengan nyamuk yg gerilya menggigit. Maka Kami pulang ke Hotel Blue Ocean yg lokasinya disebrang Jalan dan lebih tinggi.

Jam 21.00 lebih petugas Hotel menggedor kamar dan menyuruh Kami bergegas ke jalur Evakuasi dan mengungsi ke atas bukit. Hingga jam 01.00 malam Kami menunggu diatas bukit. Turun bukit jam 01.00 malem. Dibawah sudah penuh dengan Korban selamat yang luka2, kedinginan dan kehilangan keluarga dan teman.

Sampai jam 4.30 subuh saya mendampingi para Korban. Kebetulan HP saya dipake tuk komunikasi mereka dg keluarga dan teman2. Alhamdulillah para Korban sangat tenang, tegar dan tabah. Mereka berkomunikasi dengan baik, sabar dan kuat. Bagian anak2 kecil yg terluka, basah kedinginan bisa tidur tenang. Gak Ada yg mengeluh, panik dan emotional. Semuanya terkendali. Mereka keluarga2 kuat yang teruji.

Tanjung Lesung
PANDEGLANG BANTEN

Yanti Wij.

Suami Yanti Wij, Mursid Wijanarko akhirnya ikut turun terlibat menjadi relawan untuk proses evakuasi korban tsunami. Berikut kesaksian dan video yang direkamnya.

Sejak tsunami mereda, berbagai pihak langsung turun mencari korban. Puluhan orang dari PMI, BPBD, Pramuka, TNI, warga, dan Tagana bergerak menyisir pantai.

Salah satu korban ditemukan di pinggir sungai yang jaraknya hampir 40 meter dari garis pantai Tanjung Lesung. Di lokasi yang berjarak sekitar 1 km dari tempat wisata, ditemukan 6 korban meninggal.

Demi pencarian, mereka bahu-membahu bersama, sambil meniti resiko ombak naik lagi. Mereka tak pernah berpikir menonjolkan diri dan membanggakan diri sebagai orang-orang pertama yang terjun menolong.

Inilah kemurnian rasa kemanusiaan sesungguhnya. Inilah keikhlasan sejati yang jauh dari rasa ingin dipuji.

Semoga Allah menerima dan membalas seluruh amal ikhlas mereka.

Mursid Wijaranko

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here