Her Story: Kesaksian Perempuan Korban Kekerasan Seksual

0
557
pixabay

Panggil aku Rizky. Masih mahasiswi tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi negeri. Bukan hanya namaku saja yang unisex, tapi wajahku juga. Banyak yang keliru mengenaliku sebagai laki-laki, padahal aku perempuan tulen. Bukan bermaksud sombong, tapi aku memang bisa menjadi tampan dan cantik sekaligus. Dalam keseharianku yang tomboy, sisi maskulinku lebih dominan. Orang-orang baru menyadari kecantikanku jika aku sudah berada di panggung sebagai dancer. Dengan bantuan wig dan sedikit polesan make up, aku bisa menjadi feminin dalam sekejap.

Hari-hariku terasa sedikit berubah ketika awal semester lalu aku menambahkan sehelai jilbab pada “seragam” kuliah yang didominasi kemeja dan celana jeans. Ucapan selamat karena telah “berhijrah” silih berganti kuterima, tak hanya dari teman sesama mahasiswa, namun juga dari dosen. Mereka memuji penampilanku. Aku terlihat jauh lebih manis dan santun sekarang, kata mereka. Aku berterima kasih, namun sesungguhnya tak peduli. Aku tahu persis, sebentar lagi pujian itu akan berbalik menjadi caci maki.

Benar saja. Tak butuh waktu lama memang. Saat mendapatiku melepas jilbab saat makan siang di sebuah gerai restoran fast food sepulang kuliah, mereka mulai bergunjing. Belum lagi fakta bahwa aku sama sekali tak meninggalkan kegiatan di club dance. Ucapan bernada miring mulai kuterima baik secara langsung maupun lewat orang lain terlebih dulu. Dari yang bernada menyayangkan paling santai, hingga yang menguliahiku soal “bagaimana menutup aurat yang benar dan seharusnya”. Bahkan ada lho yang ekstrem menuduhku hanya berhijab main-main dan melakukan penghinaan terhadap simbol agama.

Kututup telingaku dari semua itu. Kubiarkan mereka berkomentar dan berkata apa saja sesukanya. Aku tetap diriku. Berjilbab saat kuliah atau sepanjang bulan Ramadhan kemarin, namun juga melepasnya sesukaku. Aku melepasnya saat kurasa cuaca terlalu panas, aku melepasnya saat menari, aku bahkan melepasnya tanpa alasan khusus. Pokoknya kalau aku ingin lepas, maka kulepas saja.

Aku menulis dari komentar semua orang, bahkan mungkin dari kalian yang mungkin akan menghakimiku setelah membaca tulisan. Aku tak peduli. Sebab saat pertama memasang kain jilbab di kepalaku enam bulan yang lalu, aku memang tidak berniat menutup aurat seperti yang orang lain pikirkan. Aku bukan “berhijrah” menegakkan ajaran agama seperti yang dipikirkan orang-orang. Tidak. Sungguh bukan begitu niatku. Aku tak “se-suci” itu.

Aku memasang jilbab di kepalaku hanya untuk latihan. Ya, aku berlatih menjadikan diriku sendiri sebagai manusia seharusnya. Aku menyimpan rahasia terkait dosa besar yang kulakukan. Aku berdosa jauh lebih besar dibanding sekadar “mengumbar aurat”. Aku telah menyalahi kodrat sebagai seorang perempuan.

Sampai detik ini, aku belum sanggup mencintai seorang laki-laki. Pelecehan yang kualami dari ayahku sendiri di masa kecil membuatku kepahitan dengan kaum pria. Aku membencinya. Aku membenci semua laki-laki tanpa terkecuali. Aku hanya bernafsu pada sesama perempuan. Ya, aku memang lesbian. Aku dan pacarku sudah melakukan hal yang sangat jauh, dan lebih jauh dari sekadar hubungan terlarang. Tidak perlu lah kuceritakan bagaimana detailnya.

Meski begitu, aku tahu kalau yang kulakukan ini salah. Aku tahu Allah tak menghendaki aku hidup seperti ini. Aku ingin bertaubat. Aku sudah memutuskan hubungan dengan pacarku, namun menekan hasrat terhadap perempuan tak pernah semudah itu. Aku mungkin sudah tak berzinah secara fisik, tapi tidak dengan pikiranku. Untuk itu, aku sudah meminta bantuan profesional untuk menghilangkan traumaku terlebih lebih dahulu. Ya, aku pasien tetap sebuah klinik psikiatri saat ini.

Kembali ke soal jilbab, aku memang belum mantap mengenakannya seperti para ‘ukhti yang mungkin sudah mendapat hidayah.’ Aku berniat mengenakannya secara utuh dan sempurna, kelak, setelah aku sudah benar-benar bisa meninggalkan masa laluku yang penuh noda itu. Bila saat itu tiba, setidaknya aku bisa berhijab dengan tenang. Tanpa merasa diri ini munafik, tanpa merasa menutup aurat hanya untuk sekadar menutupi aib diri yang lebih besar, tanpa berharap pujian dari orang lain. Untuk itulah aku berlatih mulai sekarang, agar ketika aku benar-benar berhijab kelak, aku melakukannya dengan murni hanya karena Allah semata.

Mungkin yang kulakukan ini salah. Mungkin juga tidak berkenan di mata para pembaca. Namun bagiku yang sudah lelah dan hampir putus asa menjalani hidup seperti ini, menjilbab-i kepala pastilah tidak sesulit menjilbab hati. Mungkin aku akan terus digunjingkan sebagai perempuan yang berjilbab bongkar-pasang. Namun keyakinanku, Allah tidak buta melihat perjuanganku membasuh jejak-jejak noda masa lalu.

Kepada pembaca, aku ingin menyampaikan pesan. Berhentilah menilai sesamamu dari sehelai kain yang mereka kenakan. Kalian tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terbungkus dan terkubur di baliknya. Mereka yang memberiku selamat saat pertama kali melihatku berjilbab, akankah memberiku senyum dan pujian yang sama … saat tahu bahwa aku seorang lesbian?

Mereka yang mencaciku saat aku melepas jilbab, sama sekali tidak tahu kalau kata-kata tidak pantas itu, sama persis dengan yang diucapkan ayahku di masa lalu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here