Editorial: Ibu Jaman ‘Now,’ Terpenjara dalam Modernitas?

0
169

Seorang ibu menyusui anak bayinya di tahanan, karena ibu muda yang glamor itu harus mempertanggungjawabkan dana pengelolaan travel umroh murah yang ia miliki. Banyak orang yang sudah menyetorkan dana untuk pergi umroh namun gagal berangkat ke tanah suci.

Seorang ibu lainnya harus mendekam di tahanan karena menyebarkan konten ujaran kebencian di media sosial.

Ibu lainnya mungkin sedang menangis, karena suaminya, pencari nafkah utama keluarganya sedang ditahan karena kasus ujaran kebencian. Kini hidupnya bergantung dari sumbangan masyarakat.

Apakah ini potret ibu-ibu jaman now? Ibu-ibu di atas yang bukanlah ibu-ibu yang tak mendapatkan pendidikan layak. Sebaliknya, mereka merupakan bagian dari ibu-ibu yang memiliki akses pada kehidupan modern, mereka bukan tinggal di pelosok negeri yang sulit alat transportasi dan komunikasinya.

Kemajuan jaman menjadi paradoks, ketika segala hak-hak yang telah dibutuhkan oleh kaum perempuan mudah terpenuhi, justru tak mampu untuk menyejahterakan kaum perempuan lainnya di berbagai daerah tertinggal dan terpencil di Indonesia. Kemodernan justru melenakan, sekaligus menjadi perangkap kaum perempuan menjadi ketergantungan. Ketergantungan atas peran suami/laki-laki, ketergantungan terhadap gaya hidup, bahkan ketergantungan terhadap teknologi.

Dua minggu terakhir redaksi blusukan ke wilayah-wilayah Papua yang sulit alat transportasi juga komunikasinya. Melihat bagaimana mama-mama Papua yang untuk memahami pengasuhan anak yang baik saja mungkin sangat jauh berbeda dengan ibu-ibu yang diceritakan di atas, yang memiliki pengetahuan luas di banyak bidang kehidupan.

Dalam konteks Hari Ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember, redaksi merenungkan, jaman telah berubah pesat, seperti barisan bilangan fibonacci. Kemajuan melonjak semakin tinggi. Tapi apakah kaum perempuan yang telah mendapatkan akses untuk mandiri, melampaui emansipasi yang telah diperjuangkan oleh R.A Kartini, sudah benar-benar memanfaatkan anugerah yang ada pada dirinya untuk kebaikan minimal kepada anak-anaknya.

Melihat pada cermin siapa diri kita saat ini, adalah ibu yang membentuknya. Mengingat kembali bagaimana pola asuh ibu pada masa lalu terhadap kita. Sungguh jauh berbeda dengan pola asuh dan didik ibu-ibu saat ini.

Ibu adalah rahim, pengantar kehidupan manusia, ibu adalah pintu gerbang generasi penerus. Dalam pengasuhan ibu kepada anak-anaknya, terdapat potret bagaimana perubahan sosial di masa yang akan datang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here