Cerita Seorang Volunteer Tentang Para Atlet di Asian Games 2018

0
226
Para relawan Asian Games 2018. Foto: Nugrahita, Annisa Lova.

Berakhirnya penyelenggaraan Asian Games 2018, meninggalkan kesan tersendiri bagi siapapun yang ikut meramaikan suasana di sana. Tidak terkecuali bagi Nugrahita Probogaluh, seorang volunteer yang bertugas sebagai Liaison Officer (LO) di divisi sport. Ia bertanggung jawab mendampingi kontingen selama pelatihan dan pertandingan, memastikan jadwal mereka sudah tepat, segala kebutuhan selama di venue terpenuhi, juga mengarahkan mereka ke press conference seusai pertandingan.

Menjadi volunteer memang bukan pengalaman pertama bagi perempuan asal Jakarta Utara ini. Ia juga pernah menjadi volunteer di berbagai kegiatan sosial dan Asian Paragames pada bulan Juli lalu di divisi akreditasi. Ketika tahu bahwa salah satu temannya di komunitas Michael Jackson Lovers menjadi volunteer di Invintational Tournament Asian Games, ia pun tertarik lalu menanyakan bagaimana cara mendaftarkan diri ke sana. Maka, beberapa bulan sebelum acara ini diadakan, Nugrahita harus mengikuti serangkaian test terlebih dahulu, yang terdiri dari psikotest, focus group discussion dan interview. 

Di tengah keseruan mendampingi para atlet dari berbagai Negara, ternyata ia juga pernah mengalami kesalahan teknis yang membuatnya kalang kabut. Pada suatu hari, ada beberapa atlet meminta es batu untuk berendam setelah sauna. Padahal stock es saat itu sudah dihabiskan oleh atlet dari Korea Utara yang sengaja membawa kolam karet sendiri, hingga membuat para volunteer kebingungan. Pernah juga di hari terakhir Asian Games, para volunteer mengira atlet yang akan latihan hanya segelintir saja, sehingga platform baris tengah dibereskan. Namun ternyata masih banyak yang datang. Akhirnya, mereka pun kewalahan membagi dan mencarikan platform untuk atlet-atlet tadi.

Meski sebenarnya, semua itu tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang telah didapatkan Nugrahita selama menjadi volunteer. Ia mendapat banyak teman baru, relasi, pengalaman, kenangan juga kebanggaan yang luar biasa indah dan besar. Kejadian lucu pun ikut mewarnai pengalamannya di sana seperti ada atlet yang usil, bercanda dan nyanyi bareng ketika mereka memenangi pertandingan. Atau ketika ada satu atlet asal Tajikiztan bernama Ilkhomjon Shukurov yang datang sendiri dari negaranya tanpa didampingi coach maupun official, seperti bolang yang suka tiba-tiba muncul tanpa pemberitahuan.

Selain itu, banyak pelajaran yang patut dicontoh dari para atlet Asian Games ini. Bukan hanya kekuatan fisik dan mental yang mereka punya, tetapi keteguhan, kedisiplinan dan tekad mereka yang luar biasa. Mendorong siapapun untuk bisa lebih percaya pada kemampuan sendiri, dan bahwa satu-satunya batasan yang ada adalah diri kita sendiri. They are the real heroes for their own country!

Berbicara tentang kekaguman, jika kebanyakan perempuan Indonesia melting ketika melihat Jonathan Christie, lain dengan Nugrahita yang mengagumi atlet asal Irak, Safaa Rashid, yang memenangkan medali emas dalam pertandingan weightlifting. Menyaksikan performanya saat latihan, Nugrahita sudah yakin bahwa Safaa akan menang.

Ditanya tentang pencapaian Indonesia sendiri yang berhasil membuat kemajuan dengan memboyong 31 medali emas, Nugrahita mengaku bangga bisa turut membantu perjuangan mereka dengan caranya sendiri, menjadi bagian dari sejarah bangkitnya Indonesia dalam bidang olahraga. Ia berharap, ke depannya Indonesia bisa lebih mempertajam atlet-atletnya lagi. Karena bagaimanapun kita banyak menang di pencak silat yang belum tentu dipertandingkan kembali di Asian Games selanjutnya apalagi dalam Olimpiade.

Satu-satunya duka yang dialami sepanjang perjalanan di Asian Games 2018 adalah berakhirnya tugas menjadi volunteer. “Aku sedih saat weightlifting selesai (sebelum pindah ke judo) karena bond antara aku dan atlet di weightlifting sudah kuat. Jadi saat Weightlifting selesai, aku merasa patah hati.” 

Namun ada satu yang akan terus ia ingat, ketika hendak meminta foto pada coach asal Korea Selatan. Biasanya mereka akan berfoto di bawah panggung, tapi saat itu coach tersebut menyuruhnya untuk naik ke atas, lalu mendoakan Nugrahita supaya setiap harinya selalu bahagia dan berhati-hati dalam berkendara.   

Nugrahita Probogaluh dengan pelatih dari Korsel. Foto: Nugrahita, Annisa Lova

It’s not the goodbye that hurts, it’s the flashback that follow.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here