HMI dan Remaja Masjid Jaga Natal di Jayapura

0
133

Suasana Natal di Kota Jayapura, Papua selalu meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Kalau ingin melihat wajah toleransi yang nyata, bukan sekedar slogan atau retorika, sekali-kali datanglah dan menikmati suasana natal di kota ini.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, semarak suasana natal di Kota Jayapura bisa dirasakan mulai akhir November, dimana lagu-lagu natal mulai dikumandangkan dan hiasan natal seperti pondok natal dan pohon natal menghiasi wajah kota.

Tidak ada yang merasa terganggu dengan aksesoris natal tersebut, bahkan hiasan natal yang di pasang di ruas jalan protokol dan sejumlah titik menambah keindahan kota. Kerlap-kerlip lampu di malam hari mempercantik wajah kota dan menghadirkan nuansa natal yang semakin terasa.

Pondok-pondok natal, baik yang berukuran besar maupun berukuran mini, dengan berbagai aksesorisnya  pun, terlihat di sejumlah sudut kota. Ada yang membuat pondok natal dari bambu, kayu dan gaba-gaba. Tak sedikit pula yang menghiasinya dengan lampu, spanduk ucapan selamat, maupun gambar palungan tempat Yesus dilahirkan. Bahkan, dari pondok natal acap kali lagu-lagu natal dikumandangkan melalui speaker yang dipasang.

“Pohon natal dan pondok natal ini bagus sekali, bikin suasana natal di Jayapura semakin terasa. Apalagi dari pondok natal, kita sering mendengar lagu natal diputar bebas. Sejauh ini saya merasa tidak ada yang terganggu dengan keberadaan pondok natal,” kata Lusia, warga Kotaraja.

Bahkan, tak sedikit pondok natal dan pohon natal yang dibangun warga, diikutkan dalam lomba natal yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Jayapura.

Pada puncak perayaan natal, yakni pada Ibadah Malam Kudus dan Ibadah Natal pagi, ribuan umat nasrani membanjiri berbagai gereja yang ada di Kota Jayapura. Di tengah kekhusukan umat beribadah, terlihat pemuda/remaja masjid, komunitas radio amatir, pramuka dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) membantu aparat kepolisian menjaga keamanan dan membantu mengatur lalu lintas.

Foto: Yulika Anastasia

Salah seorang pemuda, Ridwan, mengatakan baru sekali ini terlibat dalam pengamanan ibadah malam natal. “Saya ikut menjaga keamanan sebagai wujud toleransi antar umat beragama. Saya muslim tapi dengan senang hati ikut pengamanan ibadah natal. Semoga Papua selalu aman, damai dan menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama,” harapnya.

Wajah toleransi antar umat beragama di Jayapura pun, bukan hanya sebatas pada pengamanan jalannya ibadah. Mulai Natal hari pertama, dengan mudah anda akan melihat rombongan warga yang melakukan kunjungan ke rumah-rumah sanak saudara dan kerabat.

Open house pada hari natal, terlihat di banyak tempat, baik rumah pejabat, instansi maupun warga biasa. Tradisi berkunjung pada hari natal ini, warga Jayapura menyebutnya ‘peta’, yakni melakukan kunjungan dari rumah ke rumah sesuai dengan urutan target rumah yang akan dikunjungi, yang telah mereka tentukan sebelumnya.

Kunjungan Natal bukan hanya dilakukan oleh warga nasrani saja, namun umat muslim pun turut mengunjungi saudara, kerabat ataupun rekan mereka yang tengah merayakan Hari Raya Natal.

“Saya muslim, tapi setiap hari Natal tiba selalu rindu suasana Natal di Kota Jayapura. Di sana kita tidak pernah membeda-bedakan orang dari agamanya,” kenang Novia, warga Solo yang pernah bermukim di Kota Jayapura selama 7 tahun.

Foto: Yulika Anastasia

Yang unik dari tradisi open house ialah warga pada umumnya menyediakan minuman kaleng (sprite, fanta, coca-cola, dsb) untuk disuguhkan kepada tamu. Karena minuman kaleng inilah, muncul istilah ‘anak-anak kaleng’.

Anak-anak kaleng yang dimaksud ialah, rombongan bocah yang bersilaturahmi dan memberikan ucapan selamat natal kepada keluarga yang merayakan. Biasanya anak-anak ‘peta’ keliling kompleks, melakukan kunjungan dari rumah ke rumah, sambil membawa tas dengan harapan setiap keluarga yang dikunjungi memberikan sebuah minuman kaleng.

“Sewaktu masih kecil, saya bersama teman-teman suka keliling kompleks. Saya pergi dengan tas kosong, dan pulang tas full minuman kaleng,” cerita Fredi, pemuda kompleks Cigombong, sambil tertawa mengenang masa kecilnya.

Tradisi Natal di Jayapura memang unik. Natal dirayakan bukan hanya oleh umat nasrani semata, namun pada moment istimewa Hari Raya Natal, potret toleransi antar umat beragama juga ditunjukkan oleh warga lainnya.

“Damai perlu diperjuangkan. Kita membangun damai dalam kebersamaan dan keberagaman,” demikian khotbah Pastor dalam Misa Natal Pagi Gereja Katedral Jayapura. (YA).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here