Harapan Ibu Indonesia di Autism Awareness Day

0
236
pixabay

Sejak tahun 2007, PBB menetapkan 2 April sebagai Autism Awarness Day atau Hari Kesadaran Autisme Sedunia. Tentunya hari spesial ini bukan dimaksudkan untuk merayakan autisme, namun sebagai pengingat bahwa penyandang autisme adalah juga bagian dari dunia yang butuh diterima. Sudahkah kita sadar dan peduli akan keberadaan mereka? Sudahkah kita memahami dan menerima mereka sebagai manusia yang utuh dan setara dengan kita?

Saya memiliki beberapa sahabat yang kebetulan dianugerahi Tuhan anak-anak penyandang autisme. Mengenal mereka, membuat saya memahami, betapa tangguh dan kuatnya para ibu ini sesungguhnya. Salah satunya Eka Murti, seorang aktivis literasi asal Jakarta yang memiliki seorang putra yang dianugerahi Tuhan kondisi istimewa ini.

Menurut Eka, bukan hal mudah hidup dengan penyandang autisme. Namun ia menyadari betul, sesulit apapun posisi dirinya, tidaklah sesulit kehidupan yang dijalani anaknya. “Mereka, anak-anak penyandang autisme ini hidupnya terkungkung dalam cangkang. Terpisah oleh tembok besar dengan dunia luar yang berisik dan berwarna,” ujar Eka.

Menurut Eka, kesulitan berinteraksi, berbahasa dan berperilaku adalah tantangan berat yang harus dihadapi sendiri. Mendapat pandangan aneh saat ciri-ciri autisme muncul di depan umum juga harus diterima sebagai bagian dari kehidupan. “Di sekolah, anak saya tidak mendapat perlakuan diskriminatif. Namun di tempat umum masih suka dilihat dengan pandangan aneh. Seolah anak saya mau melakukan tindakan kriminal atau semacamnya, padahal anak saya hanya sedang asyik sendiri. Mirisnya, pandangan aneh dan lebay ini justru banyak dilakukan oleh orang-orang dewasa,” sesal Eka.

Senada, Hanny Dewanti, sahabat saya yang juga seorang penulis buku Hijrah Sakinah ini juga menyesalkan perlakuan masyarakat umum terhadap penyandang autisme. Berdasarkan pengalamannya sendiri yang membesarkan anak dalam kondisi autis, Hanny mendapati label “anak pembawa sial” atau “pembawa wabah” masih kerap disematkan pada anak-anak istimewa ini. “Omongan-omongan seperti liurnya anak autis itu bisa menular itu masih sering saya dengar sampai sekarang. Anak saya sendiri dulu juga dikucilkan di sekolah, sampai sekarang masih trauma tidak mau sekolah karena hatinya masih sakit,” tutur Hanny.

Hanny menuturkan, perjuangan seorang ibu membesarkan anak penyandang autisme jelas tidak mudah. Proses menerima kenyataan menjadi fase yang paling berat. “Biasanya berantem hebat dulu dengan keluarga besar. Ya siapa sih yang mau terima punya anak autis? Pasti ibunya dulu yang disalahkan. Ketika sudah bisa menerima kenyataan, masih harus dihadapkan dengan stigma negatif yang kadung terbentuk di masyarakat,” beber Hanny.

Baik Hanny maupun Eka, keduanya berharap melalui peringatan Hari Kesadaran Autisme Sedunia ini, masyarakat dunia bisa lebih peduli. Bagi masyarakat Indonesia yang tingkat kesadaran terhadap autisme masih sangat rendah, mereka berharap adanya upaya khusus untuk memerangi stigma negatif yang terlanjur ada. “Salah satunya perlu adanya penyuluhan-penyuluhan sampai ke tingkat bawah. Termasuk di sekolah-sekolah atau kelurahan. Jadi masyarakat kalangan menengah ke bawah yang tidak suka membaca itu bisa paham dan mengerti. Karena fakta di lapangan, masyarakat level inilah yang paling suka mem-bully,” pungkas Hanny.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here