Skip to main content
Categories
BeritaHukum

Guru Kirim Chat Porno ke Siswi, Dampak Teknologi?

Pada masyarakat modern di mana cara orang berkomunikasi telah berubah oleh kemajuan teknologi, selalu ada paradoks bahwa sebuah teknologi yang efektif segera hilang efektivitasnya begitu digunakan secara luas. Internet yang tadinya diasumsikan dengan kecepatan dan kepraktisannya bisa menjadi sarana untuk peyampaian pesan-pesan penting namun dalam banyak kasus kemudian ia hanya digunakan untuk penyampaian pesan remeh temeh, bahkan bisa menghilangkan batas atau jarak antara guru dan murid.

Akibatnya seperti yang terjadi belum lama ini. Seorang guru bahasa Inggris di SMPK Penabur, Kelapa Gading, Jakarta Utara, ditangkap polisi karena mengirim chatporno ke siswi-siswinya. Guru itu bernama Tri Sutrisno alias A Ju, 25 tahun.

Tri adalah wali kelas IX di SMPK Penabur Kelapa Gading. Statusnya kini tersangka dan dalam penahanan Polda Metro Jaya.

Dia diduga mengirim chat porno setidaknya kepada 4 siswinya. Kepada salah seorang siswi, dia mengirim dua gambar perempuan telanjang sedang melakukan aktivitas seks. Gambar itu lalu diikuti dengan kata-kata mesum.

Salah seorang siswa sempat mengingatkan Tri soal kiriman gambar-gambar porno tersebut. Namun pria berkacamata itu tak menggubrisnya karena yakin si siswi tak akan melapor.

Orang tua si siswi mengetahuichat mesum tersebut. Orang siswi itu kemudian melapor ke Polda Metro Jaya. Tri lalu ditangkap pada 10 Agustus lalu.

Kasus chat porno ini disikapi serius oleh pihak SMPK Penabur. Mereka ingin bekerja sama dengan orang tua murid untuk menyelesaikan kasus obrolan porno via ponsel ini. Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK) Penabur juga tak akan diam saja.

Kasus ini mendapat respon dari publik, salah satunya dari Ratih Sugianti, seorang Guru Bahasa Indonesia. Ia mengatakan, “Banyak guru menjadikan siswa bagai seorang teman. Bahkan melebihi teman. Apalagi sampai mengirim chat yang tidak senonoh. Apa pun itu guru dan siswa tetap harus ada jarak, entah ketika (ada atau) tidak berada di sekolah.”

“Orang tua punya peran penting untuk selalu mengecek HP. HP bukan privasi ketika anak belum dewasa. Orang tua jangan ketinggalan zaman atas teknologi yang semakin canggih,” pungkas guru muda yang mengajar di sekolah daerah Jakarta Utara ini.

Web kolaboratif, konten adalah tanggung jawab penulis (Redaksi)

Subscribe our newsletter?

Join Newsletter atau Hubungi Kami: [email protected]

Inspirasi
BelanjaKarirKecantikanKehidupanKeluargaIndeks
Let's be friends