Dariku yang Ingin Menulis #KamiTidakTakut , Tetapi Sebenarnya Sangat Takut

6
425

Serentetan aksi ledakan bom di sejumlah titik lokasi di Jawa Timur membuat saya yang jauh di pulau Sumatera ikutan was-was. Saat beribadah di Minggu sore kemarin, tampak sejumlah aparat kepolisian berjaga ketat. Saat masuk gedung gereja, harus melewati detektor logam terlebih dahulu, dan tas yang dibawa diperiksa dengan cermat.

Jalannya ibadah seperti biasa, namun raut-raut wajah tegang tak bisa disembunyikan. Meski pendeta berkhotbah mengutip Firman Tuhan agar kami semua “Jangan Takut”, namun tetap ada sisi manusia kami yang bergidik gentar. Beberapa dari kami mungkin saja jadi korban target mereka selanjutnya. Kami harus siap dengan berita kematian teman-teman dan saudara kami dengan kondisi jasad yang tidak utuh lagi.

Pelaku bom tiga gereja di Surabaya dan di Rusunawa Sidoarjo diidentifikasi sebagai dua keluarga. Keterlibatan perempuan dan anak-anak di bawah umur dalam aksi kriminalitas sebetulnya bukan hal baru. Golongan yang sering dianggap “lemah” ini cenderung lebih mudah mengelabui petugas, sehingga keberadaannya sering dimanfaatkan.

Namun tetap saja fakta ini membuat saya merinding. Orang-orang, terutama perempuan yang tampak seperti warga biasa ternyata menyimpan benih tindak radikal. Saya tidak bisa berhenti berpikir, mereka mungkin adalah salah satu dari tetangga saya. Mereka ada di lingkungan pertemanan saya. Mereka juga berkeliaran dalam lingkaran jejaring sosial saya.

Beberapa orang teman muslim naik pitam saat agamanya dikaitkan dengan terorisme. Tidak terima karena ajaran agama yang dianutnya sungguh mengajarkan kebenaran dan kedamaian. Namun, di sisi lain mereka benar-benar menutup mata jika faktanya memang ada sebagian saudara mereka yang terang-terangan menebar bibit radikal.

Mereka abai dengan orang-orang yang mengatakan aksi terorisme hanya settingan dan pengalihan isu, mereka cuek dengan ceramah-ceramah yang berisi ujaran kebencian terhadap suatu kaum, mereka bahkan biasa-biasa saja saat ada yang berkata, “darah kafir halal ditumpahkan”.

Mereka tahu itu menyimpang. Tetapi mereka diam saja, karena merasa yang seperti itu bukan ajaran seperti yang dianutnya. Selesai dengan “Yang penting Lo tahu, gue nggak kaya’ gitu”.

Namun sadarkah? Justru pemikiran menyimpang seperti itulah yang harus diperangi sebelum terlanjur meluas. Pemikiran negatif itulah yang kalau dibiarkan akan menjadi gerakan cuci otak masif, dan bukan tidak mungkin malah mempengaruhi mereka yang selama ini sudah hidup menegakkan ajaran Islam dengan benar.

Saya, dan teman-teman minoritas jelas tidak punya hak juga akses untuk meluruskan paham sebagian mereka yang menyimpang itu. Jangankan menceramahi mereka, kami bahkan terlalu sibuk dengan ketakutan kami sendiri.

Namun kalian, wahai saudaraku yang mayoritas di negeri ini, kalian punya akses lebih besar untuk menjangkau mereka. Kalian punya hak berbicara pada mereka yang saat ini mungkin sedang tersesat.

Kami tahu kok –sungguh tahu–, bahwa agama Islam hanya mengajarkan kedamaian dan bukannya teror. Kami sudah merasakan sendiri kebaikan-kebaikan kalian di sekitar kami selama ini. Namun kami tidak bisa menutup mata, kalau faktanya ada sebagian kecil –ya, sebagian kecil saja– dari kalian yang menyimpang dan pilih terus menerus menebar ketakutan kepada kami.

Maukah kalian membantu kami mengubur rasa takut ini? Tidakkah kalian ingin menghentikan aksi-aksi yang malah mencoreng ajaran mulia kalian itu? Beranikah kalian bertindak nyata ketimbang hanya koar-koar di sosmed #TerorismHasNoReligion ? Adakah yang mau dicap durhaka karena menasehati ayah, ibu, om, tante kalian yang mendukung tindak terorisme? Mampukah kalian dicap aneh, atau bahkan dikucilkan saat meluruskan paham ajaran sesat yang terlanjur mereka yakini? Maukah kalian melaporkan setiap ceramah pemuka agama yang membenarkan tindak kekerasan bahkan penghilangan nyawa kaum lain? Relakah kalian meluangkan sedikit waktu untuk me-report akun medsos yang jelas-jelas berbunyi kalimat syukur atas jatuhnya para korban?

Dariku, yang ingin menulis #KamiTidakTakut tapi sesungguhnya sangat ketakutan, tolong renungkanlah, kawan. Diam tak selalu emas. Diam kadang bukan jawaban.

Melawan bibit terorisme butuh tindakan nyata. Bukan sekadar hastag di media sosial.

(Arako)

Ilustrasi gambar: percakapan WA. dok. redaksi

6 KOMENTAR

    • Dear Molly, saya mohon agar Molly bisa dewasa. Menyikapi pernyataan dalam opini penulis lain. Kalau Molly minta bukti, bukannya sebagai penganut ybs Molly bisa membedakan??? Kenapa harus kami yang beda yang perlu membuktikan? Penganut agama yang sama yang dewasa tahu mana yang benar dan salah dan jangan suruh umat lain membuktikan nya. Terimakasih. Salam damai.

        • Molly harus tahu ya… Teman saya muslim banyak lho. Saya belajar agama islam 6 tahun. Kalau KTP jelas kok yg mengebom agama apa. Jadi ngga perlulah Molly berdalih. Lagian bukan soal agama semata bahasan tulisan ini. Coba deh Molly baca dan jangan keluar konteks macam orang tak pendidikan. Jadi sengak juga ngadapin bocah kek gini.

    • Bahkan kalau saya cantumkan buktinya, memangnya Anda terus akan serta merta mengakui?

      Mungkin besok-besok ketika saya tuliskan pengalaman traumatis diteriaki “Orang kafir halal darahnya ditumpahkan”, Anda akan berkomentar saya mengada-ada. Buka mata Anda, Molly. Dunia ini luas. Hanya karena Anda tidak pernah melihat atau mengalaminya sendiri, bukan berarti kejadian itu tidak ada….

      Trims.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here