Her Story: Potret Meraih Pendidikan Tinggi Anak Tukang Becak

1
2435

Penulis: Dee Rumah Kayu

Ini tentang teman putri sulungku, yang siang ini membuat mataku berkaca- kaca.

Ia teman kuliah putriku. Teman baik yang sejak hari-hari pertama masuk kuliah sudah berteman dekat. Mereka sering bikin tugas bersama dan belajar bersama.

Anak perempuan cerdas dan tangguh ini kuliah dengan beasiswa Bidikmisi. Ayahnya tukang becak, ibunya ibu rumah tangga yang sederhana.

Putriku dulu masuk perguruan tinggi tanpa testing. Temannya yang ini juga. Dan aku tahu, sangat tahu…, perjuangan seperti apa yang dilakukan putriku dan secemerlang apa nilai-nilainya hingga dia bisa mendapatkan satu kursi di PTN terkenal tanpa testing itu. Maka, bisa kubayangkan, temannya ini, yang pendidikan dan perekonomian orang tuanya terbatas, pasti sangat cerdas dan tangguh hingga dia bisa mendapatkan kursi di jurusan dan PTN yang sama dengan putriku.

Kedekatan kawannya ini kemudian berkembang bukan hanya dengan putriku tapi lalu menjadi dengan keluarga kami. Karena suatu hari putriku menghubungi aku, menanyakan apakah aku bisa membantu temannya ini.

“Uang beasiswanya telat turun, bu. Dia sampai sudah puasa karena tidak punya uang. Sekarang uang di dompetnya tinggal 20 ribu dan belum tahu kapan beasiswanya turun.”

Oh, Ya Allah. Perutku langsung sakit. Betul-betul terasa sakit secara harfiah mendengar apa yang diceritakan anakku. Terbayang olehku, kawannya itu, merantau sendirian jauh dari orang tua dan saudara dan sampai tak bisa makan seperti itu. Duh!

Kucari ATM terdekat saat itu juga dan kukirimkan sejumlah uang pada putriku, untuk diberikan pada temannya itu.

Begitulah. Lalu setelah itu, kawan putriku ini kerap kami ajak pada acara-acara keluarga. Termasuk tahun lalu, pada hari dia diwisuda, yang tanggalnya bertepatan dengan tanggal ulang tahun putra bungsuku, kami mengajak dia dan ibunya yang datang mengunjuginya di hari wisuda itu untuk pergi makan malam bersama.

Putri kami malah tidak hadir saat itu sebab dia sudah berangkat dan kuliah di Inggris.

Kami mengobrol. Ibu kawan putriku, ketika tahu bahwa putriku sendiri memperoleh beasiswa ke Inggris berkata bahwa sebetulnya putrinya sendiri, kawan anakku itu, juga ingin melanjutkan lagi kuliahnya. “Tapi harus nunggu dulu,” kata ibunya, “Nggak bisa langsung sekarang. Dia harus kerja. Adiknya lulus SMA tahun ini, kami tak bisa membiayai. Dia nanti mesti bantu biayai adiknya.”

Aku mengangguk memahami.

***

Dan siang ini, aku berkesempatan untuk chat sebentar dengan kawan anakku. Dia sudah kerja sekarang. Di sebuah ibukota provinsi yang terdekat dengan kota dimana rumah orang tuanya berada.

Adiknya, yang dulu diceritakan oleh ibunya itu, sudah kuliah, di PTN di dekat rumah keluarga mereka.

Dan aku sungguh tak bisa menahan airmataku tumpah saat kawan putriku ini mengatakan padaku bahwa dia akan datang nanti menghadiri wisuda putriku.

Iya, walau tahun lalu mereka berdua sidang tugas akhir dan lulus pada hari yg sama, namun karena putriku kuliah dulu setahun di Inggris, judisium dan wisudanya tertunda.

“Saya ingin ketemu,” kata kawan putriku tadi, “Pasti makin keren dia sekarang ya. Ingin ngobrol dan buat motivasi juga.”

Ah. Tumpahlah air mataku. Kupahami hasratnya, keinginannya. Dia juga ingin sekali mencari beasiswa dan kuliah ke luar negeri. Dengan kemampuannya, itu sebetulnya akan bisa diraih. Tapi seperti yang waktu itu dikatakan ibunya, saat ini dia belum bisa sebab mesti membantu keluarga untuk membiayai kuliah adiknya.

Hatiku mencelos saat dia mengomentari putriku “… pasti makin keren ya dia sekarang”. Ah nak, pikirku, kau juga keren. Keren sekali. Dengan beragam keterbatasan kau berhasil lulus dari fakultas teknik perguruan tinggi terkenal di negeri ini. Dan kini sedang membantu adikmu untuk juga sekolah tinggi.

Itu keren. Keren sekali.

Kudoakan semoga karir kawan putriku ini terus membaik, dan semoga suatu saat nanti dia akan bisa juga mencapai cita-citanya untuk sekolah lebih tinggi lagi.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here