Cadar, Sebuah Kontroversi

0
96
Ilustrasi: pixabay

“Because you are women, people will force their thinking on you, their boundaries on you. They will tell you how to dress, how to behave, who you can meet and where you can go. Don’t live in the shadows of people’s judgement. Make your own choices in the light of your own wisdom.”

“Karena kamu perempuan, orang-orang akan memaksakan pikirannya terhadapmu, batasan-batasanmu. Mereka akan mengatakan bagaimana berpakaian, berperilaku, siapa yang bisa kau temui dan ke mana kamu bisa pergi. Jangan hidup dalam bayangan penilaian orang lain. Buatlah pilihanmu sendiri dalam cahaya kebijaksanaanmu.”

– Amitabh Bachan-

Febuary kemarin, nama Vida Movahed, menghiasi banyak headline berita di seluruh dunia.

Apa pasal?

Source: https://www.nytimes.com/2018/02/03/opinion/sunday/iran-hijab-women-scarves.html

Movahed, ibu muda dengan seorang anak ini, melepaskan hijabnya, di tengah keriuhan gerakan perempuan Iran, dalam Iran Movement atau dalam bahasa Parsi, dikenal dengan sebutan #girls_enghelab_street. Movahed, melepaskan hijabnya, mengikatnya di sebuah batang kayu, dan mengangkatnya selayaknya sebuah bendera di antara massa yang melakukan aksi diam, juga warga Teheran.

Para perempuan Iran saat itu, turun ke jalan, dalam rangka memprotes hukum di negara tersebut, yang mewajibkan para perempuan untuk berhijab, mau atau tidak, wajib hukumnya untuk semua perempuan Iran, memakai hijab, tak terkecuali. Sementara para perempuan Iran merasa, hijab adalah ranah pribadi mereka, hak mereka untuk mau memakai atau tidak, sama halnya dengan pakaian lain yang ingin mereka kenakan.

Sementara di Indonesia, beberapa hari lalu muncul kontroversi, tentang peraturan yang UIN Yogyakarta keluarkan, bahwasanya tak memperbolehkan mahasiswinya bercadar saat melakukan kegiatan perkuliahan. Pihak UIN tak mau, dengan ada banyak mahasiswi bercadar, membuat universitas tersebut terlihat sebagai universitas radikal. Sebuah alasan yang sebenarnya lucu, kalau tak bisa dibilang konyol.

Bagaimana tidak menjadi sebuah pernyataan yang amat sangat lucu, saat seseoranng dinilai, distempel hanya karena pakaian yang ia pakai. Bercadar dianggap radikal, teroris, lalu yang memakai rok mini dianggap nakal, urakan, kasar, bisa dibeli, begitu? Sejak kapan tingkah laku seseorang, kapasitas akademiknya, ditimbang melalui pakaian yang ia kenakan?

Perkara cadar ini, memang tak mudah dibahas, jika semua pihak hanya mencari pembenaran sendiri-sendiri, tanpa mau duduk bersama, berbicara, bermusyawarah untuk mencari solusi.

Kenapa?

Karena sudah selayaknya cadar, sama halnya dengan hijab, kemben, kebaya, rok mini, atau daster sekalipun, merupakan ranah personal si empunya tubuh. Hak semua perempuan, untuk memakai apapun yang ia ingin pakai, sepanjang apa yang ia pakai, tak merugikan orang lain to?

Masih banyak solusi yang bisa dipakai, jika saja pihak universitas mau memakai, dengan fingerprint misalnya, untuk perkara absensi, atau ujian yang memang rawan. Meski sejujurnya, ini hanyalah perkara kulit, alias sesuatu yang sebenarnya tak perlu dibikin ribet, sepanjang kedua belah pihak mau legowo, duduk bersama dalam mencari solusinya.



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here