Hal-hal Yang Membuat Pria Iri Dengan Orgasme Pada Perempuan

2
284

Orgasme pada perempuan, memang begitu kompleks, itulah mengapa para pria, seringkali kesulitan memahami orgasme pada perempuan. Karena, jika pada pria, orgasme, selalu dikaitkan dengan aktifitas seks, lain halnya dengan perempuan. Perempuan, bisa orgasme, tanpa aktifitas seks sama sekali.

Pria, misalnya, mereka harus melakukan sesuatu terhadap kemaluannya, untuk bisa orgasme, sementara pada perempuan, tidak harus menyentuh bagian genitalnya, untuk bisa orgasme. Misalnya, pada saat berolahraga, ada sebagian perempuan, yang bisa orgasme secara tidak sengaja, saat melakukan olahraga, terutama saat berada di area fitness atau gymnastium. Memaang terdengar tak lazim, tapi faktanya, 45% perempuan, bisa merasakan coregasm, atau orgasme pada saat berolahraga.

Perempuan, setelah melakukan aktifitas seks, seringkali masih tetap berstamina, dan melakukan aktifitas lainnya. Hal ini juga yang membuat para pria heran, karena berbanding terbalik dengan mereka. Aktifitas seks, bisa membuat mereka kelelahan, dan seperti bayi yang baru disusui, mereka bisa tertidur lelap saking lelahnya. Sementara bagi perempuan, aktifitas seks, seakan hanya bagian kecil dari rutinitas hariannya, tak berpengaruh sama sekali dengan stamina tubuhnya.

Bagi para pria, terangsang, ataupun orgasme, seringkali menjadi masalah yang memalukan saat berada di area publik. Mereka tak bisa menyembunyikan berubahnya ukuran kemaluan pada saat terangsang, maupun orgasme. Sementara pada perempuan, meskipun pada saat orgasme, ukuran vagina membesar beberapa persen, mereka tak mungkin menemukan kesulitan yang berarti, saat harus menyembunyikannya dari orang lain. Hal ini, sebenarnya wajar dialami oleh siapa saja, jika tiba-tiba terangsang di tempat umum. Tapi pasti mengundang reaksi berlebih dari orang-orang di sekitar kita, jika ada seorang pria yang tiba-tiba ada yang aneh di bagian tengah celana-nya. Dan kejadian semacam ini, seringkali membuat para pria frustasi, saat mereka tiba-tiba horny, karena tak sengaja mencium bau parfum kita yang tertiup angin.

Perempuan, mengenal banyak tipe orgasme, sementara pada pria, hanya ada satu jenis orgasme. Hal ini yang seringkali membuat para pria jengkel. Karena perempuan bisa merasakan nipple orgasm, vaginal orgasm, klitoris orgasm, squirting orgasm, atau bahkan campuran dari berbagai tipe orgasme, plus, multiple orgasm. Sementara pada pria, dalam satu kali berhubungan badan, mereka hanya mampu satu kali mengalami ejakulasi. Titik O bagi mereka, hanya bisa dialami satu kali, untuk bisa mengulang lagi proses ejakulasi, diperlukan waktu, atau jeda bagi mereka untuk me-recharge tubuhnya.

Sementara di lain pihak, meskipun para pria, bisa juga melakukan aksi fake orgasm, masih kalah jauh dengan perempuan. Hanya sebagian kecil, kecil sekali prosentasenya pada pria untuk bisa melakukan fake orgasm, sementara menurut penelitian, hampir 99% perempuan di dunia ini, pernah melakukan fake orgasm. Dan percaya atau tidak, perempuan amat sangat ahli untuk melakukan fake orgasm. Itulah mengapa para pria seringkali frustasi, karena tidak bisa membedakan, antara gerakan kegel yang dilakukan oleh para perempuan saat melakukan hubungan seks, dengan orgasme yang sesungguhnya. Karena kedua-duanya sama-sama berkaitan dengan gerakan kontraksi di otot dasar panggul, atau istilah medisnya otot pc, pubococcygeus muscles.

