Ibu dan Wacana Santunan Global

1
80
pixabay

“Bukanlah cita-cita seorang Kartini mendidik para wanita Indonesia melahirkan robot dari rahimnya. Bukan pula kelas pekerja sebagaimana dijelaskan Karl Marx dalam pemikirannya

Diungkapkan pendiri Forum Ekonomi Dunia, Klaus Schwab, dunia saat ini tengah menghadapi gempuran maha dahsyat bernama revolusi industri keempat. Dimana keberadaan tenaga kerja manusia mulai digusur oleh robot. Manusia tidak mampu mengimbangi kemajuan dalam artificial intelligence atau kecerdasan buatan, robotika, percetakan 3D, nanoteknologi dan bidang sains lainnya.

Dalam skala kebijakan pun para politisi kerap dianggap gagap dalam menelurkan kebijakan dan produk hukum. Sehingga mendorong badan-badan donor dunia seperti International Monetary Fund (IMF) dan World Bank menelurkan konsep Universal Basic Income (UBI).

Dalam konsep ini, negara memberikan santunan tunai cuma-cuma bagi seluruh warga yang berada di bawah garis kemiskinan. Sehingga ada jaminan pendapatan dasar tanpa syarat bagi seluruh masyarakat. Butuh kekuatan finansial besar untuk dapat menjalankan sistem ini. Baru beberapa negara maju telah melakukan ujicoba, seperti Inggris dan Skotlandia. Lantas, mampukah Indonesia mengadopsi sistem ini?

Mari kita membuat perhitungan kasar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2017, kategori penduduk miskin di Indonesia sebanyak 27,77 juta jiwa atau 10,64 persen dari total penduduk Indonesia. Titik tengah Upah Minimum Provinsi (UMP) Rp2,01juta. Jadi UBI per bulan sebesar Rp55,82T dan setahun Rp669,84T. Jumlah tersebut sudah mencapai sepertiga jumlah Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional Perubahan (APBNP) 2017.

Bila ditelisik lebih mendalam, akar kegagapan Indonesia bersumber pada kegagalan sistem pendidikan mencetak manusia yang handal di kancah internasional. Indonesia membutuhkan sosok man of future, sosok cendekia yang mampu melakukan terobosan dan inovasi. Kurikulum yang diterapkan saat ini mencetak tenaga ahli madya siap pakai. Justru golongan ini yang tengah terancam tergusur oleh robot. Ditambah lagi saat ini ekspansi tenaga kerja asing makin terasa.

Beberapa dekade lalu, Indonesia pernah memilikinya. Sebut saja sosok Baharudin Jusuf (BJ) Habibie. Mantan Direktur Teknik/Vice President di Messerschmitt-Bölkow-Blohm  Jerman ini mengantongi 46 paten di bidang kedirgantaraan.

Di sinilah peran penting seorang ibu dibutuhkan dalam mencetak kader masa depan bagi Tanah Air tercinta. Ibu memegang peranan penting dalam pembentukan karakter dan mindset seseorang. Ibu pula yang berperan lebih dalam menggali bakat dan minat anak, kemudian memilihkan sekolah serta mengatur jenjang pendidikan baginya.

Bila seorang ibu memilihkan sekolah jenjang pendidikan atas dan universitas yang masih memberikan porsi lebih terhadap ilmu filsafat dan ilmu agama, niscaya anak tersebut akan menjadi cendekia muda dengan segudang ide dan inovasi.

Saat ini banyak sekali anak yang sedari kecil sudah diperkenalkan dengan sekolah dan dijejali berbagai macam les. Anak usia dini sudah dituntut udah bisa membaca, menulis, berhitung bahkan mampu berbahasa asing. Padahal idealnya, dunia anak seusia mereka adalah dunia bermain. Sesuai dengan konsep pendidikan yang dirumuskan oleh Ki Hajar Dewantara dan diterapkan di Taman Siswa.


1 KOMENTAR

  1. Lanjutkan terus bakat alamiah n hobbymu menulis. Semoga kamu bisa menjadi penulis besar. Aamiin yra….
    Tulisan adalah jendela dunia dan banyak bermanfaat bagi pembaca. Doa mama sll menyertaimu…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here