Curhatku, Perempuan Tangguh di Negeri Orang

0
112

Hai, namaku WS. Perempuan asal Madiun, Jawa Timur, yang kini tengah memperjuangkan nasib di negeri orang. Malam tadi, Autami mengajakku mengobrol tentang suka duka menjadi pengais nafkah yang jauh dari rumah, keluarga dan kampung halaman. Maka, inilah ceritaku.

Saat ini aku berada di negara H, namun yang ingin  kuceritakan di sini adalah pengalamanku waktu bekerja di negara S.

Di antara banyaknya rumor yang beredar tentang perlakuan oknum di luar sana yang semena-mena terhadap tenaga kerja wanita, aku pun mengalaminya. Mungkin tidak separah pelecehan dan pembunuhan yang marak terjadi, namun aku menyaksikan dan merasakan semua kepahitan itu sendiri.

Aku adalah ibu dari 4 orang anak. Aku berangkat bekerja ke luar negeri karena alasan yang tidak bisa kusebutkan secara spesifik di sini. Namun tentu saja semua tentang kondisi ekonomi.

Sebelum memutuskan terbang jauh tentu aku sudah memikirkan banyak resiko yang akan terjadi. Aku hanya berpikir untuk dapat pekerjaan saat itu.

Singkat cerita sampailah aku di negeri S melalui sebuah agensi tenaga kerja. Aku bekerja sebagai foreign domestic helper yang bertugas menjaga dua orang anak.

Sebelum diambil oleh orang-orang yang mempekerjakan kami, setiap harinya aku dan teman-teman lainnya tinggal di penampungan. Dari tinggal di penampungan saja, aku sudah merasa diperlakukan kurang manusiawi. Oknum trainer di sana kerap berlaku semena-mena dan gemar mencari-cari kesalahan kami. Pernah suatu kejadian, temanku dianggap bersalah karena tidak gegas berkumpul padahal sudah dipanggil. Temanku beralasan sedang mandi dan sedikit terlambat karena sedang haid. Alih-alih mendapat keringanan, trainer tersebut malah menyambangi kamar mandi yang digunakan oleh teman tadi demi memotret pembalut bekas yang belum sempat dicuci tadi kemudian mengirim foto tersebut ke semua staf kantor cabang untuk sebuah lelucon yang hingga saat ini aku pun tidak mengerti di mana letak lucunya.

Selain itu para oknum trainer di sana pun kerap mengancam akan menyiram kami dengan seember air kalau-kalau kami melakukan kesalahan. Belum lagi, kekerasan verbal yang kerap mereka lontarkan. Kami pernah dibilang “sampah!” oleh mereka.

Di sana aku mengalami dua kali pergantian majikan, karena majikan pertama aku diberi dobel pekerjaan, selain bekerja di rumah majikannya sendiri, aku juga harus bekerja di rumah orang tua majikanku, selain itu di sana aku juga harus membantu mengasuh 2 balita yang ada di rumah orang tuanya tersebut, yang mana itu semua telah melanggar aturan perjanjian yang ada dalam kontrak kerja. Belum lagi ada sikap mereka yang sering membuatku tak nyaman bekerja dengan mereka.

Akhirnya setelah enam bulan bekerja pada mereka hingga potongan gaji untuk membayar biaya proses sudah selesai, kuputuskan untuk berganti majikan dengan harapan mendapat yang lebih baik tentunya.

Dan akupun kembali penampungan, kembali diperlakukan tidak enak di tempat penampungan itu.

Aku selalu berdoa untuk mendapat majikan yang lebih baik lagi. Namun, ternyata tidak. Aku mendapat bos lain yang kerap memaki-makiku “idiot”, “stupid” dan beragam sumpah serapah lainnya seolah aku ini bukan manusia.

Akhirnya, aku memutuskan kontrak dan memilih kembali ke tanah air. Meski Training Center kami yang di Madiun selalu mengingatkan kami untuk tahu diri dan sadar diri tentang posisi dan profesi kami, namun aku bersikukuh. Bagiku itu salah satu cara dan sikap untuk menentang mereka yang sewenang-wenang terhadap TKW. Aku tidak ingin diinjak-injak oleh sebagian dari mereka. Selain itu, aku pun percaya ini hanya oknum. Aku yakin pasti akan menemukan tempat yang lebih baik dari ini, suatu hari nanti.

Sebab bagaimana pun semua ini merupakan perjuangan. Di tanah air tercinta kita disebut sebagai pahlawan devisa negara dan untuk bisa sampai ke negara tujuan kami semua juga mengeluarkan biaya yang tidak sedikit jumlahnya.

Ketika itulah aku tersadar, perempuan memang tangguh. Laki-laki mungkin bisa berontak dan bahkan berkelahi jika diperlakukan seperti itu. Tapi, perempuan memilih bertahan. Bukan karena lemah, tapi lebih karena ingin berjuang. Naluri seorang Ibu adalah naluri seorang pejuang.

Kini, aku telah berada lagi di medan juang. Aku masih seorang perempuan yang bekerja di luar negeri, jauh dari rumah, keluarga dan kampung halaman.

Pesanku, untuk kalian perempuan-perempuan yang tengah terbang jauh untuk berjuang, niatkan bekerja di negeri orang sebagai ibadah. Pergilah dengan hati yang tulus dan niat yang lurus.

Harapanku, semoga apa yang kalian impikan dalam perjuangan ini bisa berhasil dan sukses dalam memperbaiki taraf hidup dan menjadi lebih baik dalam segala hal karena tak jarang kita temui mereka yang berhasil dalam memperbaiki ekonominya karena bekerja di negeri orang.

Dan aku juga berharap tidak ditemui lagi kasus kekerasan terhadap helper atau sebaliknya. Jika kedua belah pihak baik majikan ataupun helper menyadari saling membutuhkan, Insya Allah akan tercipta keharmonisan selama hidup bersama.

Untukku pribadi, aku memohon doa dari teman-teman semua untuk mendoakanku agar kuat menjalani semuanya dan semoga jerih payahku tidak akan sia-sia. Teruntuk keluargaku di Tanah Air, jangan cemas, aku baik-baik saja. Aku hanya sering kali merindukan canda tawa kalian….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here