Indonesia Krisis Bahan Candaan, Corona Dinilai sebagai Humor!

0
296
Diambil dari suara.com

Virus Corona masih menjadi isu hangat di berbagai belahan dunia. Perlahan-lahan, korban berjatuhan, bahkan sampai Eropa. Apabila dilihat dari peta, sangat jauh dari Cina. Hal ini menunjukkan betapa mengerikan wabah tersebut. Melintasi samudra, lalu mengancam nyawa banyak orang.

Berbagai penelitian mengenai hewan penyebar virus tersebut pun masih dilakukan. Mulai dari kelelawar sampai trenggiling diasumsikan sebagai kandidat terkuat. Bukan hanya itu, soal pengobatan pun belum terlalu mendapatkan titik terang. Ada seorang perawat di Cina sembuh dari Corona, tetapi belum terasa memberikan secercah harapan. Hal ini secara otomatis terbantah oleh pemberitaan mengenai jumlah korban sampai saat ini.

Urgensi dari virus Corona juga membuat gelisah kampus saya. Seorang teman lantas membagikan surat edaran dengan lima poin imbauan. Sudah cukup menunjukkan bukan bahwa fenomena ini tidak ada nilai humor sama sekali? Masyarakat harus bersikap lebih waspada sebagai pertahanan diri.

Sayang, di tengah kegentingan tersebut masih saja ada oknum tidak bertanggungjawab. Sebuah lagu dangdut berjudul Korona (Komunitas Rondo Merana) diproduksi. Sepenting itukah mengejar ketenaran dengan mengesampingkan kemanusiaan? Lebih-lebih, lucukah menjadikan sebuah musibah sebagai lelucon dengan kemasan lirik serta musik jenaka?

Anda tidak perlu berapi-api menyikapi karya menumpang tenar tersebut dengan sumpah serapah, malah akan semakin viral. Anda hanya harus melaporkan agar dihapus dari pihak bersangkutan. Hiburan memang perkara santai untuk membuat diri tetap waras dari kepenatan, tetapi bukan seperti ini juga!

Saya tidak bosan-bosan mengatakan bahwa “humanity is the best religion.” Kewajiban Anda di hadapan sesama manusia adalah menawarkan kebaikan. Urusan lain ibadah Anda, hanya Tuhan sang penilai. Dengan menjadikan virus Corona sebagai lelucon, berarti telah gagal dalam beragama di dunia ini.

Melucu adalah tindakan mulia lantaran dapat menghibur orang lain. Sayang sekali apabila dilakukan secara salah dengan mengorbankan kemanusiaan. Apakah itu harga setimpal untuk menembus sebuah harga viral? Anda memang terlihat kreatif dengan memanfaatkan fenomena terkini, tetapi Anda telah gagal menjadi manusia!

Saya penasaran, apakah si pembuat lagu itu memang pribadi jenaka? Kalau iya, tolong tanamkan bahwa tidak semua hal bisa ditertawakan. Anda perlu bersikap realistis. Tontonlah film thriller tentang orang-orang yang berusaha bertahan hidup dari serangan zombie. Rasakan ketegangan itu, sehingga tumbuh rasa empati pada diri Anda mengenai ketakutan akan kehilangan nyawa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here