Ditta Miranda, Penari Internasional dari Indonesia

0
840
Abstract Rose Quarz Pink Fusia Background

Tak terasa 3 jam berlalu saat penulis ngobrol seru dengan Ditta Miranda Jasjfi, seorang penari profesional dari salah satu kelompok tari terbaik di dunia asal Jerman, Tanztheater Wuppertal.

Ditta terlahir dari keluarga Minang, dari paman ayahnya ia masih ada garis keturunan dengan H. Agus Salim, diplomat ulung Indonesia yang mampu berbicara dalam banyak bahasa asing (polyglot).

Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Putri pasangan Epi dan Martinezia Jasjfi ini lahir di Jakarta, 22 Juni 1967. Saat berumur empat sampai tujuh tahun, ia tinggal di Paris, Perancis, mengikuti orangtuanya, yang mendapat tugas belajar dari kantornya. Ayahnya seorang insinyur kimia, peneliti di Lembaga Minyak dan Gas Bumi.

Di usia lima tahun Ditta mulai belajar balet. ia juga sering di ajak menyaksikan seni pertunjukan tari.

“Waktu kecil, saat menonton pertunjukan tari, saya kerap mengikuti gerakan-gerakan para penari itu. Entah kenapa saya suka sekali,” ujarnya mengenang bagaimana ia sangat antusias dengan tarian.

Ketika usianya menginjak 10 tahun, ia masuk ke sanggar tari Sumber Cipta asuhan Farida Oetoyo. Di sangar tersebut Ditta belajar banyak tarian daerah, dari Bali, Jawa, Sulawesi, dan Sumatera.

Menginjak usia 21 tahun, ia telah berkuliah selama 3 tahun di jurusan Sastra Jepang, Universitas Nasional. Saat itu ia mulai mengikuti kursus Bahasa Jerman di Goethe Institut. Ia berniat untuk mendapatkan beasiswa untuk belajar ke Jerman, dan ia berhasil memperoleh kesempatan belajar ke Jerman selama 3 bulan.

Saat di Jerman, dia dapat surat dari sekolah tari Folkwang Hochshule untuk mengikuti ujian. Sebenarnya audisi untuk masuk ke sekolah tersebut sudah lewat 3 bulan sebelumnya. Memang sebelum berangkat ke Jerman, surat Ditta sudah dikirimkan terlebih dahulu ke Folkwang.

Setelah beberapa kali audisi di hadapan semua guru-guru tari di sana, tibalah saat pengumuman hasil penerimaan murid baru.

Salah seorang gurunya mengatakan pada Ditta, “Tahun depan kamu bisa kembali lagi ke sini untuk ikut audisi.”

Ditta menanggapi, “Wah kalau tahun depan saya mungkin tidak akan kembali ke sini, karena tidak punya biaya…,” ujarnya jujur.

Akhirnya para guru rapat kembali, dan tanpa dinyana, Ditta akhirnya lulus untuk masuk ke sekolah tersebut. Ditta memutuskan untuk tidak kembali ke Indonesia seusai masa program beasiswanya berakhir, dan bergabung dengan sekolah tari di Jerman itu.

Kuliahnya di jurusan Sastra Jepang Universitas Nasional yang sudah berjalan 3 tahun tidak ia teruskan lagi. Selama 4 tahun kemudian ia menetap di Jerman karena keterbatasan dana. Untuk mendapatkan uang tambahan, saat libur musim panas Ditta mengisi waktu luang dengan bekerja di pabrik mobil dan menari flamenco di restoran atau bar.

Ditta sempat bekerja di Folkwang Dance Studio selama setahun, kemudian bergabung dengan Bremen Stadt Theater, kelompok tari milik pemerintah selama enam tahun yang diasuh oleh Susanne Linke.

Tahun 2000 Ditta mengikuti audisi untuk menjadi penari di Tanztheater Wuppertal, kelompok tari ternama di dunia pimpinan Pina Bausch. Pina Bausch adalah seorang koreografer legendaris dari JermanDitta harus bersaing dengan 300 penari hingga dipilih 7 orang.

Tiga bulan tak kunjung ada kabar, Ditta sempat memutuskan untuk kembali ke tanah air. Namun tiba-tiba ia mendapat telepon yang mengabarkan bahwa ia bisa menggantikan sementara posisi solois Tanztheater Wuppertal.

Saat berusia 12 tahun, Ditta pernah menyaksikan Tanztheater Wuppertal pentas di Jakarta. Pementasan tari “Rite of Spring” tafsiran Pina Bausch atas karya legendaris Vaslav Nijinsky dan Igor Stravinsky di Teater Terbuka Taman Ismail Marzuki itu membuat Ditta terpukau. Tak disangka, ialah yang kemudian menjadi penari solo yang dipilih Pina mementaskan karya yang sama.

Di bawah asuhan Pina Bausch, hampir setiap hari Ditta berlatih tari selama 12 jam untuk penampilan maksimal dari panggung ke panggung.

Perjuangan Ditta tak sia-sia, di tahun 2004 ia terpilih menjadi Penari Terbaik Pilihan Kritikus se-Eropa tahun 2004. Ditta menjadi penari Indonesia satu-satunya yang berkiprah di kancah internasional.

Pada tahun 2012, Ditta Miranda kemudian membintangi sebuah film Jerman berjudul “Pina.” Film ini masuk sebagai salah satu nominator dalam ajang Academy Awards (Piala Oscar) 2012 untuk kategori Best Documentary Feature.

Film “Pina”  menampilkan tarian-tarian karya Pina Bausch. Pina Bausch sendiri telah meninggal pada musim panas tahun 2009 di saat pembuatan film ini. Wim Wenders, sang sutradara sempat mengurungkan niatnya untuk meneruskan proses pembuatan film Pina ini, namun para penari dari Tanztheater Wuppertal meyakinkannya untuk meneruskannya sebagai penghormatan bagi Pina Bausch.

Film produksi HanWays ini merupakan sebuah karya tari teatrikal yang mampu dipentaskan dalam ruang terbuka (outdoor), yang bermuatan jalinan kisah cinta, kehidupan dan kekuatan. Lebih serunya lagi film Pina ini menggunakan teknologi 3-D untuk memberikan warna baru dalam seni tari kontemporer.

Bersama Pina, Ditta sudah tampil dalam puluhan repertoar di berbagai negara seperti Perancis, Italia, Tokyo, New York, dan London. Pina sangatlah populer di negara-negara ini. Tidak heran jika selama 30 hari pementasan di Paris, 30.000 tiket ludes terjual. Ini sebabnya tiket pertunjukan Pina dijual setahun sebelum pementasan. Di Eropa saja, harga tiketnya bisa mencapai 40 euro, sedangkan di New York, saat pertunjukan gala, bisa mencapai US$ 500.

Hal-hal yang paling berkesan dari karier Ditta sebagai penari internasional adalah ketika ada dari para penontonnya yang mengapresiasi koreografi Pina Bausch yang dibawakan Ditta. Orang tersebut menemui Ditta dan mengatakan, “Saya sebenarnya sedang putus asa dan hendak memutuskan untuk bunuh diri, tapi setelah menyaksikan tarianmu, menginspirasi saya untuk mengurungkan niat itu.” Atau ketika ia tampil dengan tarian yang ceria di saat orang-orang berduka, justru mampu membangkitkan semangat mereka untuk melanjutkan hidup.

“Menikmati tarian itu tidak usah pakai pikiran, tapi nikmati saja pertunjukkannya. Seni itu makanan untuk jiwa,” pungkas Ditta menutup pembicaraan kami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here