Pada perempuan, orgasme memang kombinasi dari banyak hal, lain halnya pada pria. Pria cukup dimanjakan di area genitalnya saja, mereka bisa orgasme. Sementara pada perempuan, proses menuju orgasme itu sesuatu yang kompleks. Dibutuhkan banyak kelihaian seorang pria, untuk bisa membuat pasangannya mencapai titik O. Karena ada emosi yang ikut bermain disini. Sesuatu yang bisa membuat pria kewalahan serta kalah di atas ranjang. Pria, bisa ”selesai” setelah ejakulasi, sementara perempuan, bisa ”selesai” justru ditengah-tengah permainan. Hanya karena rasa tak nyaman, para perempuan, bisa tiba-tiba tak lagi berminat melanjutkan aktifitas seksualnya. Itulah mengapa, bercinta dengan perempuan, seringkali diibaratkan dengan membaca sebuah karya sastra, ada prolog, monolog, dialog serta epilog. Dan hal ini, adalah hal yang paling membuat para pria frustasi diatas ranjang, saat pasangannya berhenti di tengah jalan.



Web
Analytics


2 KOMENTAR

  1. Artikel yg menarik Mba Etha, boleh ya ikut beri komentar soal ini. Soal fake orgasme sebenarnya byk faktor yg menjadi penyebabnya. Antara wanita dan pria tidak berbeda, itu menurut opini saya setelah saya baca berbagi link sumber ilmu kesehatan di Belanda soal ini.https://mens-en-gezondheid.infonu.nl/seksualiteit/117261-faken-van-een-orgasme-redenen-en-invloed-op-de-relatie.html Saya dapat juga diskusi soal ini pada para pria https://www.startpagina.nl/v/gezondheid/seksualiteit/vraag/49354/faken-mannen-orgasme#antwoorden. keduanya dlm bahasa Belanda. Kesimpulannya pria bisa fake orgasme tanpa patnernya ketahui, dalam bahasa Belanda disebut ”droog orgasme /orgasme kering, yaitu orgasme tanpa ejakulasi, ttp pria merasa seperti ada ejakulasi keluar dari penis” Para pria ini merasakannya sama nikmatnya seakan-akan mereka mmg keluar sperma, ini terjadi krn mereka saat itu berada pada batas antara keluar sperma dan tidak, kemana sperma itu? menurut penyelidikan sperma bisa ”kesasar” jalan ketika keluar, bisa ke ke kantung kemih. Jadi, faktor2 mmg mempengaruhi wanita dan pria bisa mencapai orgasme, ttp bukan berarti tanpa ejakulasi pria tdk orgasme termasuk kesehatan seperti penyakit diabetes, jantung dll penyakit yg byk menggunakan obat2 yg berat. Wanita bisa fake orgasme krn faktor2 dan pria jg bisa fake orgasme.

  2. Iya mbak Della, tapi tidak banyak pria yang bisa melakukan fake orgasm. kalau untuk kasus diabetes melitus, rerata penderitanya bahkan tidak bisa berhubungan seksual malah mbak, tapi kalau karena pengaruh obat-obatan, saya percaya bisa terjadi seperti itu. Karena kalau masalah diabetes, gak hanya satu dua kasus yang pernah saya tahu, para lelaki ini frustasi karena untuk membuat “burungnya’ bangun ae susah setengah mati. Karena kebetulan saya penderita dDM tipe 1, jadi memanng seluk beluk DM, lebih dulu saya pelajari, maklum, saya sempat koma gara-gara DM di umur saya yg masih 19th pada waktu itu hehe. Dan dokter sempat memberi tahu saya, kemungkinan besar saya kesulitan mempunyai keturunan, karena banyak komplikasi, makae saya concern dengan DM< perkembangannya, sebisa mungkin saya cari tahu.
    Btw, maturnuwun informasi tambahannya, walau pas di klik, tetep bikin mumet, karena g mudeng bahasa Belanda hahahahahah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here