Her Story: Anak Saya Terlahir dengan HIV

0
400

Saya awalnya terkena HIV tahun 2006. Itu saat saya habis melahirkan anak pertama. Soalnya setelah lahir, anak saya kok sakit terus gak sembuh-sembuh. Lalu dokternya memanggil saya. Saya ditanya, “Ibu ada status apa…?”

Saya bingung ditanya begitu. Tapi akhirnya dokternya menjelaskan…. gak tau perasaan saya dan pikiran saya waktu itu ketika pertama kali mendengar saya terkena HIV.

Setelah saya sudah bisa mengendalikan pikiran dan perasaan saya. Akhirnya saya tau, ternyata suami saya sudah terkena HIV lebih dulu. Dia memang dulunya pemakai narkoba. Dia tertular dari jarum suntik.

Selama itu saya gak pernah tau dia sudah terkena HIV. Memang dia sering berobat, ke RSCM, atau kadang dia bilang dia pergi ke sebuah kegiatan, saya gak tau kegiatan apaan. Mungkin kegiatan semacam penyuluhan buat orang-orang yang terkena HIV.

Padahal saya selalu mengantarkan dia berobat ke RSCM. Kalau sakit bisa sebulan lamanya. Tapi waktu itu saya gak pernah tau bahwa dia sudah terkena HIV.

Sejak saat itu, dunia saya, kehidupan saya berubah selamanya….

Saya gak berani lagi bermimpi macam-macam…. yang saya pikirkan bagaimana saya dan keluarga saya, suami dan anak bisa bertahan hidup.

Anak saya terlahir dengan HIV di tubuhnya….

Tak berapa lama, suami saya meninggal. Anak saya pun meninggal….

Saya masih terus menjalani hidup. Beruntung saya langsung bertemu dengan para relawan/aktivis pendamping yang mendampingi saya untuk menjalani hidup dengan HIV di tubuh saya.

Dengan berbagai kegiatan yang digelar secara rutin oleh LSM yang peduli dengan orang-orang yang hidup dengan HIV, saya sangat terbantu sekali. Saya jadi paham bagaimana harus terus bertahan hidup. Harus rutin minum obat. Harus rutin mencek kesehatan. Menjaga makanan.

Kalau lagi sakit, seperti sekarang saya lagi sakit gigi, rasanya lebih sakit dari biasanya. Seluruh badan rasanya sakit.

Setelah suami saya meninggal, beruntung ada laki-laki yang tulus tetap mau menikah dengan saya. Meski ia tau saya mengidap HIV. Dengan suami kedua, kemudian saya melahirkan anak lagi.

Mungkin ada yang berpikir, ‘kalau mengidap HIV kenapa punya anak? kasihan nanti anaknya juga kena HIV.’

Saya tau saya seperti membawa virus mematikan untuk anak-anak saya kelak. Tapi saya manusia juga yang masih memiliki harapan. Saya tak pernah lelah berharap dan berdoa, anak-anak saya, keturunan saya bisa menjadi normal, tanpa HIV di tubuhnya.

Ya memang anak selanjutnya membawa HIV di tubuhnya. Tapi kemudian Tuhan menjawab doa saya. Anak saya yang terakhir, sama sekali tidak ada HIV di tubuhnya. Kita cek berkali-kali, anak kami yang kini sudah berusia 3 tahun bersih dari HIV!

Anak terakhir menjadi harapan hidup bagi saya dan suami. Berat kehidupan yang harus saya jalani, pengobatan rutin untuk saya dan anak saya, menjadi lebih terlecut dengan hadirnya anak terakhir.

Tak mudah untuk menjalani hidup dengan HIV di dalam tubuh. Ditambah harus mengurus anak yang juga mengidap HIV. Berat mengurus anak dan keluarga menjadi double. Mengurus diri sendiri dari HIV, mengurus anak dengan HIV, mengurus anak yang normal dan suami.

Kami merahasiakan tentang ini dari lingkungan tempat tinggal, keluarga suami saya, dan lingkungan sekolah anak-anak saya. Saya tidak mau ada dampak psikologis yang lebih menekan anak-anak saya lagi. Karena pernah ada seorang yang berterus terang ke sekolah bahwa anaknya mengidap HIV, anaknya langsung dikeluarkan dari sekolah.

Bagaimana dengan pemerintah? Alhamdulillah paling tidak dengan BPJS, KJS, semua pengobatan saya gratis. Cek darah gratis, obat-obatan gratis. Padahal mahal, Rp 400 ribu sekali berobat, bahkan bisa sampai Rp 800 ribu. Dikalikan 2, saya dan anak saya.

Apalagi sekarang untuk transportasi sudah mudah. Setelah punya kartu untuk Bus Transjakarta, saya hanya sekali naik bus dari rumah ke RS, dengan nyaman, ber-AC lagi. Kalau dulu sih sebelum saya punya kartu untuk naik Bus Transjakarta, saya harus 3 kali naik angkot, mana panas.

Bagaimana dengan keluarga saya? Keluarga saya tau tentang ini, tapi mereka tidak peduli bagaimana beratnya saya mengarungi kehidupan.

Hanya dengan para relawan dan aktivis pendamping kami ini kami merasa sangat diperhatikan. Makanya saya senang selalu hadir dalam kegiatan mereka. Sebelum kembali ke rumah, kembali ruwet kehidupan….

Kalideres, Jakarta

(Diceritakan Sumiati, bukan nama asli)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here