Hal-Hal yang Membuat Si Tomboy Berubah Feminin

2
1303

Rambut cepak, anti-rok, phobia dandan, menekuni olahraga cowok, nongkrong sama cowok, kalau bicara nggak disaring, sering dipanggil “Mas” padahal masih tetap menstruasi tiap bulan …

Itulah si tomboy. Cewek maskulin yang keberadaannya cukup mudah ditemukan di sekeliling kita. Cewek tipe ini biasanya easy going, supel dan tidak ribet. Banyak orang mengaku nyaman dan betah berteman dengan si tomboy.

Namun jika jeli memperhatikan, hampir tidak ada seorang tomboy pun yang bertahan dengan ketomboyan selamanya. Seiring waktu, kamu akan melihat si tomboy akan berubah menjadi lebih cewek. Menjadi tak alergi dengan alat make up atau salon, sering memakai rok dan gaun simple, lebih rapi dan wangi, serta lebih berhati-hati dalam bersikap.

Momen untuk berubah bagi setiap tomboy berbeda, tak bisa diprediksi. Ada yang berubah setelah tamat kuliah, ada yang saat menikah, ada pula yang bertahan cukup lama sebagai tomboy hingga anak-anaknya tumbuh besar. Prosesnya pun tak ada yang sama persis. Ada yang berubah cukup drastis, ada pula yang perlahan dan bertahap hingga perubahannya sampai tak disadari oleh orang-orang sekitarnya.

Nah, sebetulnya, apa saja sih alasan di balik berubahnya si tomboy jadi feminin? Peran Perempuan merangkumnya untuk Anda.

Jatuh Cinta

Cinta bisa mengubah segalanya. Umumnya, cewek tomboy akan mulai berubah ketika berpacaran dengan seseorang. Berbunga-bunga karena merasa telah dicintai apa adanya, akan membuat si tomboy selalu ingin memberi yang terbaik.

Meski sang pasangan tak pernah komplain atau keberatan dengan penampilan si tomboy, seiring waktu justru si tomboylah yang akan berubah dengan sendirinya. Jawaban paling umum jika disinggung soal ini, “Kasian si doi yang jadi bahan omongan orang kalau akunya kucel terus. Kalau rapi gini kan nggak malu-maluin dia pas jalan bareng.”

Tuntutan Pekerjaan

Selesai kuliah, si tomboy diterima kerja di bagian front office. Mau tak mau dia harus memperhatikan penampilannya. Proses belajar make-up mungkin akan membuatnya frustrasi dan sakitnya memakai high-heels akan membuatnya tersiksa bak di neraka.

Namun perlahan, si tomboy akan mulai berdamai dengan rutinitasnya. Dia menyadari jika menjadi cewek ternyata tak semenyeramkan itu.

Naluri

Ini terjadi ketika si tomboy menikah, hamil, dan punya anak. Naluri keibuan yang muncul secara alamiah umumnya akan mengubah si tomboy menjadi sosok yang jauh lebih lembut.

Bosan dan lelah

Bagaimana pun juga, si tomboy tetaplah seorang perempuan. Ada masanya dia sampai di titik jenuh. Bosan dengan sikap orang-orang yang menganggapnya selalu kuat. Pun terlalu lelah menjadi setangguh apa yang tampak dari luar, sementara hatinya kian merapuh.

Menjadi feminin akan membuatnya merasa halal dan leluasa untuk menumpahkan air mata sesukanya tanpa harus khawatir dikatai “preman kok nangis!”

Dendam dan Sakit Hati

Terdengar aneh? tapi ini bisa saja terjadi. Patah hati, ditolak mentah-mentah oleh pujaan hati, verbal bullying yang melewati batas ketangguhan si tomboy kerap kali berujung dendam.

Alih-alih membalas dengan cara jantan, si tomboy memilih membalasnya dengan cara lain. Akan sangat menyenangkan bukan jika bisa melihat orang-orang yang pernah menyakitinya tersebut menyesal? Si tomboy berubah jadi feminin jelita pasti jadi drama pembalasan paling manis.

Meski demikian, walau sudah berubah feminin sedemikian rupa, para cewek ini biasanya masih menyisakan jejak-jejak ketomboyan. Bagaimanapun, cewek yang pernah tomboy pasti mengakui betapa nikmatnya menjalani hidup sebagai tomboy.

Namun, pada akhirnya kenikmatan itu akan kalah oleh naluri, kodrat, kedewasaan, dan cara pandang akan hidup.

 

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here